Menilik Strategi Eksportir Kelapa Bulat Bertahan di Tengah Ketatnya Pasar Global
Selasa, 07 Juli 2026 - 13:35 WIB
loading...
Foto: Doc. Istimewa
A
A
A
Industri ekspor kelapa bulat nasional tengah menghadapi tekanan berat. Para eksportir kelapa bulat melaporkan penurunan harga yang sangat drastis, dengan nilai jual saat ini menyusut lebih dari 50 persen jika dibandingkan dengan harga tertinggi pada tahun lalu.
Kondisi lesu ini dipicu oleh anjloknya permintaan dari pasar utama internasional, khususnya Tiongkok. Berdasarkan keterangan pelaku usaha eksportir, fenomena ini tidak lepas dari melimpahnya pasokan kelapa dari negara kompetitor, terutama Vietnam.
“Banyak buyer atau pembeli dari Tiongkok yang menghentikan atau mengurangi pembelian dari Indonesia karena mereka beralih ke kelapa asal Vietnam. Saat ini, stok kelapa dari Vietnam sedang melimpah di pasar Tiongkok dengan harga yang jauh lebih murah,” ungkap Loleng, eksportir kelapa bulat, kepada media, Kamis (02/07/26).
Menurut Loleng, penurunan permintaan yang terjadi pada semester pertama 2026 sebenarnya merupakan siklus rutin tahunan. Namun, efeknya pada tahun ini terasa jauh lebih berat karena harga kelapa di tingkat eksportir ikut merosot tajam mengikuti dinamika pasar di negara tujuan.
“Harga kelapa bulat turun terus di negara tujuan, dan buyer terus menekan harga karena permintaan juga turun,” jelasnya.
Selain faktor kompetisi harga, para eksportir juga dihadapkan pada tantangan biaya operasional. Tingginya biaya logistik, termasuk kenaikan harga sewa kontainer, membuat margin keuntungan semakin tipis. Dalam kondisi ini, eksportir harus berhitung lebih cermat agar tetap bisa bertahan dan tidak mengalami kerugian lebih besar.
“Tingginya biaya logistik, termasuk kenaikan harga sewa kontainer, membuat margin keuntungan menjadi sangat tipis. Kami harus berjuang keras agar tetap bisa bersaing dengan harga yang ditawarkan oleh eksportir dari Vietnam,” tambah Loleng.
Tekanan terhadap ekspor kelapa bulat juga terlihat dari aktivitas pengiriman di sejumlah jalur pelabuhan. Di Pelabuhan Sungai Guntung, Indragiri Hilir, misalnya, aktivitas pelayaran dan bongkar muat kelapa masih tetap berjalan. Pelabuhan tersebut masih melayani kebutuhan industri lokal, pengiriman antarpulau, serta ekspor dalam skala besar.
Namun, dalam beberapa bulan terakhir, pengiriman kelapa bulat tujuan Malaysia juga mengalami penurunan. Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan atau KUPP Sungai Guntung, Capt.Yovan Siahaan, menyampaikan bahwa aktivitas pelayaran dan bongkar muat kelapa masih berlangsung lancar, tetapi intensitas pengiriman cenderung dinamis dan mengalami penyesuaian volume.
“Berdasarkan pencatatan dokumen operasional di Pelabuhan Sungai Guntung, aktivitas pengiriman komoditas kelapa bulat dengan tujuan negara Malaysia memang menunjukkan tren penurunan yang sangat signifikan dalam beberapa waktu terakhir,” jelas Capt.Yovan.
Kondisi lesu ini dipicu oleh anjloknya permintaan dari pasar utama internasional, khususnya Tiongkok. Berdasarkan keterangan pelaku usaha eksportir, fenomena ini tidak lepas dari melimpahnya pasokan kelapa dari negara kompetitor, terutama Vietnam.
“Banyak buyer atau pembeli dari Tiongkok yang menghentikan atau mengurangi pembelian dari Indonesia karena mereka beralih ke kelapa asal Vietnam. Saat ini, stok kelapa dari Vietnam sedang melimpah di pasar Tiongkok dengan harga yang jauh lebih murah,” ungkap Loleng, eksportir kelapa bulat, kepada media, Kamis (02/07/26).
Menurut Loleng, penurunan permintaan yang terjadi pada semester pertama 2026 sebenarnya merupakan siklus rutin tahunan. Namun, efeknya pada tahun ini terasa jauh lebih berat karena harga kelapa di tingkat eksportir ikut merosot tajam mengikuti dinamika pasar di negara tujuan.
“Harga kelapa bulat turun terus di negara tujuan, dan buyer terus menekan harga karena permintaan juga turun,” jelasnya.
Selain faktor kompetisi harga, para eksportir juga dihadapkan pada tantangan biaya operasional. Tingginya biaya logistik, termasuk kenaikan harga sewa kontainer, membuat margin keuntungan semakin tipis. Dalam kondisi ini, eksportir harus berhitung lebih cermat agar tetap bisa bertahan dan tidak mengalami kerugian lebih besar.
“Tingginya biaya logistik, termasuk kenaikan harga sewa kontainer, membuat margin keuntungan menjadi sangat tipis. Kami harus berjuang keras agar tetap bisa bersaing dengan harga yang ditawarkan oleh eksportir dari Vietnam,” tambah Loleng.
Tekanan terhadap ekspor kelapa bulat juga terlihat dari aktivitas pengiriman di sejumlah jalur pelabuhan. Di Pelabuhan Sungai Guntung, Indragiri Hilir, misalnya, aktivitas pelayaran dan bongkar muat kelapa masih tetap berjalan. Pelabuhan tersebut masih melayani kebutuhan industri lokal, pengiriman antarpulau, serta ekspor dalam skala besar.
Namun, dalam beberapa bulan terakhir, pengiriman kelapa bulat tujuan Malaysia juga mengalami penurunan. Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan atau KUPP Sungai Guntung, Capt.Yovan Siahaan, menyampaikan bahwa aktivitas pelayaran dan bongkar muat kelapa masih berlangsung lancar, tetapi intensitas pengiriman cenderung dinamis dan mengalami penyesuaian volume.
“Berdasarkan pencatatan dokumen operasional di Pelabuhan Sungai Guntung, aktivitas pengiriman komoditas kelapa bulat dengan tujuan negara Malaysia memang menunjukkan tren penurunan yang sangat signifikan dalam beberapa waktu terakhir,” jelas Capt.Yovan.
Lihat Juga :