BI Beberkan Faktor di Balik Penguatan Rupiah
Kamis, 18 Februari 2016 - 18:36 WIB
BI Beberkan Faktor di Balik Penguatan Rupiah
A
A
A
JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus D.W Martowardojo menerangkan beberapa faktor yang menjadi penyebab pergerakan rupiah berada dalam tren menguat dan cenderung stabil sejak triwulan IV. Hal ini terutama didorong oleh meningkatnya aliran modal asing seiring dengan risiko pasar keuangan global yang semakin mereda dan persepsi positif terhadap ekonomi domestik.
Tercatat selama triwulan IV 2015 nilai tukar rupiah menguat sebesar 6,27% secara point to point (ptp) dan mencapai level Rp13.785/USD. "Penguatan terus berlanjut hingga Januari 2016. Rupiah berhasil menguat 0,1% (ptp) dan ditutup di level Rp.13.775 per USD pada akhir Januari 2016," jelasnya di Jakarta, Kamis (18/2/2016).
(Baca Juga: Yen dan Euro Menguat, Rupiah Berakhir Mixed)
Dia menambahkan tren apresiasi rupiah dipengaruhi dengan meningkatnya aliran masuk modal asing, terutama ke pasar surat berharga negara. Hal itu didorong oleh persepsi positif investor terhadap arah perekonomian Indonesia.
"Tentunya ini seiring dengan penurunan BI Rate, paket kebijakan pemerintah untuk memperbaiki iklim investasi, serta semakin efektifnya implementasi berbagai proyek infrastruktur," lanjutnya.
Selain itu, semakin meredanya risiko pasar keuangan global, yang tercermin dari perkiraan path FFR yang lebih dovish, turut mendorong apresiasi Rupiah. "Ke depan, Bank Indonesia akan tetap menjaga stabilitas nilai tukar sesuai dengan nilai fundamentalnya, agar ekonomi kita tetap terjaga dengan baik," pungkasnya.
Tercatat selama triwulan IV 2015 nilai tukar rupiah menguat sebesar 6,27% secara point to point (ptp) dan mencapai level Rp13.785/USD. "Penguatan terus berlanjut hingga Januari 2016. Rupiah berhasil menguat 0,1% (ptp) dan ditutup di level Rp.13.775 per USD pada akhir Januari 2016," jelasnya di Jakarta, Kamis (18/2/2016).
(Baca Juga: Yen dan Euro Menguat, Rupiah Berakhir Mixed)
Dia menambahkan tren apresiasi rupiah dipengaruhi dengan meningkatnya aliran masuk modal asing, terutama ke pasar surat berharga negara. Hal itu didorong oleh persepsi positif investor terhadap arah perekonomian Indonesia.
"Tentunya ini seiring dengan penurunan BI Rate, paket kebijakan pemerintah untuk memperbaiki iklim investasi, serta semakin efektifnya implementasi berbagai proyek infrastruktur," lanjutnya.
Selain itu, semakin meredanya risiko pasar keuangan global, yang tercermin dari perkiraan path FFR yang lebih dovish, turut mendorong apresiasi Rupiah. "Ke depan, Bank Indonesia akan tetap menjaga stabilitas nilai tukar sesuai dengan nilai fundamentalnya, agar ekonomi kita tetap terjaga dengan baik," pungkasnya.
(akr)
Lihat Juga :