Tutup Perdagangan, IHSG Belum Keluar dari Zona Merah
Kamis, 19 Mei 2016 - 16:58 WIB
Tutup Perdagangan, IHSG Belum Keluar dari Zona Merah
A
A
A
JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan Kamis (19/5/2016) belum bisa keluar dari zona merah. Indeks turun 30,14 poin alias 0,64% ke level 4.704,22.
Sebelumnya pada perdagangan sesi I, indeks jatuh 33,542 poin atau 0,71% ke level 4.700,815 pada pukul 12.00 WIB. Adapun pada pembukaan perdagangan hari, indeks terkoreksi 0,89 poin atau 0,02% ke level 4.733,47.
Lemahnya indeks dipengaruhi oleh menguatnya dolar AS dan rencana The Fed yang menginisiasi kenaikan suku bunga pada Juni mendatang. Hal sama juga berdampak pada mayoritas bursa Asia.
"Risalah Federal Reserve yang akan menaikkan suku bunga mengirimkan dolar lebih kuat dan pasar Asia jadi lebih rendah pada hari Kamis ini,” ujar Angus Nicholson, seorang analis pasar di IG, seperti dilansir dari CNBC, Kamis (19/5/2016).
Indeks patokan Jepang, Nikkei 225 berakhir datar hanya naik 0,01% atau 1,97 poin ke 16,646.66, didorong oleh naiknya dolar yang membantu menekan yen yang masih tinggi. Kekuatan mata uang Jepang berpengaruh terhadap pendapatan eksportir negara itu.
Indeks Hang Seng Hong Kong turun 132,08 poin atau 0,67% ke 19,694.33. Karena dolar Hong Kong dipatok terhadap dolar AS, setiap kenaikan suku bunga di AS cenderung mengalir melalui ekonomi protektorat ini. Shanghai Composite berakhir datar, turun 0,18 poin pada 2.807,33 setelah terombang-ambing antara positif dan negatif selama sesi perdagangan. Sedangkan Shenzhen Composite meningkat 0,56% atau 9,80 poin menjadi 1.775,88.
Australia S & P / ASX 200 berakhir turun 0,61% atau 32,86 poin pada level 5.323,30. Kospi Korea Selatan berakhir turun 0,51% atau 9,95 poin pada 1.946,78; dimana suku bunga yang lebih tinggi di AS dapat memacu dana keluar dari negara itu.
Sementara itu, nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia tercatat sebesar Rp9,33 triliun dengan 6,52 miliar lembar saham diperdagangkan. Dan transaksi bersih asing minus Rp697,53 miliar dengan aksi jual asing mencapai Rp6,14 triliun dan aksi beli sebesar Rp5,45 triliun.
Tercatat 108 saham menguat, 193 saham melemah dan 91 saham stagnan. Adapun sektor konstruksi memimpin pelemahan yaitu turun 2,53%, sementara sektor saham yang naik adalah keuangan sebesar 0,42%.
Untuk top gainers adalah PT Mayora Indah Tbk (MYOR), PT Darya Varia Laboratoria Tbk (DVLA), PT Arwana Citra Mulia Tbk (ARNA), PT Asahimas Flat Glass Tbk (AMFG), dan PT Unggul Indah Cahaya Tbk (UNIC).
Sementara top losers adalah PT Taisho Pharmaceutical Indonesia Tbk (SQBI), PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT Maskapai Reasuransi Indonesia Tbk (MREI), PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA), dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS).
Sebelumnya pada perdagangan sesi I, indeks jatuh 33,542 poin atau 0,71% ke level 4.700,815 pada pukul 12.00 WIB. Adapun pada pembukaan perdagangan hari, indeks terkoreksi 0,89 poin atau 0,02% ke level 4.733,47.
Lemahnya indeks dipengaruhi oleh menguatnya dolar AS dan rencana The Fed yang menginisiasi kenaikan suku bunga pada Juni mendatang. Hal sama juga berdampak pada mayoritas bursa Asia.
"Risalah Federal Reserve yang akan menaikkan suku bunga mengirimkan dolar lebih kuat dan pasar Asia jadi lebih rendah pada hari Kamis ini,” ujar Angus Nicholson, seorang analis pasar di IG, seperti dilansir dari CNBC, Kamis (19/5/2016).
Indeks patokan Jepang, Nikkei 225 berakhir datar hanya naik 0,01% atau 1,97 poin ke 16,646.66, didorong oleh naiknya dolar yang membantu menekan yen yang masih tinggi. Kekuatan mata uang Jepang berpengaruh terhadap pendapatan eksportir negara itu.
Indeks Hang Seng Hong Kong turun 132,08 poin atau 0,67% ke 19,694.33. Karena dolar Hong Kong dipatok terhadap dolar AS, setiap kenaikan suku bunga di AS cenderung mengalir melalui ekonomi protektorat ini. Shanghai Composite berakhir datar, turun 0,18 poin pada 2.807,33 setelah terombang-ambing antara positif dan negatif selama sesi perdagangan. Sedangkan Shenzhen Composite meningkat 0,56% atau 9,80 poin menjadi 1.775,88.
Australia S & P / ASX 200 berakhir turun 0,61% atau 32,86 poin pada level 5.323,30. Kospi Korea Selatan berakhir turun 0,51% atau 9,95 poin pada 1.946,78; dimana suku bunga yang lebih tinggi di AS dapat memacu dana keluar dari negara itu.
Sementara itu, nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia tercatat sebesar Rp9,33 triliun dengan 6,52 miliar lembar saham diperdagangkan. Dan transaksi bersih asing minus Rp697,53 miliar dengan aksi jual asing mencapai Rp6,14 triliun dan aksi beli sebesar Rp5,45 triliun.
Tercatat 108 saham menguat, 193 saham melemah dan 91 saham stagnan. Adapun sektor konstruksi memimpin pelemahan yaitu turun 2,53%, sementara sektor saham yang naik adalah keuangan sebesar 0,42%.
Untuk top gainers adalah PT Mayora Indah Tbk (MYOR), PT Darya Varia Laboratoria Tbk (DVLA), PT Arwana Citra Mulia Tbk (ARNA), PT Asahimas Flat Glass Tbk (AMFG), dan PT Unggul Indah Cahaya Tbk (UNIC).
Sementara top losers adalah PT Taisho Pharmaceutical Indonesia Tbk (SQBI), PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT Maskapai Reasuransi Indonesia Tbk (MREI), PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA), dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS).
(ven)
Lihat Juga :