Menkeu Akui Ekonomi RI Tahun Ini Kurang Cerah
Senin, 07 Desember 2015 - 12:04 WIB
Menkeu Akui Ekonomi RI Tahun Ini Kurang Cerah
A
A
A
JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Brodjonegoro mengakui ekonomi Indonesia sepanjang tahun ini kurang cerah dari biasanya. Mendung yang menutupi cerah tersebut berasal dari kondisi-kondisi global dan domestik.
"Jadi 2015 saya katakan kurang cerah ya. Mendungnya dari kondisi global dan dampaknya ke kita," kata Bambang dalam sambutannya di Investor Gathering 2015 di Gedung Dhanapala Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (7/12/2015).
Menurutnya, saat ini di tengah ekonomi Indonesia yang kurang cerah, Indonesia masih sangat butuh pembiayaan. Kebutuhan pembiayaan 2016 hitungannya Rp605 triliun (grosnya). Ada juga yang nett dan itu pinjaman baru untuk defisit 2016 dan untuk PMN serta refinancing.
"Inilah sebabnya kenapa kita masih butuh pembiayaan. Kalau dikaitkan dengan defisit 2016, kondisi 2016 lebih banyak keoptimisan dibanding 2015. Tapi kita berada di kondisi global yang tidak pasti," jelas dia.
Misalny kenaikan rencana Fed Rate yang sudah di-price-in di pasar mata uang berbagai negara, tapi kenaikannya kemungkinan Desember 2015. Kedua, perlambatan ekonomi China, yang sudah ada polanya sejak tahun lalu tapi di bawah 7%, sangat berat.
"Kita enggak bisa katakan 2016 pasti lebih prospektif dibanding 2015 meski ada potensi lebih baik. Tapi kita harus tetap perhitungkan. Terus perlambatan China karena bukan hanya perlambatan tapi perubahan paradigma, perubahan struktural ekonomi China. Jadi akan susah tumbuh 10%," pungkasnya.
"Jadi 2015 saya katakan kurang cerah ya. Mendungnya dari kondisi global dan dampaknya ke kita," kata Bambang dalam sambutannya di Investor Gathering 2015 di Gedung Dhanapala Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (7/12/2015).
Menurutnya, saat ini di tengah ekonomi Indonesia yang kurang cerah, Indonesia masih sangat butuh pembiayaan. Kebutuhan pembiayaan 2016 hitungannya Rp605 triliun (grosnya). Ada juga yang nett dan itu pinjaman baru untuk defisit 2016 dan untuk PMN serta refinancing.
"Inilah sebabnya kenapa kita masih butuh pembiayaan. Kalau dikaitkan dengan defisit 2016, kondisi 2016 lebih banyak keoptimisan dibanding 2015. Tapi kita berada di kondisi global yang tidak pasti," jelas dia.
Misalny kenaikan rencana Fed Rate yang sudah di-price-in di pasar mata uang berbagai negara, tapi kenaikannya kemungkinan Desember 2015. Kedua, perlambatan ekonomi China, yang sudah ada polanya sejak tahun lalu tapi di bawah 7%, sangat berat.
"Kita enggak bisa katakan 2016 pasti lebih prospektif dibanding 2015 meski ada potensi lebih baik. Tapi kita harus tetap perhitungkan. Terus perlambatan China karena bukan hanya perlambatan tapi perubahan paradigma, perubahan struktural ekonomi China. Jadi akan susah tumbuh 10%," pungkasnya.
(izz)
Lihat Juga :