Pertumbuhan Ekonomi Hanya 4,92% Dinilai Wajar

Kamis, 05 Mei 2016 - 16:23 WIB
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Hanya 4,92% Dinilai Wajar
A A A
JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang kuartal I 2016 yang hanya mencapai 4,92% di bawah target pemerintah yakni sebesar 5,3%, menurut Ekonom indef Dzulfian Syafrian masih wajar. Bahkan menurutnya secara year on year pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dimana tahun ini ekonomi akan lebih baik dibanding tahun sebelumnya.

"Sementara secara kuartalan dikatakan normal pasalnya memang siklusnya tahun ke tahun seperti itu, dan itu sama polanya," kata Dzulfian dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (5/5/2016).

(Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi di Bawah Target, JK Salahkan Pemda)

Akan tetapi, lanjut dia, ada dua hal yang menarik pada pertumbuhan ekonomi sepanjang kuartal I, pertama adanya perubahan masa panen dari Maret menjadi April, alhasil performa kuartal jadi di bawah prediksi. Menurut dia, perubahan ini lebih ke faktor eksternal, faktor alam, global warming.

"Minggu lalu saya di Inggris saja ada salju, padahal sudah tidak musim dingin tapi masuk musim semi. Global warming," paparnya.

Kemudian yang kedua terjadi pelemahan penyaluran kredit. Menurutnya ini sangat menarik karena paradox dan seharusnya pertumbuhan kredit mengalami kenaikan disebabkan semenjak beberapa bulan terakhir Bank Indonesia (BI) sudah beberapa kali menurunkan BI rate. "Bi rate turun dan seharusnya bunga kredit juga turun sehingga mendorong orang untuk ambil kredit," ungkapnya.

Namun kenapa tidak terjadi? hal itu diterangkan karena ada jeda atau leg waktu dari apa yang diputuskan BI dengan respons pasar. "Kedua, hal ini menunjukkan inefektivitas kebijakan ekspansif yang dilakukan oleh BI," imbuhnya.

Ketiga, berarti memang ada indikasi kuat ada sektor-sektor yang memang sedang dalam keadaan mengkhawatirkan. "Sektor yang gawat salah satu nya adalah komoditas, khususnya tambang dan batu bara. Sektor ini kolaps karena harga komoditas seperti batu bara dan kelapa sawit masih anjlok, tidak kunjung membaik," tandasnya.

Alhasil, banyak perusahaan dan pengusaha di sektor ini, lagi bedarah-darah. Ini juga salah satu faktor yang menjelaskan kenapa koefisien gini Indonesia turun jadi 0,4 karena salah satu penyebabnya adalah turunnya aktivitas ekonomi di sektor komoditas ini, khususnya tambang dan batu bara, dimana biasanya lebih bersifat padat modal (capital intensive) dan hanya dinikmati oleh segelintir orang.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Proyeksi Pertumbuhan...
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI Kembali Dipangkas
Membaca Ketahanan Ekonomi...
Membaca Ketahanan Ekonomi RI dalam Dinamika Global Kuartal III 2025
BI Proyeksikan Ekonomi...
BI Proyeksikan Ekonomi RI Tumbuh 4,7 Persen hingga 5,5 Persen di 2025
Prospek Bisnis Seiring...
Prospek Bisnis Seiring Pertumbuhan Ekonomi RI
Berita Terkini
Obat Generik Bebas Tarif...
Obat Generik Bebas Tarif 2 Tahun, Lalu Melonjak Jadi 200%
29 menit yang lalu
Jasaraharja Putera Raih...
Jasaraharja Putera Raih Pertumbuhan Berkelanjutan dan RBC Capai 371,90%
1 jam yang lalu
Pelabuhan Patimban Resmi...
Pelabuhan Patimban Resmi Layani Impor Perdana, Komponen Mobil Listrik BYD Lanjut ke Pabrik Subang
2 jam yang lalu
Kinerja Positif 2025,...
Kinerja Positif 2025, Jasa Raharja Catatkan Laba Bersih Rp2,30 Triliun
2 jam yang lalu
Harga Emas Hari Ini...
Harga Emas Hari Ini Berbalik Merayap Naik Rp3 Ribu per Gram, Intip Rincian Lengkapnya
3 jam yang lalu
DJP Gandeng Babinsa...
DJP Gandeng Babinsa dan Bhabinkamtibmas Awasi Pajak: Hanya Pendamping, Tak Perlu Khawatir
4 jam yang lalu
Infografis
Sensus Ekonomi 2026:...
Sensus Ekonomi 2026: Data untuk Memperkuat UMKM dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved