RI Sulit Keluar dari Jebakan Negara Berpendapatan Rendah

Senin, 18 April 2016 - 12:10 WIB
RI Sulit Keluar dari...
RI Sulit Keluar dari Jebakan Negara Berpendapatan Rendah
A A A
JAKARTA - Ekonom Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri ‎menilai, sejauh ini Indonesia masih sulit keluar dari jebakan negara dengan pendapatan rendah. Bahkan, peluang perekonomian Indonesia untuk terperangkap dalam negara berpendapatan rendah mencapai 80%.

Dia mengatakan, hal ini lantaran kinerja ekonomi Indonesia sangat sensitif terhadap krisis bersifat eksternal. Karena itu, memerlukan waktu lama untuk kembali memulihkan kondisi ekonomi di Tanah Air. Padahal, perekonomian Indonesia relatif tertutup jika dibandingkan pada 1960.

"Peluang perekonomian Indonesia terperangkap dalam pendapatan rendah adalah 80%, untuk menjadi pendapatan menengah peluangnya hanya 16%, sedangkan untuk masuk menjadi negara berpendapatan tinggi sangat kecil sekali hanya sekitar 3%," katanya dalam Policy Dialogue Series: The Middle Income Trap-Indonesia's Challenge Ahead, di Jakarta, Senin (18/4/2016).

Selain itu, sumber daya manusia (SDM) di Tanah Air sangat lemah terutama jika dilihat dari konteks kualitas. Lemahnya kemampuan kognitif pelajar Indonesia harus segera diperbaiki, agar transformasi perekonomian Indonesia mampu bergerak mulus, dari ketergantungan kepada industri berbasis upah murah, menuj‎u basis produksi dengan keahlian yang lebih tinggi.

Mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas (RTKM) ini menambahkan, struktur ekspor Indonesia juga masih belum memperlihatkan perbaikan dalam meningkatkan peran dari ekspor berbasis teknologi tinggi. "Nilai kontribusinya (ekspor berbasis teknologi tinggi) sangat rendah dan semakin menurun. Sementara, kinerja sektor manufaktur juga lemah," imbuh dia.

Faisal mengungkapkan, Indonesia semakin mustahil untuk memacu pertumbuhan ekonomi tinggi dan berkelanjutan. Karena, perkembangan stok modal (capital stock) tidak dapat mengimbangi kecepatan pertumbuhan ekonomi negara yang berada pada frontier teknologi.

"Untuk itu, peran kepemimpinan nasional sangat vital dan sangat menentukan. Untuk menghindari perangkap pendapatan rendah solusinya adalah penguatan sektor industri. Nawacita harus digunakan untuk menyukseskan kebijakan industri," tandasnya.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Membaca Ketahanan Ekonomi...
Membaca Ketahanan Ekonomi RI dalam Dinamika Global Kuartal III 2025
Indonesia Butuh Rp47.587,3...
Indonesia Butuh Rp47.587,3 Triliun untuk Pertumbuhan Ekonomi 8%
Bahaya! Deflasi Hantam...
Bahaya! Deflasi Hantam Ekonomi RI 5 Bulan Beruntun
Prabowo Sering Diejek...
Prabowo Sering Diejek karena Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8%
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Berita Terkini
DANA Catat Pendapatan...
DANA Catat Pendapatan UMKM Alumni SisBerdaya Naik 113%
7 jam yang lalu
Iran Gunakan Selat Hormuz...
Iran Gunakan Selat Hormuz Jegal Tekanan AS, Pasar Minyak Dunia Ketar-ketir
7 jam yang lalu
Dorong Daya Saing Ekspor,...
Dorong Daya Saing Ekspor, Kemenhut-FSC Perkuat Sinergi Sertifikasi Hutan
8 jam yang lalu
OPEC+ Sepakat Tambah...
OPEC+ Sepakat Tambah Produksi Mulai Agustus, Harga Minyak Drop Lebih 1%
8 jam yang lalu
Pemerintah Perkuat Perdagangan...
Pemerintah Perkuat Perdagangan Karbon Kehutanan demi Tingkatkan Kepercayaan Pasar
9 jam yang lalu
Pertamina Regional Jawa...
Pertamina Regional Jawa Rampungkan Restorasi Mangrove Pantai Utara Jawa
9 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Cadangan...
10 Negara dengan Cadangan Emas Terbesar Dunia, AS Masih Teratas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved