Perusahaan AS Jadi Korban Kemerosotan Harga Minyak

Senin, 02 Mei 2016 - 18:02 WIB
Perusahaan AS Jadi Korban...
Perusahaan AS Jadi Korban Kemerosotan Harga Minyak
A A A
JAKARTA - Produsen minyak dan gas (migas) Ultra Petroleum Corp menjadi korban utama kemerosotan harga minyak mentah dunia setelah melaporkan perusahaan terancam bangkrut akhir pekan kemarin di Houston. Perusahaan yang berbasis di Texas itu memiliki beberapa proyek di Wyoming, Utah dan Pennsylvania dengan aset dikisaran USD10 miliar.

Dilansir Reuters, Senin (2/5/2016) kepailitan perusahaan terjadi setelah mengalami tekanan harga minyak dan melemahnya industri gas, di tengah anjloknya harga minyak mentah dunia yang berada di bawah level USD50 per barel dari sebelumnya USD100 per barel. Tercatat utang Ultra Petroleum hingga 31 Maret 2016 sebesar USD3,9 miliar sesuai dengan laporan triwulanan perusahaan.

Per 31 Desember Ultra Petroleum memiliki 167 karyawan dan kemungkinan besar akan mencari perlindungan dari para kreditur dalam laporan yang diajukan kepada U.S. Securities and Exchange Commission. Perusahaan telah jatuh tempo untuk membayar hutang mereka, sebelumnya dinyatakan bangkrut.

Berdasarkan data dari perusahaan konsultan Deloitte, hampir sepertiga dari produsen minyak kemungkinan akan berakhir dengan kebangkrutan tahun ini jika harga komoditas terus mengalami tekanan. Sementara itu sebelumnya sebuah perusahaan energi multinasional Amerika Serikat (AS) yakni National Oilwell Varco dilaporkan akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 6.000 karyawannya pada kuartal pertama tahun ini

Perusahaan pembuat peralatan ladang minyak yang berbasis di Houston itu tercatat memiliki 50,197 karyawan per 31 Desember. Menurut data ini, perusahaan akan memotong sekitar 12% dari total keseluruhan tenaga kerja pada kuartal I/2016.

National Oilwell Varco melaporkan mengalami kerugian bersih USD119 juta atau 32 sen per saham dibandingkan pada perioden yang sama tahun lalu, perusahaan mencetak keuntungan USD310 juta atau 76 sen per saham. Kabarnya perusahaan juga berencana untuk menutup total 200 fasilitas produksinya.

Di negara bagian AS, Texas, yang menghasilkan 31% dari minyak mentah negara itu, sekitar 72 ribu pegawai telah kehilangan pekerjaan mereka di industri energi pada 2015. Menurut perkiraan oleh Aliansi Produsen Energi Texas, 40 ribu pekerja bisa kehilangan pekerjaan tahun ini.

Seperti diketahui Amerika Serikat sangat bergantung pada produk minyak mentah, dan sudah lebih dari 60 perusahaan minyak dan gas sejauh ini mengajukan kebangkrutan akibat penurunan harga minyak.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Sidang Dakwaan Kasus...
Sidang Dakwaan Kasus Korupsi Tata Kelola Minyak Mentah
Stok Seret Bikin Harga...
Stok Seret Bikin Harga Minyak Mentah Dunia Terkerek Naik
Amerika Buka Pembatasan,...
Amerika Buka Pembatasan, Harga Minyak Akan Terus Naik
Harga Minyak Ambrol...
Harga Minyak Ambrol 9% dalam Sepekan, Minggu Depan Gimana?
Harga Minyak Mentah...
Harga Minyak Mentah Dunia Melayang Dekati Posisi USD70 Per Barel
Harga Minyak Mentah...
Harga Minyak Mentah Merosot Makin Dalam Saat Eropa Kembali Lockdown
Berita Terkini
Bendungan Sidan dan...
Bendungan Sidan dan Keureuto Diresmikan, Brantas Abipraya Perkuat Ketahanan Air dan Pangan
4 jam yang lalu
Listrik Padam Berhari-hari,...
Listrik Padam Berhari-hari, Becak Tenaga Surya Jadi Penyelamat dari Krisis Energi
4 jam yang lalu
Next Step Bangun Jembatan...
Next Step Bangun Jembatan Dagang UMKM Indonesia ke China
5 jam yang lalu
Orang Super Kaya Indonesia...
Orang Super Kaya Indonesia Diramal Melonjak Tercepat di Dunia, tapi Kelas Menengah Menyusut
5 jam yang lalu
Dirut PTPN I Beberkan...
Dirut PTPN I Beberkan Lima Pilar Industri Perkebunan
5 jam yang lalu
rToken Bitget Catat...
rToken Bitget Catat AUM USD114 Juta, rSPCX Pimpin Minat Investor
5 jam yang lalu
Infografis
Bagher Ghalibaf, Negosiator...
Bagher Ghalibaf, Negosiator Iran dan Tangan Kanan Mojtaba yang Mampu Tundukkan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved