Rupiah Menuju Penurunan Mingguan Tertajam Sejak 2013
Jum'at, 25 September 2015 - 15:57 WIB
Rupiah Menuju Penurunan Mingguan Tertajam Sejak 2013
A
A
A
JAKARTA - Rupiah menuju penurunan mingguan tertajam dalam hampir dua tahun atau sejak 2013 karena keluarnya dana asing dari pasar saham di tengah prospek memburukanya pertumbuhan ekonomi Indonesia ditambah Amerika Serikat (AS) yang akan menaikkan suku bunga pada tahun ini.
Mata uang Indonesia turun 2,1%, terbesar sejak November 2013 menjadi Rp14.690/USD pada pukul 09.46 WIB pagi tadi. Sementara rupiah turun 0,3% pada awal perdagangan di level Rp14.710/USD, level terlemah sejak Juli 1998.
Pasar keuangan ditutup pada Kamis untuk memperingati Idul Adha. Rupiah turun 9,2% sepanjang kuartal ini, performa terburuk di Asia setelah ringgit Malaysia.
Investor luar negeri menarik dananya sebesar USD104 juta dari pasar saham Indonesia dalam tiga hari hingga Rabu, arus keluar selama 11 minggu.
Pemerintah memangkas pertumbuhan ekonomi Indoensia pada 2016 dari 5,5% menajdi 5,3% pada hari Selasa. Sementara USD naik mendekati level tertinggi enam bulan setelah Gubernur Federal Reserve Janet Yellen mengatakan pada hari Kamis akan menaikkan suku bunga pada tahun 2015.
"Kami melihat arus modal keluar terus-menerus dari pasar saham karena pertumbuhan diperkirakan tetap lemah," kata ahli strategi mata uang di Australia & New Zealand Banking Group Ltd Irene Cheung, , seperti dikutip dari Bloomberg, Jumat (25/9/2015).
Menurut dia, yang akan menahan modal keluar adalah jika pemerintah memiliki langkah tegas untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi domestik.
Di sisi lain, aksi jual pada ringgit Malaysia , yang merupakan mata uang dengan kinerja terburuk di dunia dapat berlanjut lantaran goyahnya fundamental ekonomi ditambah krisis politik di negara itu.
Ringgit telah jatuh sekitar 40% sepanjang tahun lalu, dengan dolar Amerika Serikat (AS) berada sekitar 4,34 ringgit pada hari Kamis. Itu posisi ringgit terlemah terhadap USD sejak akhir 1997, di level 4,88/USD.
"Masih ada risiko penurunan yang signifikan bahkan setelah koreksi tajam pada ringgit," kata analis di Merrill Lynch Hak Bin Chua.
Mata uang Indonesia turun 2,1%, terbesar sejak November 2013 menjadi Rp14.690/USD pada pukul 09.46 WIB pagi tadi. Sementara rupiah turun 0,3% pada awal perdagangan di level Rp14.710/USD, level terlemah sejak Juli 1998.
Pasar keuangan ditutup pada Kamis untuk memperingati Idul Adha. Rupiah turun 9,2% sepanjang kuartal ini, performa terburuk di Asia setelah ringgit Malaysia.
Investor luar negeri menarik dananya sebesar USD104 juta dari pasar saham Indonesia dalam tiga hari hingga Rabu, arus keluar selama 11 minggu.
Pemerintah memangkas pertumbuhan ekonomi Indoensia pada 2016 dari 5,5% menajdi 5,3% pada hari Selasa. Sementara USD naik mendekati level tertinggi enam bulan setelah Gubernur Federal Reserve Janet Yellen mengatakan pada hari Kamis akan menaikkan suku bunga pada tahun 2015.
"Kami melihat arus modal keluar terus-menerus dari pasar saham karena pertumbuhan diperkirakan tetap lemah," kata ahli strategi mata uang di Australia & New Zealand Banking Group Ltd Irene Cheung, , seperti dikutip dari Bloomberg, Jumat (25/9/2015).
Menurut dia, yang akan menahan modal keluar adalah jika pemerintah memiliki langkah tegas untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi domestik.
Di sisi lain, aksi jual pada ringgit Malaysia , yang merupakan mata uang dengan kinerja terburuk di dunia dapat berlanjut lantaran goyahnya fundamental ekonomi ditambah krisis politik di negara itu.
Ringgit telah jatuh sekitar 40% sepanjang tahun lalu, dengan dolar Amerika Serikat (AS) berada sekitar 4,34 ringgit pada hari Kamis. Itu posisi ringgit terlemah terhadap USD sejak akhir 1997, di level 4,88/USD.
"Masih ada risiko penurunan yang signifikan bahkan setelah koreksi tajam pada ringgit," kata analis di Merrill Lynch Hak Bin Chua.
(rna)