Ini Penyebab Cadangan Devisa RI Turun versi Ekonom
Selasa, 22 September 2015 - 14:25 WIB
Ini Penyebab Cadangan Devisa RI Turun versi Ekonom
A
A
A
JAKARTA - Pengamat ekonomi Destry Damayanti mengaku sudah menduga bahwa cadangan devisa (cadev) Indonesia hingga September pertengahan kemarin mengalami penurunan. Beberapa masalah juga turut menunjang berkurangnya cadev.
‎Diberitakan sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengakui bahwa cadev negara saat ini berada di posisi USD103 miliar. Angka ini menurun jika dibanding cadev akhir Agustus yang sebesar USD105,6 miliar.
"Tentunya, saya sudah expected ya sudah duga. Belakangan ini dalam kurun waktu Agustus-September, volatile market cukup besar, terus ada masalah supply dolar enggak ada, kemudian kondisi pasar panik, belum lagi ada utang jatuh tempo, sehingga kepanikan itu terjadi karena ada permintaan yang di luar perkiraan juga," katanya di Ritz Carlton Jakarta, Selasa (22/9/2015).
Mau tidak mau, lanjut dia, BI harus masuk ke market. Dan selama ini inflow yang terjadi masuk juga ke cadangan devisa, BI tidak bisa keluar dari perannya.
"BI mesti komitmen, mereka tidak bisa keluar jika kondisinya enggak mau semakin menjadi parah," ujarnya.
Destry menceritakan, dalam kondisi seperti ini kepanikan memang terjadi di mana-mana dan berapapun uang yang dikeluarkan Bank Sentral, tidak akan pernah bisa mengangkat nilai tukar rupiah.
"Karena semua ya balik lagi ke persepsi negatif. Nah sekarang, apa yang dilakukan BI saya rasa sudah cukup tepat. Jadi dia memang harus hati-hati," kata Destry.
Namun, sebetulnya ada komponen yang sifatnya short term yang bisa membantu, namun hanya ada di sektor perbankan, antara lain forex swap, term deposit valas.
"Itupun hanya di bank saja, makannya BI di kebutuhan September kan, dia mengeluarkan Sertifikat Bank Indonesia dan term deposit valas yang jangkanya lebih panjang. Dengan harapan dana itu bisa stay lebih lama di cadev. Kalau yang lainnya kan biasanya hanya satu bulanan. Jadi itu cara BI supaya bisa nahan agar cadev enggak terlalu turun dan dolar yang ada enggak keluar, tapi bisa ditahan di domestik," terang dia.
Namun, ke depan dengan kondisi ini, pihaknya pesimis bahwa Indonesia bisa berharap banyak dari ekspor dan rupiah tertekan sekali meskipun ada aktivitas ekonomi.
"Ya, kita enggak bisa berharap banyak. Data impor Agustus 2015 kelihatan pick up, jadi memang ada di satu sisi sign bahwa ekonomi ada aktivitas, tapi di sisi lain menimbulkan tekanan ke rupiah, dengan impor naik," terangnya.
Destry berharap, BI bisa lebih fokus pada kebijakan yang sifatnya ke supplai USD, jadi bukan hanya fokus pada demand. "Kalau dilihat selama ini demand-nya terus tuh, seperti pembatasan USD25 ribu, wajib rupiah, aturan hedging dan lainnya. Tapi di sisi supply-nya, sisi pasarnya, kalau BI mengharuskan hedging sebaiknya pasar juga harus dirupiahkan," pungkas Destry.
Baca Juga:
Cadev Turun, JK Instruksikan BI Genjot Ekspor
Cadangan Devisa RI Turun Jadi Rp1.491 Triliun
Gubernur BI Klaim Cadev Masih Baik meski Merosot
Ini Arahan JK agar Cadangan Devisa Tak Terus Merosot
‎Diberitakan sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengakui bahwa cadev negara saat ini berada di posisi USD103 miliar. Angka ini menurun jika dibanding cadev akhir Agustus yang sebesar USD105,6 miliar.
"Tentunya, saya sudah expected ya sudah duga. Belakangan ini dalam kurun waktu Agustus-September, volatile market cukup besar, terus ada masalah supply dolar enggak ada, kemudian kondisi pasar panik, belum lagi ada utang jatuh tempo, sehingga kepanikan itu terjadi karena ada permintaan yang di luar perkiraan juga," katanya di Ritz Carlton Jakarta, Selasa (22/9/2015).
Mau tidak mau, lanjut dia, BI harus masuk ke market. Dan selama ini inflow yang terjadi masuk juga ke cadangan devisa, BI tidak bisa keluar dari perannya.
"BI mesti komitmen, mereka tidak bisa keluar jika kondisinya enggak mau semakin menjadi parah," ujarnya.
Destry menceritakan, dalam kondisi seperti ini kepanikan memang terjadi di mana-mana dan berapapun uang yang dikeluarkan Bank Sentral, tidak akan pernah bisa mengangkat nilai tukar rupiah.
"Karena semua ya balik lagi ke persepsi negatif. Nah sekarang, apa yang dilakukan BI saya rasa sudah cukup tepat. Jadi dia memang harus hati-hati," kata Destry.
Namun, sebetulnya ada komponen yang sifatnya short term yang bisa membantu, namun hanya ada di sektor perbankan, antara lain forex swap, term deposit valas.
"Itupun hanya di bank saja, makannya BI di kebutuhan September kan, dia mengeluarkan Sertifikat Bank Indonesia dan term deposit valas yang jangkanya lebih panjang. Dengan harapan dana itu bisa stay lebih lama di cadev. Kalau yang lainnya kan biasanya hanya satu bulanan. Jadi itu cara BI supaya bisa nahan agar cadev enggak terlalu turun dan dolar yang ada enggak keluar, tapi bisa ditahan di domestik," terang dia.
Namun, ke depan dengan kondisi ini, pihaknya pesimis bahwa Indonesia bisa berharap banyak dari ekspor dan rupiah tertekan sekali meskipun ada aktivitas ekonomi.
"Ya, kita enggak bisa berharap banyak. Data impor Agustus 2015 kelihatan pick up, jadi memang ada di satu sisi sign bahwa ekonomi ada aktivitas, tapi di sisi lain menimbulkan tekanan ke rupiah, dengan impor naik," terangnya.
Destry berharap, BI bisa lebih fokus pada kebijakan yang sifatnya ke supplai USD, jadi bukan hanya fokus pada demand. "Kalau dilihat selama ini demand-nya terus tuh, seperti pembatasan USD25 ribu, wajib rupiah, aturan hedging dan lainnya. Tapi di sisi supply-nya, sisi pasarnya, kalau BI mengharuskan hedging sebaiknya pasar juga harus dirupiahkan," pungkas Destry.
Baca Juga:
Cadev Turun, JK Instruksikan BI Genjot Ekspor
Cadangan Devisa RI Turun Jadi Rp1.491 Triliun
Gubernur BI Klaim Cadev Masih Baik meski Merosot
Ini Arahan JK agar Cadangan Devisa Tak Terus Merosot
(izz)
Lihat Juga :