Proyek Masela Telat, RI Kehilangan Pendapatan Rp54 Triliun
Rabu, 04 November 2015 - 15:30 WIB
Proyek Masela Telat, RI Kehilangan Pendapatan Rp54 Triliun
A
A
A
JAKARTA - Pemerintah Indonesia diperkirakan akan kehilangan potensi pendapatan (opportunity loss) sebesar USD4 miliar atau sekitar Rp54,4 triliun (kurs Rp13.600/USD) setiap tahun atas keterlambatan penyelesaian proyek pengembangan lapangan gas Abadi, Blok Masela di lepas pantai Maluku.
Mantan Deputi Pengembangan SKK Migas Aussie Gautama mengatakan, polemik berkepanjangan atas pemilihan opsi skema pengembangan gas dari lapangan Abadi dipastikan membuat proyek gas ini akan telat diselesaikan.
Padahal sesuai rencana, pengolahan gas laut/FLNG Abadi mulai beroperasi (onstream) pada 2024 dan menghasilkan gas sebanyak 1.200 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) dan kondensat 24.000 barel per hari (bph), yang akan menghasilkan sekitar USD4 miliar/tahun.
"Artinya, setiap keterlambatan satu tahun penyelesaian proyek Masela maka pemerintah Indonesia akan kehilangan potensi pendapatan sebesar USD4 miliar. Padahal negara tidak mengeluarkan uang sepeser pun," kata dia di Jakarta, Rabu (4/11/2015).
Menurut Staf Ahli Direktur Utama Pertamina tersebut, Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) pengembang Blok Masela sebagai kontraktor kategori baik. Dalam catatan SKK Migas tahun 1998, Inpex menang tender Blok Masela dan pada 1999 Inpex langsung bekerja dengan melakukan survei seismik, kemudian pada akhir 2000 langsung melakukan pengeboran eksplorasi pertama di Sumur Abadi-1.
"Hanya untuk program pengeboran eksplorasi saja Inpex telah menghabiskan modal lebih dari USD100 juta," kata dia.
(Baca: Gas Masela Diprioritaskan untuk Kebutuhan Domestik)
Dia berujar, pada dasarnya yang dilakukan oleh KKKS harus mendapat persetujuan dari SKK Migas. Ketika Inpex diminta untuk melakukan studi untuk FLNG kapasitas 2,5 juta ton per tahun (MTPA), Inpex telah menghabiskan biaya sebesar USD270 juta.
"Dana itu tidak bisa di-cost recovery karena studi itu tidak dimanfaatkan. Kalau itu di-cost recovery maka saya, yang ketika itu masih Deputi di SKK Migas bisa masuk penjara. USD270 juta itu hilang begitu saja karena memang FEED (Front End Engineering and Design) itu tidak akan digunakan. Yang akan digunakan nantinya adalah FEED untuk kilang FLNG berkapasitas 7,5 MTPA," tutur Aussie.
Sementara, Aussie menambahkan, untuk melakukan kajian apakah akan menggunakan skema pengolahan gas terapung floating LNG atau kilang darat (land base LNG) Inpex dan Shell mengerjakannya selama dua tahun, membentuk dua tim kerja dan menghabiskan 100.000 jam kerja. Artinya, Inpex telah membuktikan bahwa dia adalah operator yang serius bekerja.
"Mereka sudah melihat semua aspek. Kalau opsinya kilang LNG di darat, maka harus membangun tiga unit instalasi yang rumit, yaitu FPSO (floating production storage and offloading), pipa gas bawah laut sepanjang 600 kilometer dan kilang LNG-nya sendiri. Sementara kalau kilang LNG di laut FLNG), maka hanya membangun satu unit FLNG saja," pungkas Aussie.
Mantan Deputi Pengembangan SKK Migas Aussie Gautama mengatakan, polemik berkepanjangan atas pemilihan opsi skema pengembangan gas dari lapangan Abadi dipastikan membuat proyek gas ini akan telat diselesaikan.
Padahal sesuai rencana, pengolahan gas laut/FLNG Abadi mulai beroperasi (onstream) pada 2024 dan menghasilkan gas sebanyak 1.200 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) dan kondensat 24.000 barel per hari (bph), yang akan menghasilkan sekitar USD4 miliar/tahun.
"Artinya, setiap keterlambatan satu tahun penyelesaian proyek Masela maka pemerintah Indonesia akan kehilangan potensi pendapatan sebesar USD4 miliar. Padahal negara tidak mengeluarkan uang sepeser pun," kata dia di Jakarta, Rabu (4/11/2015).
Menurut Staf Ahli Direktur Utama Pertamina tersebut, Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) pengembang Blok Masela sebagai kontraktor kategori baik. Dalam catatan SKK Migas tahun 1998, Inpex menang tender Blok Masela dan pada 1999 Inpex langsung bekerja dengan melakukan survei seismik, kemudian pada akhir 2000 langsung melakukan pengeboran eksplorasi pertama di Sumur Abadi-1.
"Hanya untuk program pengeboran eksplorasi saja Inpex telah menghabiskan modal lebih dari USD100 juta," kata dia.
(Baca: Gas Masela Diprioritaskan untuk Kebutuhan Domestik)
Dia berujar, pada dasarnya yang dilakukan oleh KKKS harus mendapat persetujuan dari SKK Migas. Ketika Inpex diminta untuk melakukan studi untuk FLNG kapasitas 2,5 juta ton per tahun (MTPA), Inpex telah menghabiskan biaya sebesar USD270 juta.
"Dana itu tidak bisa di-cost recovery karena studi itu tidak dimanfaatkan. Kalau itu di-cost recovery maka saya, yang ketika itu masih Deputi di SKK Migas bisa masuk penjara. USD270 juta itu hilang begitu saja karena memang FEED (Front End Engineering and Design) itu tidak akan digunakan. Yang akan digunakan nantinya adalah FEED untuk kilang FLNG berkapasitas 7,5 MTPA," tutur Aussie.
Sementara, Aussie menambahkan, untuk melakukan kajian apakah akan menggunakan skema pengolahan gas terapung floating LNG atau kilang darat (land base LNG) Inpex dan Shell mengerjakannya selama dua tahun, membentuk dua tim kerja dan menghabiskan 100.000 jam kerja. Artinya, Inpex telah membuktikan bahwa dia adalah operator yang serius bekerja.
"Mereka sudah melihat semua aspek. Kalau opsinya kilang LNG di darat, maka harus membangun tiga unit instalasi yang rumit, yaitu FPSO (floating production storage and offloading), pipa gas bawah laut sepanjang 600 kilometer dan kilang LNG-nya sendiri. Sementara kalau kilang LNG di laut FLNG), maka hanya membangun satu unit FLNG saja," pungkas Aussie.
(rna)
Lihat Juga :