Harga Minyak Dunia Jatuh Saat Rusia Menolak Pangkas Produksi
Kamis, 14 April 2016 - 08:51 WIB
Harga Minyak Dunia Jatuh Saat Rusia Menolak Pangkas Produksi
A
A
A
NEW YORK - Harga minyak mentah berjangka tercatat melemah pada perdagangan hari ini, setelah kemarin sempat menyentuh level tertinggi dalam empat bulan. Kejatuhan harga minyak global dipengaruhi komentar Menteri Energi Rusia untuk kemudian menimbulkan keraguan pertemuan para negara-negara produsen minyak guna membahas pembekuan produksi di Doha akhir pekan ini akan berjalan mulus.
Dilansir Reuters, Kamis (14/4/2016) harga minyak menyusut setelah dilaporkan Menteri Energi Rusia, Alexander Novak mengatakan telah menutup pintu terkait kesepakatan untuk memangkas produksi dalam upaya menekan pasokan Internasional. Peluang tercapainya kata sepakat dalam pertemuan antara organisasi negara-negara pengekspor minyak (OPEC) dan produsen utama menurut analis akan sulit tercapai.
"Kami tidak terlalu berharap bahwa akan ada terobosan yang berdampak kepada faktor fundamental harga minyak dari hasil pertemuan di Doha, 17 April nanti. Kami tidak yakin bahwa siapapun akan memangkas produksi mereka untuk memulihkan harga minyak yang justru akan tertekan seperti Januari lalu," jelas Analis Macquarie Capital dalam sebuah catatan.
Tercatat harga minyak mentah Brent merosot sebesar 51 sen menjadi USD44,18 per barel, sementara minyak berjangkas AS juga melemah 41 sen menjadi USD41,76 per barel. Persediaan minyak AS dilaporkan mengalami kenaikan 6,6 juta barel sehingga menjadi 536.53 juta barel berdasarkan data administrasi informasi energi kemarin dibandingkan dengan ekspektasi para analis dengan lonjakan mencapai 1,9 juta barel.
Sementara persediaan bensin justru turun 4,2 juta barel menjadi 239.76 juta, dibandingkan dengan perkiraan analis di angka 1,4 juta barel. "Ada kenaikan permintaan bensin. Saya tidak bisa menjelaskan dengan cara lain. Tanpa ragu, kita akan lihat kebutuhan gas di Amerika Serikat dan itu mungkin mencapai 10 M b/d," terang Direktur Pengembangan minyak dan gas di Frost & Sullivan, Carl Larry seperti dilansir CNBC.
Dilansir Reuters, Kamis (14/4/2016) harga minyak menyusut setelah dilaporkan Menteri Energi Rusia, Alexander Novak mengatakan telah menutup pintu terkait kesepakatan untuk memangkas produksi dalam upaya menekan pasokan Internasional. Peluang tercapainya kata sepakat dalam pertemuan antara organisasi negara-negara pengekspor minyak (OPEC) dan produsen utama menurut analis akan sulit tercapai.
"Kami tidak terlalu berharap bahwa akan ada terobosan yang berdampak kepada faktor fundamental harga minyak dari hasil pertemuan di Doha, 17 April nanti. Kami tidak yakin bahwa siapapun akan memangkas produksi mereka untuk memulihkan harga minyak yang justru akan tertekan seperti Januari lalu," jelas Analis Macquarie Capital dalam sebuah catatan.
Tercatat harga minyak mentah Brent merosot sebesar 51 sen menjadi USD44,18 per barel, sementara minyak berjangkas AS juga melemah 41 sen menjadi USD41,76 per barel. Persediaan minyak AS dilaporkan mengalami kenaikan 6,6 juta barel sehingga menjadi 536.53 juta barel berdasarkan data administrasi informasi energi kemarin dibandingkan dengan ekspektasi para analis dengan lonjakan mencapai 1,9 juta barel.
Sementara persediaan bensin justru turun 4,2 juta barel menjadi 239.76 juta, dibandingkan dengan perkiraan analis di angka 1,4 juta barel. "Ada kenaikan permintaan bensin. Saya tidak bisa menjelaskan dengan cara lain. Tanpa ragu, kita akan lihat kebutuhan gas di Amerika Serikat dan itu mungkin mencapai 10 M b/d," terang Direktur Pengembangan minyak dan gas di Frost & Sullivan, Carl Larry seperti dilansir CNBC.
(akr)
Lihat Juga :