Harga Minyak Dunia Stabil karena Stok AS Susut
Kamis, 17 September 2015 - 09:52 WIB
Harga Minyak Dunia Stabil karena Stok AS Susut
A
A
A
SINGAPURA - Harga minyak mentah dunia stabil pada awal perdagangan Kamis setelah stok minyak Amerika Serikat (AS) menyusut.
Sementara pedagang masih mengabaikan keputusan Federal Reserve terkait kenaikan suku bunga untuk kali pertama dalam hampir satu dekade.
Suku bunga AS (Fed rate) yang lebih tinggi kemungkinan akan menarik uang tunai dari pedagang uang, sehingga mengangkat dolar AS (USD). Itu kemungkinan akan menyebabkan minyak bearish dalam denominasi USD karena akan membuat bahan bakar lebih mahal bagi importir yang memegang mata uang lainnya.
Harga minyak mentah melonjak sebanyak 6% pada Rabu, ketika data Administrasi Informasi Energi (EIA) AS menunjukkan stok minyak mentah turun terbesar dalam tujuh bulan.
Minyak West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di USD47,15/barel pada pagi ini, hampir tidak berubah dari penutupan sebelumnya. Adapun minyak Brent juga mendatar di USD49,77/barel.
"Harga WTI naik paling tinggi bulan ini setelah EIA melaporkan stok tergelincir 2,1 juta barel pada pekan lalu karena jumlah operasi kilang meningkat untuk kali pertama sejak Juli. Biasanya, produksi minyak AS lambat selama September karena kilang melakukan perawatan," kata ANZ Bank, seperti dilansir dari Reuters, Kamis (17/9/2015).
Beberapa analis mengatakan pekan ini bahwa pasar minyak mungkin telah keluar dari tekanan setelah lebih dari satu tahun harga jatuh karena produsen mulai mengurangi produksi.
"Negara non-OPEC, seperti AS telah mencapai puncak produksinya dan mulai menurun karena pemotongan belanja modal dua digit yang mulai berdampak produksi," kata Bernstein Research.
Dia menambahkan bahwa Yaman, Meksiko, Malaysia dan China merupakan negara yang membatasi produksi. Diperkirakan pemangkasan produksi dari empat negara itu sebanyak 400 juta barel per hari (bph).
Harga minyak mentah AS dan Brent telah naik dalam beberapa pekan terakhir karena melemahnya perekonomian Asia serta meningkatnya produksi dari Afrika Barat serta Laut Utara. Ini telah mempersempit diskon WTI terhadap Brent hampir 70% sejak pertengahan Agustus sekitar USD2,20/barel.
Sementara pedagang masih mengabaikan keputusan Federal Reserve terkait kenaikan suku bunga untuk kali pertama dalam hampir satu dekade.
Suku bunga AS (Fed rate) yang lebih tinggi kemungkinan akan menarik uang tunai dari pedagang uang, sehingga mengangkat dolar AS (USD). Itu kemungkinan akan menyebabkan minyak bearish dalam denominasi USD karena akan membuat bahan bakar lebih mahal bagi importir yang memegang mata uang lainnya.
Harga minyak mentah melonjak sebanyak 6% pada Rabu, ketika data Administrasi Informasi Energi (EIA) AS menunjukkan stok minyak mentah turun terbesar dalam tujuh bulan.
Minyak West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di USD47,15/barel pada pagi ini, hampir tidak berubah dari penutupan sebelumnya. Adapun minyak Brent juga mendatar di USD49,77/barel.
"Harga WTI naik paling tinggi bulan ini setelah EIA melaporkan stok tergelincir 2,1 juta barel pada pekan lalu karena jumlah operasi kilang meningkat untuk kali pertama sejak Juli. Biasanya, produksi minyak AS lambat selama September karena kilang melakukan perawatan," kata ANZ Bank, seperti dilansir dari Reuters, Kamis (17/9/2015).
Beberapa analis mengatakan pekan ini bahwa pasar minyak mungkin telah keluar dari tekanan setelah lebih dari satu tahun harga jatuh karena produsen mulai mengurangi produksi.
"Negara non-OPEC, seperti AS telah mencapai puncak produksinya dan mulai menurun karena pemotongan belanja modal dua digit yang mulai berdampak produksi," kata Bernstein Research.
Dia menambahkan bahwa Yaman, Meksiko, Malaysia dan China merupakan negara yang membatasi produksi. Diperkirakan pemangkasan produksi dari empat negara itu sebanyak 400 juta barel per hari (bph).
Harga minyak mentah AS dan Brent telah naik dalam beberapa pekan terakhir karena melemahnya perekonomian Asia serta meningkatnya produksi dari Afrika Barat serta Laut Utara. Ini telah mempersempit diskon WTI terhadap Brent hampir 70% sejak pertengahan Agustus sekitar USD2,20/barel.
(rna)
Lihat Juga :