Menakar Besaran Penurunan Harga BBM di April
Senin, 28 Maret 2016 - 14:39 WIB
Menakar Besaran Penurunan Harga BBM di April
A
A
A
JAKARTA - Pemerintah disarankan tidak terlalu besar menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) periode April 2016. Indonesia Resources Studies (Iress) menerangkan pasalnya pada tahap evaluasi tiga bulan berikutnya akan ada momentum Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran yang dikhawatirkan akan membuat harga barang kebutuhan pokok melonjak.
(Baca Juga: Kementerian ESDM Masih Godok Besaran Penurunan Harga BBM)
Apalagi menurut Direktur Eksekutif Iress, Marwan Batubara mengungkapkan saat ini tren harga minyak dunia di pasar global telah kembali menanjak. Karena itu, jika harga BBM diturunkan terlalu besar justru dinilai akan membebankan masyarakat jika nanti harga kembali dinaikkan.
"(Harga BBM) memang tidak perlu turun terlalu besar. Karena sekarang ini trennya harga minyak kembali naik," katanya saat dihubungi Sindonews di Jakarta, Senin (28/3/2016).
Menurutnya, jika harga BBM diturunkan terlalu rendah belum tentu akan berpengaruh terhadap harga bahan pokok dan inflasi nasional. Lanjut dia sementara itu jika nantinya harga BBM kembali dinaikkan, maka akan memicu inflasi yang pada akhirnya menimbulkan gejolak ekonomi.
"Sekarang ini tren harga minyak kembali naik, nanti kalau terlalu rendah turun, nanti saat naik lagi bisa memicu inflasi dan gejolak ekonomi. Sememtara kalau diturunkan, belum tentu inflasi bisa turun. Karena itu perlu dikaji pemerintah," imbuh dia.
(Baca Juga: Penurunan Harga BBM Tak Terlalu Besar, Ini Alasan Menteri ESDM)
Sementara itu Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro menilai, saat ini merupakan momen yang tepat untuk menurunkan harga BBM hingga mencapai batas keekonomian. Pasalnya, hal tersebut menurutnya dapat menjadi insentif bagi dunia usaha serta meningkatkan daya beli masyarakat.
Namun dia memberikan catatan, jika nanti harga minyak dunia kembali membaik dan pemerintah berencana kembali menaikkan harga. Maka harus ada intervensi dari pemerintah agar harga tidak naik hingga mencapai keekonomian dan memberatkan masyarakat.
"Jadi nanti kalau pas harga (minyak dunia) balik tinggi, pemerintah harus ada intervensi. Jadi harga (BBM) nya dalam artian tidak keekonomian. Ini kan kalau turun bisa jadi insentif bagi daya beli maupun daya usaha. Tapi dilihat juga target keuangan negara dan makro ekonominya seperti apa," tandasnya.
(Baca Juga: Kementerian ESDM Masih Godok Besaran Penurunan Harga BBM)
Apalagi menurut Direktur Eksekutif Iress, Marwan Batubara mengungkapkan saat ini tren harga minyak dunia di pasar global telah kembali menanjak. Karena itu, jika harga BBM diturunkan terlalu besar justru dinilai akan membebankan masyarakat jika nanti harga kembali dinaikkan.
"(Harga BBM) memang tidak perlu turun terlalu besar. Karena sekarang ini trennya harga minyak kembali naik," katanya saat dihubungi Sindonews di Jakarta, Senin (28/3/2016).
Menurutnya, jika harga BBM diturunkan terlalu rendah belum tentu akan berpengaruh terhadap harga bahan pokok dan inflasi nasional. Lanjut dia sementara itu jika nantinya harga BBM kembali dinaikkan, maka akan memicu inflasi yang pada akhirnya menimbulkan gejolak ekonomi.
"Sekarang ini tren harga minyak kembali naik, nanti kalau terlalu rendah turun, nanti saat naik lagi bisa memicu inflasi dan gejolak ekonomi. Sememtara kalau diturunkan, belum tentu inflasi bisa turun. Karena itu perlu dikaji pemerintah," imbuh dia.
(Baca Juga: Penurunan Harga BBM Tak Terlalu Besar, Ini Alasan Menteri ESDM)
Sementara itu Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro menilai, saat ini merupakan momen yang tepat untuk menurunkan harga BBM hingga mencapai batas keekonomian. Pasalnya, hal tersebut menurutnya dapat menjadi insentif bagi dunia usaha serta meningkatkan daya beli masyarakat.
Namun dia memberikan catatan, jika nanti harga minyak dunia kembali membaik dan pemerintah berencana kembali menaikkan harga. Maka harus ada intervensi dari pemerintah agar harga tidak naik hingga mencapai keekonomian dan memberatkan masyarakat.
"Jadi nanti kalau pas harga (minyak dunia) balik tinggi, pemerintah harus ada intervensi. Jadi harga (BBM) nya dalam artian tidak keekonomian. Ini kan kalau turun bisa jadi insentif bagi daya beli maupun daya usaha. Tapi dilihat juga target keuangan negara dan makro ekonominya seperti apa," tandasnya.
(akr)
Lihat Juga :