IHSG Ditutup Menghijau, Bursa Asia Berakhir Mixed
Kamis, 11 Februari 2016 - 16:43 WIB
IHSG Ditutup Menghijau, Bursa Asia Berakhir Mixed
A
A
A
JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari ini sukses menjaga tren penguatan hingga sesi penutupan, ketika mayoritas bursa global mengalami tekanan untuk memberikan sinyal kembalinya krisis ekonomi. IHSG ditutup naik 43,38 poin atau 0,92% ke level 4.775,86.
Pada pembukaan pagi tadi, IHSG berada di jalur positif dengan kenaikan tipis sebesar 7,02 poin atau 0,1% ke level 4,739 hingga pada sesi I tetap bertahan pada zona hijau membaik 39,80 poin atau 0,84% ke posisi 4.772,28. Sementara, IHSG pada perdagangan kemarin berakhir melemah sebesar 36,14 poin atau 0,76% ke level 4.732,48.
Dilansir Reuters, Kamis (11/2/2016) mayoritas pasar global mengalami pelemahan ketika para investor mencari aset yang cenderung aman seperti yen, emas dan obligasi di tengah ketidakpastian kapan The Fed (Bank Sentral AS) bakal menaikkan suku bunga acuan mereka.
Meski beberapa bursa saham seperti Jepang dan China ditutup karena liburan, tidak bisa menghentikan pelemahan USD terhadap yen untuk menyentuh level terendah dalam 15 bulan terakhir. Sedangkan emas global masih terus menanjak naik hingga mencapai posisi tertinggi sejak Mei, lalu.
Pelemahan tidak hanya terjadi di Asia, tapi juga dialami bursa saham Eropa seperti Inggris FTSE turun 1%, Jerman DAX melemah 1,4% serta pasar saham Prancis FCHI tidak terkecuali menyusut 1,5%. Hal serupa juga terjadi di indeks S & P 500 dengan kejatuhan 0,7% untuk menjadi sentimen negatif buat Wall Street.
"Dalam beberapa hal, kondisi ini mengingatkan apa yang terjadi pada 2008 dengan pengetatan kredit, saham perbankan di bawah tekanan dan kekhawatiran Bank Sentral tidak berdaya," jelas Kepala Strategi Investasi AMP Capital, Oliver Shane.
Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang menyusut 1,4% seiring pelemahan indeks Korea Selatan sebesar 2,9%. Adapun Indeks Hang Seng berakhir dengan merosot cukup tajam 742,37 poin atau 3,85% ke level 18.545,80. Penurunan juga terjadi di indeks Strait Times menyusut 43,82 poin atau 1,70% ke posisi 2.538,28.
Namun penguatan terjadi pada indeks Australia 44,40 poin atau 0,92% ke level 4.870,90. Mayoritas sektor saham di perdagangan Tanah Air tercatat menguat. Sektor yang mengalami penguatan tertinggi adalah sektor aneka industri melesat naik 4,07%, disusul sektor industri dasar yang naik 1,84%.
Nilai transaksi di bursa Indonesia tercatat sebesar Rp6,93 triliun dengan 4,65 miliar saham diperdagangkan dan transaksi bersih asing Rp878 miliar dengan aksi jual asing mencapai Rp3,04 triliun dan aksi beli asing sebesar Rp3,92 triliun. Tercatat 151 saham menguat, 118 saham melemah dan 111 saham stagnan.
Saham-saham yang menguat di antaranya PT Mayora Indah Tbk (MYOR) naik Rp400 menjadi Rp26.500, PT Astra International Tbk (ASII) naik Rp325 menjadi Rp7.125 dan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) naik Rp125 menjadi Rp3.700.
Sementara, saham-saham yang melemah di antaranya PT Gudang Garam Tbk (GGRM) menyusut Rp500 atau 0,8% menjadi Rp61.000, PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) turun Rp200 menjadi Rp16.700 dan PT Asahimas Flat Glass Tbk (AMFG) melemah Rp75 menjadi Rp6.225.
Pada pembukaan pagi tadi, IHSG berada di jalur positif dengan kenaikan tipis sebesar 7,02 poin atau 0,1% ke level 4,739 hingga pada sesi I tetap bertahan pada zona hijau membaik 39,80 poin atau 0,84% ke posisi 4.772,28. Sementara, IHSG pada perdagangan kemarin berakhir melemah sebesar 36,14 poin atau 0,76% ke level 4.732,48.
Dilansir Reuters, Kamis (11/2/2016) mayoritas pasar global mengalami pelemahan ketika para investor mencari aset yang cenderung aman seperti yen, emas dan obligasi di tengah ketidakpastian kapan The Fed (Bank Sentral AS) bakal menaikkan suku bunga acuan mereka.
Meski beberapa bursa saham seperti Jepang dan China ditutup karena liburan, tidak bisa menghentikan pelemahan USD terhadap yen untuk menyentuh level terendah dalam 15 bulan terakhir. Sedangkan emas global masih terus menanjak naik hingga mencapai posisi tertinggi sejak Mei, lalu.
Pelemahan tidak hanya terjadi di Asia, tapi juga dialami bursa saham Eropa seperti Inggris FTSE turun 1%, Jerman DAX melemah 1,4% serta pasar saham Prancis FCHI tidak terkecuali menyusut 1,5%. Hal serupa juga terjadi di indeks S & P 500 dengan kejatuhan 0,7% untuk menjadi sentimen negatif buat Wall Street.
"Dalam beberapa hal, kondisi ini mengingatkan apa yang terjadi pada 2008 dengan pengetatan kredit, saham perbankan di bawah tekanan dan kekhawatiran Bank Sentral tidak berdaya," jelas Kepala Strategi Investasi AMP Capital, Oliver Shane.
Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang menyusut 1,4% seiring pelemahan indeks Korea Selatan sebesar 2,9%. Adapun Indeks Hang Seng berakhir dengan merosot cukup tajam 742,37 poin atau 3,85% ke level 18.545,80. Penurunan juga terjadi di indeks Strait Times menyusut 43,82 poin atau 1,70% ke posisi 2.538,28.
Namun penguatan terjadi pada indeks Australia 44,40 poin atau 0,92% ke level 4.870,90. Mayoritas sektor saham di perdagangan Tanah Air tercatat menguat. Sektor yang mengalami penguatan tertinggi adalah sektor aneka industri melesat naik 4,07%, disusul sektor industri dasar yang naik 1,84%.
Nilai transaksi di bursa Indonesia tercatat sebesar Rp6,93 triliun dengan 4,65 miliar saham diperdagangkan dan transaksi bersih asing Rp878 miliar dengan aksi jual asing mencapai Rp3,04 triliun dan aksi beli asing sebesar Rp3,92 triliun. Tercatat 151 saham menguat, 118 saham melemah dan 111 saham stagnan.
Saham-saham yang menguat di antaranya PT Mayora Indah Tbk (MYOR) naik Rp400 menjadi Rp26.500, PT Astra International Tbk (ASII) naik Rp325 menjadi Rp7.125 dan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) naik Rp125 menjadi Rp3.700.
Sementara, saham-saham yang melemah di antaranya PT Gudang Garam Tbk (GGRM) menyusut Rp500 atau 0,8% menjadi Rp61.000, PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) turun Rp200 menjadi Rp16.700 dan PT Asahimas Flat Glass Tbk (AMFG) melemah Rp75 menjadi Rp6.225.
(akr)
Lihat Juga :