Berisiko, Harga BBM Disarankan Tetap di Atas Rp5.000/Liter
Rabu, 09 Maret 2016 - 13:55 WIB
Berisiko, Harga BBM Disarankan Tetap di Atas Rp5.000/Liter
A
A
A
JAKARTA - Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) diprediksi bakal kembali turun bulan depan saat pemerintah sedang bersiap melakukan evaluasi tiga bulanan untuk menentukan Indonesia Crude Price (ICP) di tengah penurunan harga minyak mentah dunia. Terkait hal tersebut, Anggota Komisi VII DPR Kurtubi menyarankan agar penurunan harga BBM tidak terlalu besar dan tetap di atas Rp5.000 per liter
(Baca Juga: Revisi Asumsi Harga Minyak RI Diprediksi Kisaran USD30/Barel)
Dia menambahkan penurunan harga BBM yang terlalu besar sangat berisiko, jika kemudian hari terjadi kenaikan harga kembali. Menurutnya dengan penurunan yang terlalu jauh, maka potensi besaran angka jika terjadi kenaikan akan tinggi juga.
“Ini bisa mengundang reaksi besar-besaran dari masyarakat. Karena kalau turunnya banyak, bisa jadi nanti naiknya akan banyak," jelasnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (9/3/2016).
Lanjut dia, rendahnya harga minyak mentah dunia saat ini tetap menjadi momen yang tepat untuk menurunkan BBM lewat instrumen kebijakan harga. Meski tentu saja, penurunan tersebut disarankan tidak sebanyak yang disuarakan berbagai kalangan, misal di bawah Rp5.000 per liter.
Hal senada juga diungkapkan Dewan Pakar Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) Benny Lubiantara yang berpendapat penurunan harga BBM yang dilakukan hendaknya jangan terlalu banyak, lantaran dikhawatirkan akan berdampak buruk untuk jangka panjang.
Menurut Benny, jika tingkat domestic price BBM terlalu rendah, maka membuat tingkat konsumsi BBM menjadi sangat boros. Jika kondisi demikian terus terjadi, tentu sangat berbahaya bagi ketahanan energi nasional. Pasalnya, imbuh dia pada sisi berbeda suplai saat ini justru mengalami penurunan.
“Konsumsi akan jor-joran karena harga yang terlalu murah. Ini sangat berbahaya, karena berimplikasi pada kesenjangan hilir dan hulu yang cukup signifikan,” tandasnya.
(Baca Juga: Revisi Asumsi Harga Minyak RI Diprediksi Kisaran USD30/Barel)
Dia menambahkan penurunan harga BBM yang terlalu besar sangat berisiko, jika kemudian hari terjadi kenaikan harga kembali. Menurutnya dengan penurunan yang terlalu jauh, maka potensi besaran angka jika terjadi kenaikan akan tinggi juga.
“Ini bisa mengundang reaksi besar-besaran dari masyarakat. Karena kalau turunnya banyak, bisa jadi nanti naiknya akan banyak," jelasnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (9/3/2016).
Lanjut dia, rendahnya harga minyak mentah dunia saat ini tetap menjadi momen yang tepat untuk menurunkan BBM lewat instrumen kebijakan harga. Meski tentu saja, penurunan tersebut disarankan tidak sebanyak yang disuarakan berbagai kalangan, misal di bawah Rp5.000 per liter.
Hal senada juga diungkapkan Dewan Pakar Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) Benny Lubiantara yang berpendapat penurunan harga BBM yang dilakukan hendaknya jangan terlalu banyak, lantaran dikhawatirkan akan berdampak buruk untuk jangka panjang.
Menurut Benny, jika tingkat domestic price BBM terlalu rendah, maka membuat tingkat konsumsi BBM menjadi sangat boros. Jika kondisi demikian terus terjadi, tentu sangat berbahaya bagi ketahanan energi nasional. Pasalnya, imbuh dia pada sisi berbeda suplai saat ini justru mengalami penurunan.
“Konsumsi akan jor-joran karena harga yang terlalu murah. Ini sangat berbahaya, karena berimplikasi pada kesenjangan hilir dan hulu yang cukup signifikan,” tandasnya.
(poe)
Lihat Juga :