Selama Ramadhan, Pemerintah Waspadai Kenaikan Tiga Komoditas
Kamis, 02 Juni 2016 - 00:36 WIB
Selama Ramadhan, Pemerintah Waspadai Kenaikan Tiga Komoditas
A
A
A
YOGYAKARTA - Pemerintah diminta mewaspadai kenaikan harga sejumlah bahan pokok pada Ramadhan nanti. Komoditas yang dikhawatirkan mengganggu stabilitas di antaranya beras, gula pasir dan minyak goreng. Komoditas-komoditas tersebut akan menunjang inflasi yang terjadi di Yogyakarta selama bulan Juni ini.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Daerah Istimewa Yogyakarta, Bambang Kristanto mengatakan, harga beberapa komoditas seperti beras, gula pasir dan minyak goreng berpotensi naik di bulan puasa nanti. Tingginya permintaan akibat peningkatan jumlah konsumsi selama Ramadhan bisa menyumbang inflasi. Seperti bulan Mei 2016 kemarin, peningkatan harga bahan makanan mengakibatkan terjadinya inflasi.
"Padahal bulan April lalu deflasi," tuturnya, Rabu (1/6/2016).
Bambang mengungkapkan, bulan Mei lalu inflasi di Yogyakarta mencapai 0,08%. Inflasi ini akibat dari kenaikan harga-harga yang menyebabkan berubahnya angka indeks harga konsumen (IHK). Pada Mei kemarin, lima kelompok pengeluaran mengalami kenaikan indeks di antaranya kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau naik 0,34%.
Kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar naik 0,14% serta kelompok sandang 0,53%, kelompok kesehatan naik 0,17%. Kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga naik 0,03 %. Sementara dua kelompok yang mengalami penurunan indeks di antaranya kelompok bahan makanan turun 0,27% dan kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan turun 0,03%.
Kenaikan harga gula pasir sekitar 8,37% menjadi penyumbang terbesar inflasi bulan Mei karena kontribusinya mencapai 0,04%. Sementara minyak goreng naik 3,12% memberikan andil 0,03%. Daging ayam ras yang naik 2,96% memberi kontribusi 0,03%. Demikian juga yang memberi andil sama adalah kenaikan telur ayam ras 4,40%.
BPS juga mencatat kenaikan sayur mayur, emas perhiasan, susu balita, upah pembantu rumah tangga, apel, wortel, pisang, bahan bakar rumah tangga, daging sapi serta ongkos laundry juga mengakibatkan infilasi. "Memang semua komoditas itu ada kecenderungan naik," terangnya.
Karena itu, sebaiknya pemerintah mewaspadai kenaikan komoditas-komoditas tertentu selama Ramadhan. Komoditas beras misalnya, pemerintah harus memperlancar pasokan ke daerah ini. Komoditas beras menjadi barang yang rentan mengalami kenaikan karena rantai distribusi yang panjang. Akibat panjangnya distribusi dari petani ke konsumen, biasanya harga beras naik 6%-9%.
Jelang Ramadhan kali ini, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) melakukan pantauan harga ke sejumlah pasar. Pantauan tersebut dilakukan untuk mengetahui harga-harga di pasaran. Sehingga jika harga sudah diketahui maka bisa diambil kebijakan untuk mengendalikan kestabilan harga di tingkat masyarakat. Jika harga dapat dikendalikan, kemungkinan besar inflasi juga akan terjaga.
"Kita pantau ketat perkembangan harga saat ini," ujar Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Yogyakarta, Arif Budi Santosa.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Daerah Istimewa Yogyakarta, Bambang Kristanto mengatakan, harga beberapa komoditas seperti beras, gula pasir dan minyak goreng berpotensi naik di bulan puasa nanti. Tingginya permintaan akibat peningkatan jumlah konsumsi selama Ramadhan bisa menyumbang inflasi. Seperti bulan Mei 2016 kemarin, peningkatan harga bahan makanan mengakibatkan terjadinya inflasi.
"Padahal bulan April lalu deflasi," tuturnya, Rabu (1/6/2016).
Bambang mengungkapkan, bulan Mei lalu inflasi di Yogyakarta mencapai 0,08%. Inflasi ini akibat dari kenaikan harga-harga yang menyebabkan berubahnya angka indeks harga konsumen (IHK). Pada Mei kemarin, lima kelompok pengeluaran mengalami kenaikan indeks di antaranya kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau naik 0,34%.
Kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar naik 0,14% serta kelompok sandang 0,53%, kelompok kesehatan naik 0,17%. Kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga naik 0,03 %. Sementara dua kelompok yang mengalami penurunan indeks di antaranya kelompok bahan makanan turun 0,27% dan kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan turun 0,03%.
Kenaikan harga gula pasir sekitar 8,37% menjadi penyumbang terbesar inflasi bulan Mei karena kontribusinya mencapai 0,04%. Sementara minyak goreng naik 3,12% memberikan andil 0,03%. Daging ayam ras yang naik 2,96% memberi kontribusi 0,03%. Demikian juga yang memberi andil sama adalah kenaikan telur ayam ras 4,40%.
BPS juga mencatat kenaikan sayur mayur, emas perhiasan, susu balita, upah pembantu rumah tangga, apel, wortel, pisang, bahan bakar rumah tangga, daging sapi serta ongkos laundry juga mengakibatkan infilasi. "Memang semua komoditas itu ada kecenderungan naik," terangnya.
Karena itu, sebaiknya pemerintah mewaspadai kenaikan komoditas-komoditas tertentu selama Ramadhan. Komoditas beras misalnya, pemerintah harus memperlancar pasokan ke daerah ini. Komoditas beras menjadi barang yang rentan mengalami kenaikan karena rantai distribusi yang panjang. Akibat panjangnya distribusi dari petani ke konsumen, biasanya harga beras naik 6%-9%.
Jelang Ramadhan kali ini, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) melakukan pantauan harga ke sejumlah pasar. Pantauan tersebut dilakukan untuk mengetahui harga-harga di pasaran. Sehingga jika harga sudah diketahui maka bisa diambil kebijakan untuk mengendalikan kestabilan harga di tingkat masyarakat. Jika harga dapat dikendalikan, kemungkinan besar inflasi juga akan terjaga.
"Kita pantau ketat perkembangan harga saat ini," ujar Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Yogyakarta, Arif Budi Santosa.
(ven)
Lihat Juga :