Rupiah Diramal Masih dalam Tren Penguatan
Jum'at, 04 Maret 2016 - 08:06 WIB
Rupiah Diramal Masih dalam Tren Penguatan
A
A
A
JAKARTA - Tren penguatan rupiah pada hari ini diramal akan kembali berlanjut. Penguatan ini seiring masih adanya imbas beberapa sentimen positif yang menopang pergerakan rupiah.
"Dengan asumsi aksi beli masih terjadi dan harga minyak yang masih berpeluang melanjutkan pergerakan positifnya, maka laju rupiah pun akan terbantukan menguat," ujar Kepala Riset PT NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada di Jakarta, Jumat (4/3/2016).
Namun, lanjut dia, jika asumsi tersebut tidak terpenuhi maka waspadai potensi pembalikan arah melemah. Dia memprediksi rupiah akan berada di level support Rp13.200/USD serta resisten Rp13.300/USD.
Sementara, laju rupiah kemarin terus mempertahankan tren kenaikannya dengan bergerak positif untuk melanjutkan penguatannya sejak sembilan bulan terakhir.
Pergerakan rupiah masih terimbas sentimen sebelumnya, di mana didukung oleh beberapa faktor seperti kondisi makroekonomi Indonesia yang dianggap akan membaik, porsi dana asing di Surat Utang Negara (SUN) domestik yang kembali meningkat.
Selain itu, sentimen dari eksternal berupa aksi PBoC yang menurunkan GWM, sehingga membuat para investor kembali tenang terhadap sentimen devaluasi yuan.
"Pelaku pasar juga menantikan rilis data ketenagakerjaan AS Februari, di mana diperkirakan masih kurang baik sehingga memberikan tekanan pada laju USD," pungkasnya.
"Dengan asumsi aksi beli masih terjadi dan harga minyak yang masih berpeluang melanjutkan pergerakan positifnya, maka laju rupiah pun akan terbantukan menguat," ujar Kepala Riset PT NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada di Jakarta, Jumat (4/3/2016).
Namun, lanjut dia, jika asumsi tersebut tidak terpenuhi maka waspadai potensi pembalikan arah melemah. Dia memprediksi rupiah akan berada di level support Rp13.200/USD serta resisten Rp13.300/USD.
Sementara, laju rupiah kemarin terus mempertahankan tren kenaikannya dengan bergerak positif untuk melanjutkan penguatannya sejak sembilan bulan terakhir.
Pergerakan rupiah masih terimbas sentimen sebelumnya, di mana didukung oleh beberapa faktor seperti kondisi makroekonomi Indonesia yang dianggap akan membaik, porsi dana asing di Surat Utang Negara (SUN) domestik yang kembali meningkat.
Selain itu, sentimen dari eksternal berupa aksi PBoC yang menurunkan GWM, sehingga membuat para investor kembali tenang terhadap sentimen devaluasi yuan.
"Pelaku pasar juga menantikan rilis data ketenagakerjaan AS Februari, di mana diperkirakan masih kurang baik sehingga memberikan tekanan pada laju USD," pungkasnya.
(izz)