KEIN Klaim Ekonomi Indonesia Masih Jauh dari Resesi

Rabu, 01 Juni 2016 - 21:21 WIB
KEIN Klaim Ekonomi Indonesia...
KEIN Klaim Ekonomi Indonesia Masih Jauh dari Resesi
A A A
JAKARTA - Komite‎ Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) mengklaim bahwa perekonomian Indonesia saat ini masih jauh dari arah resesi. Pasalnya, sejauh ini Produk Domestik Bruto (PDB) masih menunjukkan pertumbuhan.

‎Wakil Ketua KEIN, Arif Budimanta menjelaskan, resesi sendiri secara konsep digambarkan dimana indikator PDB tidak menunjukkan pergerakan menurun ataupun negatif selama dua kuartal hingga satu tahun. Sementara kondisi saat ini, masih jauh lebih baik dibanding krisis pada 2008-2009.

"‎Kalau kita lihat perekonomian Indonesia, kita bandingkan keadaan 2008-2009 dengan 2014-2015, dan kita tau shock ekonomi global terjadi pada periode tersebut. Kalau pada level 2008-2009 penurunannya tajam," katanya di Kantor KEIN, Jakarta, Rabu (1/6/2016).

Menurutnya, perekonomian Indonesia meskipun sempat melambat namun kini cenderung mengalami peningkatan. Perlambatan itu pun tidak hanya dirasakan Indonesia tetapi sejalan dengan perlambatan pertumbuhan negara di dunia.

"Jadi apakah resesi terjadi? Kami katakan tidak. Karena kita masih growth dari waktu ke waktu. Bahkan kecenderungan terhadap growth dari kuartal I 2016 dibanding kuartal I 2015 itu jauh lebih tinggi. Apalagi kemudian tren growth secara keseluruhan meningkat," imbuh dia.

(Baca: Utang Pemerintah Tembus Rp3.429 Triliun Dibilang Masih Aman)

Selain itu, sambung mantan anggota DPR RI ini, kondisi fundamental ekonomi‎ Indonesia saat ini masih jauh lebih baik dibanding krisis 2008-2009. Indonesia, dikatakannya, sangat jauh dari kondisi kritis. Bahkan, inflasi pun dari waktu ke waktu terlihat lebih baik pengendaliannya.

"‎2014 memang terjadi inflasi yang cukup tinggi karena pada waktu itu kita melakukan proses transformasi belanja dari nonproduktif jadi lebih produktif, seperti subsidi BBM. Tetapi kemudian‎ inflasi pada level minimal dan lebih rendah," terangnya.

(Baca: Saran KEIN Kejar Target Pertumbuhan Ekonomi RI)

Tak hanya itu, kinerja harga dan imbal hasil (yeild) terhadap surat utang negara (SUN) saat ini pun relatif lebih rendah dari yang lain. BI rate juga terus mengalami penurunan meski masih terbilang tinggi, terlebih mulai Agustus 2016 suku bunga acuan berubah menjadi 7 days repo rate.

"‎Cadangan devisa juga relatif lebih baik. Angka kemiskinan juga menurun. Artinya pertumbuhan ekonomi kita secara keseluruhan, elastisitas produktivitasnya terjaga. Kualitasnya juga relatif terjaga. Tapi memang masih perlu untuk kita tingkatkan. Karena memang masih belum begitu sesuai dengan harapan‎," pungkasnya.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkini
Daftar Lengkap Harga...
Daftar Lengkap Harga Emas Antam Hari Ini usai Malas Bergerak di Rp2,6 Juta per Gram
16 menit yang lalu
Dulu Termiskin, Negara...
Dulu Termiskin, Negara Kecil Ini Mendadak Jadi Raja Minyak Baru Akibat Perang Iran!
34 menit yang lalu
Tekanan Jual Mulai Terkendali,...
Tekanan Jual Mulai Terkendali, IHSG Berpeluang Lanjutkan Rebound ke 6.000-6.050
1 jam yang lalu
Babak Baru Perang Energi:...
Babak Baru Perang Energi: OPEC+ Siap Banjiri Pasar Global, Siap-siap Harga Minyak Makin Ambles
3 jam yang lalu
Lompatan Sang Anak Bawang,...
Lompatan Sang 'Anak Bawang', Rahasia Sukses Vietnam Naik Kelas Jadi Berpendapatan Menengah Atas
9 jam yang lalu
TBS Foundation Dukung...
TBS Foundation Dukung Penanganan Kesehatan Warga Terdampak Kebakaran TPA Jatiwaringin
12 jam yang lalu
Infografis
Kaleidoskop 2025: 7...
Kaleidoskop 2025: 7 Peristiwa Ekonomi Paling Heboh di Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved