Mewaspadai Efek Pelemahan Yuan China ke Rupiah Pekan Depan
Sabtu, 09 Januari 2016 - 11:48 WIB
Mewaspadai Efek Pelemahan Yuan China ke Rupiah Pekan Depan
A
A
A
JAKARTA - Chief Economics Asian Development Bank (ADB) for Indonesia Edimon Ginting, mengatakan dampak dari pelemahan ekonomi China yang lagi-lagi terjadi bahkan indeks manufaktur mereka menurun, sudah di ajust oleh Indonesia dan negara lain sejak beberapa waktu sebelumnya. Menurutnya yang harus dikhawatirkan malah kondisi yuan China.
Dia menerangkan saat Yuan anjlok atau terjadi devaluasi, dampaknya pasti akan ke mata uang negara berkembang termasuk Indonesia. Ini dibuktikan dengan rupiah yang mengalami fluktuasi kala yuan China juga tak stabil.
"Sebetulnya dampak China sudah cukup diantisipasi. Kita sudah cukup ajust juga untuk dampak industri dan sektor rill lainnya. Tapi yang lebih harus banyak dipikirkan, adalah dampak dari segi mata uang. Yuan tertekan sekarang, dan itu berdampak ke negara-negara berkembang seperti kita," jelasnya kepada Sindonews di Jakarta, Sabtu (9/1/2015)
Namun demikian, Dia yakin bahwa China juga akan menjaga nilai tukar mata uangnya lebih baik. Pemerintah China tentu menginginkan yuan bisa stabil di angka yang semestinya tanpa harus melakukan devaluasi.
"Mereka juga ingin yuan stabil. Itu yang lebih bisa untuk dikhawatirkan orang. Kalau dampak di sektor riil karena sektor manufakturnya menurun, kita sudah pasti mengantisipasi. Begitupun saat China slow down, kita sudah bisa antisipasi," lanjutnya.
Menurutnya China bisa melakukan kenaikan ekspor sebetulnya tanpa harus melakukan devaluasi terhadap yuan. Jadi pemerintah China diterangkan olehnya memang sedang memanage betul soal pelemahan global ini.
"Jadi yang membuat yuan melemah itu, mereka sudah mengevaluasi dan memanage betul. Mereka juga bisa melakukan eskpor tanpa harus mendevaluasi yuan. Slow down itu kan juga bagian dari ekonomi China yang nanti buat kedepannya akan semakin maju," pungkasnya.
Dia menerangkan saat Yuan anjlok atau terjadi devaluasi, dampaknya pasti akan ke mata uang negara berkembang termasuk Indonesia. Ini dibuktikan dengan rupiah yang mengalami fluktuasi kala yuan China juga tak stabil.
"Sebetulnya dampak China sudah cukup diantisipasi. Kita sudah cukup ajust juga untuk dampak industri dan sektor rill lainnya. Tapi yang lebih harus banyak dipikirkan, adalah dampak dari segi mata uang. Yuan tertekan sekarang, dan itu berdampak ke negara-negara berkembang seperti kita," jelasnya kepada Sindonews di Jakarta, Sabtu (9/1/2015)
Namun demikian, Dia yakin bahwa China juga akan menjaga nilai tukar mata uangnya lebih baik. Pemerintah China tentu menginginkan yuan bisa stabil di angka yang semestinya tanpa harus melakukan devaluasi.
"Mereka juga ingin yuan stabil. Itu yang lebih bisa untuk dikhawatirkan orang. Kalau dampak di sektor riil karena sektor manufakturnya menurun, kita sudah pasti mengantisipasi. Begitupun saat China slow down, kita sudah bisa antisipasi," lanjutnya.
Menurutnya China bisa melakukan kenaikan ekspor sebetulnya tanpa harus melakukan devaluasi terhadap yuan. Jadi pemerintah China diterangkan olehnya memang sedang memanage betul soal pelemahan global ini.
"Jadi yang membuat yuan melemah itu, mereka sudah mengevaluasi dan memanage betul. Mereka juga bisa melakukan eskpor tanpa harus mendevaluasi yuan. Slow down itu kan juga bagian dari ekonomi China yang nanti buat kedepannya akan semakin maju," pungkasnya.
(akr)
Lihat Juga :