JPMorgan Peringatkan Risiko Baru MicroStrategy

Senin, 06 Juli 2026 - 18:57 WIB
loading...
JPMorgan Peringatkan...
Foto: Doc. Istimewa
A A A
JPMorgan mengingatkan bahwa kebijakan baru MicroStrategy yang membuka peluang penjualan Bitcoin berpotensi menciptakan tekanan baru di pasar aset digital. Langkah tersebut dinilai menghadirkan risiko dua arah karena perusahaan yang selama ini dikenal sebagai pembeli terbesar Bitcoin kini memiliki kemungkinan menjadi penjual ketika membutuhkan tambahan likuiditas.

MicroStrategy, yang kini beroperasi dengan nama Strategy Inc., kembali menjadi sorotan setelah JPMorgan mengeluarkan peringatan mengenai perubahan kebijakan pengelolaan aset Bitcoin perusahaan tersebut.

Selama bertahun-tahun, Strategy dikenal sebagai perusahaan publik dengan kepemilikan Bitcoin terbesar di dunia. Namun, kebijakan baru yang memungkinkan perusahaan menjual sebagian cadangan BTC memunculkan kekhawatiran baru di kalangan pelaku pasar.

Bagi investor yang aktif mengikuti perkembangan crypto , perubahan strategi perusahaan sebesar Strategy layak diperhatikan karena dapat mempengaruhi sentimen pasar secara keseluruhan. Selama ini, aksi pembelian Bitcoin oleh perusahaan tersebut sering dianggap sebagai katalis positif.

Selain memantau Bitcoin, pelaku pasar juga terus mengikuti harga Solana hari ini dan aset crypto lainnya. Pasalnya, pergerakan Bitcoin masih menjadi acuan utama bagi pasar crypto. Saat BTC mengalami tekanan, sebagian besar altcoin cenderung mengikutinya.

JPMorgan Soroti Risiko Dua Arah

Dalam laporan terbarunya, analis JPMorgan yang dipimpin Nikolaos Panigirtzoglou menyebut kebijakan baru Strategy menciptakan apa yang disebut sebagai two-way risk atau risiko dua arah.

Istilah tersebut menggambarkan kondisi ketika suatu aset tidak lagi hanya dipengaruhi oleh potensi pembelian, tetapi juga memiliki risiko tekanan jual dari pihak yang sebelumnya selalu menjadi pembeli. Selama beberapa tahun terakhir, Strategy dikenal sebagai salah satu pendukung terbesar Bitcoin.

Setiap kali perusahaan mengumumkan pembelian BTC dalam jumlah besar, sentimen pasar biasanya ikut menguat. Kini situasinya berubah, melalui kerangka pengelolaan modal terbaru, Strategy membuka kemungkinan menjual sebagian kepemilikan Bitcoin apabila diperlukan untuk memenuhi kebutuhan keuangan perusahaan.

Perubahan tersebut dinilai dapat mengurangi keyakinan investor bahwa cadangan Bitcoin perusahaan akan terus bertambah tanpa henti.

Mengapa Strategy Membuka Opsi Menjual Bitcoin?

Menurut laporan perusahaan, Strategy memiliki opsi untuk menjual Bitcoin hingga sekitar US$1,25 miliar. Dana tersebut dapat digunakan untuk memperkuat neraca keuangan sekaligus memenuhi kewajiban pembayaran dividen saham preferen.

Selain itu, perusahaan juga membuka peluang melakukan pembelian kembali saham preferen maupun buyback saham biasa apabila diperlukan. Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi pengelolaan modal yang lebih fleksibel di tengah kondisi pasar yang masih penuh ketidakpastian.

Perusahaan juga menetapkan target baru terkait cadangan kas minimum. Manajemen ingin memastikan tersedia dana yang cukup untuk membayar dividen saham preferen beserta bunga utang selama setidaknya 12 bulan ke depan.

Saat ini Strategy memiliki cadangan kas sekitar US$2,55 miliar. Meski jumlah tersebut terlihat besar, JPMorgan menilai dana itu hanya cukup untuk memenuhi kewajiban selama sekitar 17 bulan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
OJK Catat Transaksi...
OJK Catat Transaksi Kripto Rp23,01 Triliun, Pasar Futures Dinilai Kian Prospektif
Bitcoin Kembali ke Level...
Bitcoin Kembali ke Level USD65.500, Didukung Regulasi AS dan Arus ETF
Bagaimana Public Listing...
Bagaimana Public Listing Mengubah Perusahaan Crypto?
Pajak Ekonomi Digital...
Pajak Ekonomi Digital per Juni 2026 Capai Rp54,71 Triliun, Kripto Sumbang Rp2,09 T
Arus Kas ETF Bitcoin...
Arus Kas ETF Bitcoin Tembus Rp1,36 Triliun di Pertengahan Juli 2026
Inflasi AS Turun Jadi...
Inflasi AS Turun Jadi 3,5%, Bitcoin dan Ethereum Berpeluang Menguat
Anak Muda Bingung Pilih...
Anak Muda Bingung Pilih Kripto atau Saham? Begini Kata Para Praktisi
1 Tahun Berkuasa, Kekayaan...
1 Tahun Berkuasa, Kekayaan Trump Bertambah Rp25 Triliun
Tragedi Bitcoin: Rp72...
Tragedi Bitcoin: Rp72 Triliun Hangus Terseret Tren Terburuk Sejak Agustus!
Rekomendasi
Cleft Craniofacial Awareness...
Cleft Craniofacial Awareness Month 2026, RSCM Gelar Pemeriksaan Sumbing Gratis
Prabowo, Jokowi, SBY...
Prabowo, Jokowi, SBY Kompak Hadiri Pernikahan Putra Boy Thohir
Kronologi Bentrokan...
Kronologi Bentrokan Berdarah Sekelompok Pemuda dengan Warga yang Tewaskan 1 Orang di Menteng
Berita Terkini
Musk Peringatkan Bahaya...
Musk Peringatkan Bahaya Utang AS, Pajak Miliarder Tak Akan Cukup Hapus Defisit
Bidik Calon Kreditur,...
Bidik Calon Kreditur, CLIK Propensity Score Bantu Bank Ambil Keputusan Akurat
Babinsa Awasi Pajak...
Babinsa Awasi Pajak Bisa Picu Persepsi Negatif, DPR: Jangan Sampai Dianggap Mata-mata
Redam Perang Dagang...
Redam Perang Dagang dengan AS, China Usul Pangkas Tarif Rp535 triliun
Tarif 3 Jalan Tol Berpotensi...
Tarif 3 Jalan Tol Berpotensi Naik Tahun Ini, Semuanya di Pulau Jawa
PLN EPI Bidik Pasar...
PLN EPI Bidik Pasar Hidrogen Hijau untuk Industri dan Penerbangan
Infografis
Piala Dunia 2026: Panggung...
Piala Dunia 2026: Panggung Terakhir Messi-Ronaldo dan Lahirnya Era Baru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved