Rupiah Pekan Depan Diramal Melemah
Minggu, 06 Desember 2015 - 12:12 WIB
Rupiah Pekan Depan Diramal Melemah
A
A
A
JAKARTA - Analis Investa Saran Mandiri Hans Kwee meramal laju rupiah terhadap dolar Amerika Serikat USD) pada pekan depan bergerak melemah. Hal ini akibat pasar menanti keputusan Bank Sentral AS (The Fed) yang akan menaikkan suku bunga acuan bulan ini.
Hans menjelaskan, pasar sudah menanti hal itu, sehingga pergerakan nilai tukar rupiah akan cenderung melemah secara konsolidasi sepekan.
"Rupiah kalau saya lihat pasar sudah menanti Fed rate, jadi pasar cenderung konsolidasi berpeluang melemah karena tidak banyak sentimen yang berarti," ujarnya, saat dihubungi Sindonews di Jakarta, Minggu (6/12/2015).
Dia memperkirakan rupiah akan bergerak pada rentang support Rp13.600-Rp13.375/USD dan resistance Rp13.875-Rp13.900/USD.
Sentimen dari luar negeri lainnya, kata Hans, masih berasal dari Amerika Serikat, yaitu data tenaga kerja dan manufaktur yang sudah dirilis dengan hasil baik.
Akibatnya, banyak yang menyebutkan periode yang tepat guna menaikkan Fed rate ada di akhir tahun ini. Di sisi lain, dari Eropa tidak terlalu banyak ekspektasi dan sentimen positif.
"Kalau Tiongkok (China) masih ada perlambatan ekonomi dan yuan masuk ke mata uang internasional jadi sentimen tetap dari The Fed," jelasnya.
Dari dalam negeri, Hans menyebutkan, kemungkinan Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuannya (BI rate) juga bakal menjadi sentimen bagi pergerakan rupiah.
"Ada BI rate. Memang pasar ekspektasi BI rate turun dan kemungkinan akan berubah," tandasnya.
Hans menjelaskan, pasar sudah menanti hal itu, sehingga pergerakan nilai tukar rupiah akan cenderung melemah secara konsolidasi sepekan.
"Rupiah kalau saya lihat pasar sudah menanti Fed rate, jadi pasar cenderung konsolidasi berpeluang melemah karena tidak banyak sentimen yang berarti," ujarnya, saat dihubungi Sindonews di Jakarta, Minggu (6/12/2015).
Dia memperkirakan rupiah akan bergerak pada rentang support Rp13.600-Rp13.375/USD dan resistance Rp13.875-Rp13.900/USD.
Sentimen dari luar negeri lainnya, kata Hans, masih berasal dari Amerika Serikat, yaitu data tenaga kerja dan manufaktur yang sudah dirilis dengan hasil baik.
Akibatnya, banyak yang menyebutkan periode yang tepat guna menaikkan Fed rate ada di akhir tahun ini. Di sisi lain, dari Eropa tidak terlalu banyak ekspektasi dan sentimen positif.
"Kalau Tiongkok (China) masih ada perlambatan ekonomi dan yuan masuk ke mata uang internasional jadi sentimen tetap dari The Fed," jelasnya.
Dari dalam negeri, Hans menyebutkan, kemungkinan Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuannya (BI rate) juga bakal menjadi sentimen bagi pergerakan rupiah.
"Ada BI rate. Memang pasar ekspektasi BI rate turun dan kemungkinan akan berubah," tandasnya.
(dmd)