Ketidakpastian Mereda, BI Prediksi Ekonomi Global Pulih Terbatas
Kamis, 14 Januari 2016 - 15:48 WIB
Ketidakpastian Mereda, BI Prediksi Ekonomi Global Pulih Terbatas
A
A
A
JAKARTA - Kepala Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Tirta Segara mengatakan, ketidakpastian di pasar keuangan global mereda setelah kenaikan Fed Rate (suku bunga bank sentral Amerika Serikat), meski begitu menurutnya pemulihan ekonomi global diperkirakan masih terbatas.
Dia menerangkan kenaikan Fed Rate pada 17 Desember 2015 lalu yang telah diantisipasi pasar serta pernyataan The Fed bahwa normalisasi akan dilakukan secara gradual dan terbatas, faktanya tidak menimbulkan gejolak di pasar keuangan global.
"Tak hanya kenaikan Fed Rate, harga komoditas global masih terus menurun, termasuk harga minyak dunia. Perbaikan ekonomi AS masih tertahan, sejalan dengan masih lemahnya indikator penjualan eceran dan personal expenditure, serta masih terkontraksinya sektor manufaktur," jelasnya di Gedung BI, Jakarta, Kamis (14/1/2016)
Diprediksi olehnya pemulihan ekonomi Eropa terus berlanjut didorong oleh perbaikan permintaan domestik, meskipun belum mampu meningkatkan inflasi yang masih rendah. Sedangkan ekonomi Jepang diperkirakan masih lemah seiring dengan konsumsi yang terus menurun.
"Di sisi lain, perekonomian China diperkirakan masih melambat, di tengah berbagai upaya stimulus. Baik melalui kebijakan moneter dan fiskal, serta reformasi di sisi penawaran," lanjutnya.
Reaksi pasar terhadap perlambatan ekonomi dan konsistensi dalam upaya liberalisasi pasar keuangan di China, menurutnya menimbulkan tekanan di pasar saham. "Ke depan, risiko terkait perlambatan ekonomi China dan terus menurunnya harga komoditas global perlu dicermati," pungkasnya.
Dia menerangkan kenaikan Fed Rate pada 17 Desember 2015 lalu yang telah diantisipasi pasar serta pernyataan The Fed bahwa normalisasi akan dilakukan secara gradual dan terbatas, faktanya tidak menimbulkan gejolak di pasar keuangan global.
"Tak hanya kenaikan Fed Rate, harga komoditas global masih terus menurun, termasuk harga minyak dunia. Perbaikan ekonomi AS masih tertahan, sejalan dengan masih lemahnya indikator penjualan eceran dan personal expenditure, serta masih terkontraksinya sektor manufaktur," jelasnya di Gedung BI, Jakarta, Kamis (14/1/2016)
Diprediksi olehnya pemulihan ekonomi Eropa terus berlanjut didorong oleh perbaikan permintaan domestik, meskipun belum mampu meningkatkan inflasi yang masih rendah. Sedangkan ekonomi Jepang diperkirakan masih lemah seiring dengan konsumsi yang terus menurun.
"Di sisi lain, perekonomian China diperkirakan masih melambat, di tengah berbagai upaya stimulus. Baik melalui kebijakan moneter dan fiskal, serta reformasi di sisi penawaran," lanjutnya.
Reaksi pasar terhadap perlambatan ekonomi dan konsistensi dalam upaya liberalisasi pasar keuangan di China, menurutnya menimbulkan tekanan di pasar saham. "Ke depan, risiko terkait perlambatan ekonomi China dan terus menurunnya harga komoditas global perlu dicermati," pungkasnya.
(akr)
Lihat Juga :