Proyek Kereta Cepat Tetap Berjalan, Fitra Beberkan Kerugian RI

Senin, 15 Februari 2016 - 16:00 WIB
Proyek Kereta Cepat...
Proyek Kereta Cepat Tetap Berjalan, Fitra Beberkan Kerugian RI
A A A
JAKARTA - Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) membeberkan kerugian yang bakal dialami Indonesia jika proyek pembangunan kereta api cepat Jakarta-Bandung‎ tetap dijalankan. Pemerintah pun diminta untuk mengkaji ulang rencana pembangunan proyek business to business dengan China tersebut.

(Baca Juga: Pemerintah Sadar Kereta Cepat Proyek Rugi)

‎Peneliti Junior Fitra, Gulfino Guevarrato mengatakan bahwa saat ini kondisi BUMN (Badan Usaha Milik Negara) yang menggarap proyek tersebut belum cukup kuat. Adapun perusahaan pelat merah yang masuk dalam konsorsium kereta cepat adalah PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT KAI (Persero), PT Jasa Marga (Persero) Tbk, dan PT Perkebunan Nusantara VIII (Persero).

Dia menyebutkan, anggaran yang dibutuhkan untuk proyek tersebut cukup fantastis, yakni sekitar USD5,5 miliar atau setara dengan Rp77 triliun. ‎Sementara KAI pada tahun lalu, baru saja kehilangan 25% labanya karena ditarik dividen oleh pemerintah. Lalu membayar utang investasi sebesar Rp1,2 triliun.

"Dan mulai membayar utang investasi sebesar Rp1,2 triliun. KAI menunda pembelian kereta menunjukan keuangan tidak baik," kata dia di Sekretariat Nasional Fitra, Jakarta, Senin (15/2/2016).

Tak hanya itu lanjut dia, konsorsium kereta cepat juga akan terbebani bunga yang tinggi dari pinjaman yang diberikan China untuk pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung. Terlebih menurutnya, utang yang dibebankan kepada BUMN tersebut terdapat dua jenis yaitu bunga dalam dolar Amerika Serikat (USD) dan yuan.

Dijelaskan bahwa China Development Bank memberikan pinjaman kepada Indonesia sekitar 75% dari USD5,5 miliar atau sekitar USD4,1 miliar dengan tenor 40 tahun. Pinjaman yang dalam bentuk USD sekitar 60% dengan bunga 2% per tahun, sementara pinjaman dalam bentuk yuan 40% dengan bunga 3,4%.

"Itu berarti perusahaan akan membayar bunga sebesar Rp917,4 miliar per tahun untuk pinjaman dalam dolar, dan Rp1,04 triliun per tahun dalam bentuk yuan," jelasnya.

Perusahaan, sambung dia, berencana mengoperasikan 11 rangkaian kereta yang terdiri dari 8 gerbong. Diasumsikan, kereta akan mengangkut 12.826 penumpang pergi dan pulang untuk satu kali perjalanan. Sementara dalam data Fitra, jumlah penumpang Kereta Api Argo Parahyangan terus mengalami penurunan meski harga tiketnya lebih murah dari yang dipatok kereta cepat Rp225 ribu.

Pada tahun 2010 jumlah penumpang 592.434 menurun pada tahun 2011 sebesar 436.244. Di tahun 2012 jumlah penumpang kembali menyusut 398.938. "Kami membandingkan Argo Parahiyangan, tiga tahun berdirinya selalu menurun setiap tahun," ucapnya.

Selain itu, dia juga menerangkan bahwa Jepang yang telah lebih dulu mengoperasikan kereta super cepat Shinkansen baru mendapatkan untung setelah delapan tahun beroperasi. China sendiri, menurutnya, hanya satu kereta cepat yang balik modal dari lima kereta cepat yang dioperasikan.

"Tujuannya untuk membangun lebih maju di daerah infrastruktur misal distribusi teknologi, tapi ada tujuan politis, ini menjadi bancakan," pungkasnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Perbandingan Kereta...
Perbandingan Kereta Cepat Shanghai vs KCJB Indonesia, dari Kecepatan hingga Tarif
Naik Kereta Cepat Whoosh...
Naik Kereta Cepat Whoosh Jakarta-Bandung hanya Rp50 Ribu, Begini Caranya!
Revolusi Kereta Cepat...
Revolusi Kereta Cepat China: Melaju Secepat Pesawat, Lebih Baik dari Hyperloop Elon Musk
Whoosh, Kereta Cepat...
Whoosh, Kereta Cepat yang Membuat Kunjungan Wisatawan Bertambah
Kereta Hyperloop China...
Kereta Hyperloop China Pecahkan Rekor, Ditarget 2.000 Kpj dan Lebih Cepat dari Pesawat
Intip Spesifikasi Kereta...
Intip Spesifikasi Kereta Cepat Jakarta-Bandung Whoosh, Mampu Melesat 350 Km/jam
Berita Terkini
Implementasi PP TUNAS...
Implementasi PP TUNAS Harus Bisa Jaga Daya Saing Generasi Muda di Ekonomi Digital
2 jam yang lalu
Bank Sentral China Borong...
Bank Sentral China Borong Emas 19 Bulan Berturut-turut, Ada Apa?
2 jam yang lalu
BKI dan ASDP Perkuat...
BKI dan ASDP Perkuat Sinergi Keselamatan Kerja Melalui Audit SMK3
2 jam yang lalu
Silmy Karim Dicopot...
Silmy Karim Dicopot dari Komisaris Telkom usai Tersangka KPK
3 jam yang lalu
DPR Ingatkan Potensi...
DPR Ingatkan Potensi Moral Hazard Penambahan Layer Rokok Ilegal
3 jam yang lalu
Merger BUMN Karya Mundur...
Merger BUMN Karya Mundur ke Kuartal IV-2026, BP BUMN Ungkap Alasannya
3 jam yang lalu
Infografis
Arab Saudi Bangun Jalur...
Arab Saudi Bangun Jalur Kereta Api Landbridge Rp116 Triliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved