Hadapi MEA, Insinyur Teknik Sipil RI Belum Punya Sistem Akreditasi
Selasa, 22 Maret 2016 - 18:24 WIB
Hadapi MEA, Insinyur Teknik Sipil RI Belum Punya Sistem Akreditasi
A
A
A
JAKARTA - Persaingan tenaga kerja di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan semakin ketat. Hal ini khususnya di bidang keahlian khusus, seperti insinyur teknik sipil yang tertuang dalam ASEAN Mutual Recognition Arrangement (MRA).
Dalam diskusi mengenai riset kerja sama Bappenas, Kementerian PU dan Glendale Partners Consultant, yang didukung Inggris melalui Prosperity Fund Program dengan tema "Program Akreditasi dan Sertifikasi Insinyur Teknik Sipil di Indonesia" terjawab jika insinyur teknik sipil di Indonesia belum memiliki sistem akreditasi yang diakui secara internasional.
"Sulit bagi perusahaan internasional yang bekerja di negeri ini bisa menilai kompetensi insinyur lokal yang terlatih," ujar Dr J Scott Younger OBE PhD FICE, dari Glendale Partners Consultant dalam keterangannya, Selasa (22/3/2016).
Dalam sebuah riset yang dilakukan pemerintah dengan dukungan dan bantuan dari pemerintah Inggris pada 1993, ditemukan perlu ada perbaikan dalam standar pengajaran akademik di bidang teknik ke seluruh universitas di Indonesia.
"Untuk mendukung program Nawacita Presiden Joko Widodo (Jokowi), maka pemerintah Inggris melalui ICE, akan melakukan program sertifikasi kepada insinyur Indonesia dalam jangka waktu 11 bulan ke depan," terangnya.
Hal ini bertujuan untuk menyiapkan metodologi, lingkungan pekerjaan yang sesuai dan bantuan teknik kepada para insinyur Indonesia. "Program ini ditujukan kepada para insinyur dengan pengalaman 5 sampai 25 tahun, dan juga memiliki kualifikasi akademik," ujarnya.
Dia mengatakan, yang lulus dalam program tersebut dapat memiliki status pengakuan gelar berupa "Member Of Institution Of Civil Engineer (MICE) dari ICE-UK," beber Scott.
Bagaimana proses pendaftarannya? Dia menjelaskan program sertifikasi akan ditempuh oleh para insinyur terpilih yang memiliki kualifikasi tertentu. Prosesnya juga melalui pengkajian profesional dan program mentoring yang didasarkan pada website pengakreditasian ICE.
"Semua dilakukan oleh anggota dan rekanan ICE yang bekerja di Indonesia, kawasan Asia Tenggara dan Inggris Raya," kata Scott.
Dia berharap, ini akan menjadi skala prioritas penting dari pemerintah guna membangun suatu sistem standar akreditasi (sertifikasi) profesi yang dapat diterima secara internasional. "Diharapkan dengan program ini nantinya, para insinyur Indonesia siap menghadapi persaingan global, dan dimulai lewat kompetisi MEA 2016," tandasnya.
Dalam diskusi mengenai riset kerja sama Bappenas, Kementerian PU dan Glendale Partners Consultant, yang didukung Inggris melalui Prosperity Fund Program dengan tema "Program Akreditasi dan Sertifikasi Insinyur Teknik Sipil di Indonesia" terjawab jika insinyur teknik sipil di Indonesia belum memiliki sistem akreditasi yang diakui secara internasional.
"Sulit bagi perusahaan internasional yang bekerja di negeri ini bisa menilai kompetensi insinyur lokal yang terlatih," ujar Dr J Scott Younger OBE PhD FICE, dari Glendale Partners Consultant dalam keterangannya, Selasa (22/3/2016).
Dalam sebuah riset yang dilakukan pemerintah dengan dukungan dan bantuan dari pemerintah Inggris pada 1993, ditemukan perlu ada perbaikan dalam standar pengajaran akademik di bidang teknik ke seluruh universitas di Indonesia.
"Untuk mendukung program Nawacita Presiden Joko Widodo (Jokowi), maka pemerintah Inggris melalui ICE, akan melakukan program sertifikasi kepada insinyur Indonesia dalam jangka waktu 11 bulan ke depan," terangnya.
Hal ini bertujuan untuk menyiapkan metodologi, lingkungan pekerjaan yang sesuai dan bantuan teknik kepada para insinyur Indonesia. "Program ini ditujukan kepada para insinyur dengan pengalaman 5 sampai 25 tahun, dan juga memiliki kualifikasi akademik," ujarnya.
Dia mengatakan, yang lulus dalam program tersebut dapat memiliki status pengakuan gelar berupa "Member Of Institution Of Civil Engineer (MICE) dari ICE-UK," beber Scott.
Bagaimana proses pendaftarannya? Dia menjelaskan program sertifikasi akan ditempuh oleh para insinyur terpilih yang memiliki kualifikasi tertentu. Prosesnya juga melalui pengkajian profesional dan program mentoring yang didasarkan pada website pengakreditasian ICE.
"Semua dilakukan oleh anggota dan rekanan ICE yang bekerja di Indonesia, kawasan Asia Tenggara dan Inggris Raya," kata Scott.
Dia berharap, ini akan menjadi skala prioritas penting dari pemerintah guna membangun suatu sistem standar akreditasi (sertifikasi) profesi yang dapat diterima secara internasional. "Diharapkan dengan program ini nantinya, para insinyur Indonesia siap menghadapi persaingan global, dan dimulai lewat kompetisi MEA 2016," tandasnya.
(dmd)
Lihat Juga :