Yuan Mundur dari Level Terkuat Sejak Devaluasi

Senin, 02 November 2015 - 11:21 WIB
Yuan Mundur dari Level...
Yuan Mundur dari Level Terkuat Sejak Devaluasi
A A A
SHANGHAI - Yuan China mundur dari level terkuat sejak melakukan devaluasi pada 11 Agustus karena kenaikan yuan pada akhir pekan lalu dipandang berlebihan di tengah masih terkontraksinya data manufaktur.

Yuan melemah 0,32% menjadi 6,3378/USD pada pukul 11.35 waktu Shanghai. Sementara yuan pada Jumat lalu naik 0,62%, paling tinggi dalam satu dekade dan diperdagangkan setinggi 6,3171.

Hal ini mendorong Bank Rakyat China (PBOC) meningkatkan suku bunga acuan yuan pada Senin sebesar 0,5%, lompatan terbesar sejak Juli 2005 ketika China mengakhiri pematokan USD dan mengatakan akan mengelola nilai tukar terhadap sekeranjang mata uang.

"Orang-orang berpikir bahwa langkah Jumat berlebihan. Kami memiliki pandangan yuan masih menghadapi tekanan dan saya pikir itu masih pandangan pasar," kata ahli strategi mata uang senior di HSBC Holdings Plc Ju Wang, seperti dilansir dari Bloomberg, Senin (2/11/2015).

China telah mendukung nilai tukar sejak devaluasi dengan mempromosikan penggunaan mata uangnya di global dan mendorong mata uang untuk masuk dalam keranjang mata uang (SDR) Dana Moneter Internasional (IMF).

Yuan melonjak pada Jumat karena bank sentral mengatakan akan mempertimbangkan program percobaan yang memungkinkan individu di zona perdagangan bebas Shanghai bisa langsung membeli aset di luar negeri dan juga obligasi berdenominasi yuan.

Yuan diperbolehkan menyimpang dari tingkat referensi PBOC maksimal 2% di Shanghai dan metodologi yang digunakan untuk menentukan penetapan yang diatur dekat level penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Di pasar offshore Hong Kong, di mana mata uang tersebut diperdagangkan secara bebas, nilai tukar jatuh 0,33% pada hari Senin setelah menguat 1,2% pada pekan lalu.

Biro Statistik Nasional China menunjukkan bahwa manufaktur China mengalami kontraksi untuk bulan ketiga pada Oktober. Indeks itu berada di 49,8, yang menandai kontraksi. Sementara data manufaktur dari Caixin dan Markit Economics adalah 48,3.

Baca: Sektor Manufaktur China Masih Alami Konstraksi

"PBOC jelas ingin melihat yuan stabil atau kuat sebelum IMF mengumumkan keputusannya mengenai keranjang SDR," kata analis valuta asing di Bank of East Asia Ltd Kenix Lai.

Menurut dia, bank sentral kemungkinan akan terus melakukan intervensi di pasar valuta asing pekan ini untuk menopang yuan, membuat dampak data ekonomi seperti faktor manufaktur kurang signifikan mendorong mata uang pada pekan ini.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Ekonomi China Pulih,...
Ekonomi China Pulih, Tumbuh 4,9 Persen Kuartal III 2020
Krisis Ekonomi China...
Krisis Ekonomi China Pengaruhi Ekspor Impor Dalam Negeri
Gelombang Covid-19 Kembali...
Gelombang Covid-19 Kembali Hantam Ekonomi Tiongkok
Menteri Keuangan Waspadai...
Menteri Keuangan Waspadai Situasi Kontraksi Ekonomi China
Momen Unik saat Presiden...
Momen Unik saat Presiden Prabowo Bicara Bahasa Tiongkok di Beijing
China Rebound, Bidik...
China Rebound, Bidik Pertumbuhan Ekonomi di Atas 6%
Berita Terkini
Dasco Panggil Menkeu...
Dasco Panggil Menkeu dan Gubernur BI: Evaluasi Perkembangan Ekonomi
59 menit yang lalu
Lompatan Besar Transportasi...
Lompatan Besar Transportasi Publik Jakarta: Terbaik Kedua di ASEAN, Posisi ke-27 Dunia
3 jam yang lalu
IHSG Sepekan Ambruk...
IHSG Sepekan Ambruk 8,69%, Market Cap Menyusut Jadi Rp9.807 Triliun
4 jam yang lalu
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
14 jam yang lalu
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
14 jam yang lalu
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
15 jam yang lalu
Infografis
7 Perang Besar di Selat...
7 Perang Besar di Selat Malaka, dari Jalur Rempah hingga Medan Tempur Kekuatan Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved