Jokowi: PLTU Batang Bukti Pemerintah Mampu Selesaikan Masalah
Kamis, 09 Juni 2016 - 14:35 WIB
Jokowi: PLTU Batang Bukti Pemerintah Mampu Selesaikan Masalah
A
A
A
JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menilai, dimulainya pembangunan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batang yang berkapasitas 2X1.000 megawatt (MW), menjadi bukti bahwa pemerintah mampu menyelesaikan masalah yang terjadi dalam pembangunan proyek infrastruktur prioritas.
Proyek Central Java Powerplan ini digagas sejak 2006, kemudian terhenti pada 2011 karena persoalan pembebasan lahan. Menurutnya, proyek PLTU Batang memang telah ditetapkan pada 2006.
(Baca: Mangkrak 4 Tahun, Pendanaan PLTU Terbesar se-Asia Akhirnya Cair)
Sayangnya, terjadi masalah pembebasan lahan yang menyebabkan proyek ini empat tahun berhenti. Kemudian, pada 2015 dirinya diminta mencarikan solusi agar proyek PLTU terbesar se-Asia ini dapat kembali berjalan.
"Saat itu saya berjanji, enam bulan akan coba saya selesaikan. Saya juga sampaikan, ini adalah proyek PPP (public private partnership) pertama. Saya sampaikan juga ke pemerintah Jepang, saya akan berusaha menyelesaikan masalah ini karena sudah berhenti 4 tahun," katanya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (9/6/2016).
Saat bertemu dengan Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe beberapa waktu lalu, Jokowi mengaku ditagih janji untuk membebaskan lahan PLTU Jepang. Meski meleset dari janji, sambung mantan orang nomor satu di DKI Jakarta ini, namun pemerintah akhirnya dapat menyelesaikan pembebasan lahan pembangunan PLTU Batang.
"Janji saya enam bulan untuk menyelesaikan, ternyata meleset tidak selesai. Mundur enam bulan lagi, tapi Alhamdulillah kita lihat hari ini sudah selesai. Karena selalu yang saya tanyakan, sekarang kalau pembebasan selesai, financial closing-nya kapan. Ternyata juga mundur-mundur. Waktu saya bertemu dengan PM, saya tanyakan juga karena PM menanyakan ke saya bagaimana PLTU Batang," tutur dia.
(Baca: Sudirman Said Janji PLTU Batang Selesai dalam Tiga Tahun)
Akhirnya, hari ini proses penyelesaian pendanaan (financial closing) PLTU Batang pun diserahkan. Pembangunan megaproyek kelistrikan ini pun bisa segera dimulai meski terlambat dari yang dijanjikan. "Tapi memang problem di lapangan bukan masalah yang remeh dan kecil. Kalau saya ceritakan, sehari enggak akan selesai. Rumit," kata Jokowi.
Menurutnya, proyek ini bisa memberikan pesan bahwa pemerintah pasti tidak main-main untuk menyelesaikan masalah jika menyangkut kebutuhan dan kepentingan masyarakat. Apalagi, persoalan kelistrikan sangat krusial di Indonesia.
Pasalnya, jka proyek ini tidak kunjung selesai, maka pada 2019 pemadaman listrik akan bertambah luas. "Kalau ini tidak dimulai saya sudah membayangkan 2019 byar-pet akan tambah meluas. Karena kebutuhan listrik tiap tahun bertambah. Begitu ini tidak selesai, yang lain juga mikir-mikir investor. Ini pesan bahwa pemerintah bisa menyelesaikan masalah," tandasnya,
Proyek Central Java Powerplan ini digagas sejak 2006, kemudian terhenti pada 2011 karena persoalan pembebasan lahan. Menurutnya, proyek PLTU Batang memang telah ditetapkan pada 2006.
(Baca: Mangkrak 4 Tahun, Pendanaan PLTU Terbesar se-Asia Akhirnya Cair)
Sayangnya, terjadi masalah pembebasan lahan yang menyebabkan proyek ini empat tahun berhenti. Kemudian, pada 2015 dirinya diminta mencarikan solusi agar proyek PLTU terbesar se-Asia ini dapat kembali berjalan.
"Saat itu saya berjanji, enam bulan akan coba saya selesaikan. Saya juga sampaikan, ini adalah proyek PPP (public private partnership) pertama. Saya sampaikan juga ke pemerintah Jepang, saya akan berusaha menyelesaikan masalah ini karena sudah berhenti 4 tahun," katanya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (9/6/2016).
Saat bertemu dengan Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe beberapa waktu lalu, Jokowi mengaku ditagih janji untuk membebaskan lahan PLTU Jepang. Meski meleset dari janji, sambung mantan orang nomor satu di DKI Jakarta ini, namun pemerintah akhirnya dapat menyelesaikan pembebasan lahan pembangunan PLTU Batang.
"Janji saya enam bulan untuk menyelesaikan, ternyata meleset tidak selesai. Mundur enam bulan lagi, tapi Alhamdulillah kita lihat hari ini sudah selesai. Karena selalu yang saya tanyakan, sekarang kalau pembebasan selesai, financial closing-nya kapan. Ternyata juga mundur-mundur. Waktu saya bertemu dengan PM, saya tanyakan juga karena PM menanyakan ke saya bagaimana PLTU Batang," tutur dia.
(Baca: Sudirman Said Janji PLTU Batang Selesai dalam Tiga Tahun)
Akhirnya, hari ini proses penyelesaian pendanaan (financial closing) PLTU Batang pun diserahkan. Pembangunan megaproyek kelistrikan ini pun bisa segera dimulai meski terlambat dari yang dijanjikan. "Tapi memang problem di lapangan bukan masalah yang remeh dan kecil. Kalau saya ceritakan, sehari enggak akan selesai. Rumit," kata Jokowi.
Menurutnya, proyek ini bisa memberikan pesan bahwa pemerintah pasti tidak main-main untuk menyelesaikan masalah jika menyangkut kebutuhan dan kepentingan masyarakat. Apalagi, persoalan kelistrikan sangat krusial di Indonesia.
Pasalnya, jka proyek ini tidak kunjung selesai, maka pada 2019 pemadaman listrik akan bertambah luas. "Kalau ini tidak dimulai saya sudah membayangkan 2019 byar-pet akan tambah meluas. Karena kebutuhan listrik tiap tahun bertambah. Begitu ini tidak selesai, yang lain juga mikir-mikir investor. Ini pesan bahwa pemerintah bisa menyelesaikan masalah," tandasnya,
(izz)
Lihat Juga :