Bulog Dituding Untung Besar dari Impor Daging Kerbau

Rabu, 21 September 2016 - 16:09 WIB
Bulog Dituding Untung...
Bulog Dituding Untung Besar dari Impor Daging Kerbau
A A A
JAKARTA - Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) menilai, keputusan pemerintah untuk mengimpor daging kerbau dari India hanya menguntungkan Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Bulog). Pasalnya pemerintah hanya menunjuk Bulog untuk mendistribusikan daging kerbau yang hingga akhir tahun ditargetkan mencapai 10 ribu ton.

(Baca Juga: Peternak Sapi di Ambang Kehancuran Terimbas Impor Daging Kerbau)

Ketua APDI Asnawi mengatakan, harga beli daging kerbau di India yaitu sekitar Rp46 ribu per kg dengan tambahan ongkos operasional maka modal Bulog sekitar Rp53 ribu per kg. Daging kerbau tersebut dijual ke 43 pasar di Tanah Air.

"Teman-teman di pasar diminta untuk harga tebus kisaran di atas Rp59 ribu sampai Rp60 ribu dan tidak boleh dijual lebih dari Rp65 ribu per kg," katanya dalam Roundtabel Discussion Koran Sindo, Jakarta, Rabu (21/9/2016).

(Baca Juga: Impor Daging Kerbau dari India, Pemerintah Dinilai Tergesa-gesa)

Artinya, kata dia, dengan modal tersebut maka Bulog mendapatkan keuntungan kotor sekitar Rp10 ribu sampai Rp19 ribu per kg. Lebih jauh, Bulog juga hanya tinggal duduk manis karena modal, izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan lokalisasi telah disiapkan pemerintah.

"Ini yang mengais keuntungan paling besar adalah Bulog. Ini bisnis anyar, siapa yang diuntungkan? Menurut saya yang diuntungkan itu Bulog. Dia modal diberikan dengan bunga murah, izin disiapkan, termasuk RPH disiapkan. Jadi lo tinggal duduk manis doang," imbuh dia.

(Baca Juga: Peternak Ungkap Populasi Sapi Lokal Makin Terkikis)

Asnawi menambahkan, keputusan pemerintah untuk mengimpor daging kerbau dari India juga memukul pedagang sapi lokal. Sebab, harga daging kerbau yang murah tidak sebanding dengan daging sapi yang memang lebih mahal di pasaran.

"Kalau pemerintah gempur pasar becek dengan daging kerbau itu bukan apple to apple. Harusnya sapi dengan sapi," tandasnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Gawat! Produksi Daging...
Gawat! Produksi Daging Sapi Tidak Cukup Memenuhi Kebutuhan Nasional
Didorong Pusat Bantu...
Didorong Pusat Bantu Pasokan Daging Sapi, Peternak Kobar Diminta Tingkatkan Inovasi
Penyakit Mulut dan Kuku...
Penyakit Mulut dan Kuku serta UU Peternakan
DPR Dukung Rencana Erick...
DPR Dukung Rencana Erick Thohir Beli Peternakan Sapi di Belgia
Ini Alasan Daging Sapi...
Ini Alasan Daging Sapi Australia Memiliki Kualitas Terbaik
Erick Thohir Incar Peternakan...
Erick Thohir Incar Peternakan Sapi di Belgia
Berita Terkini
Pertamina Pangkas 31...
Pertamina Pangkas 31 Anak Usaha Sepanjang Semester I 2026
8 jam yang lalu
Bukan Sekadar Rumah...
Bukan Sekadar Rumah Sudut, Ini Alasan Rumah Hoek Selalu Diburu
8 jam yang lalu
Sambangi RS IHC Perkebunan...
Sambangi RS IHC Perkebunan Jember Klinik, Komut Pertamina Tekankan Inovasi dan Empati
8 jam yang lalu
Stablecoin Rupiah Dinilai...
Stablecoin Rupiah Dinilai Berpotensi Perkuat Ekonomi Digital Indonesia
10 jam yang lalu
Transformasi BUMN Jalan...
Transformasi BUMN Jalan Terus lewat Peleburan 240 Perusahaan, Apa Manfaatnya?
10 jam yang lalu
Pertamina NRE Akselerasi...
Pertamina NRE Akselerasi Pembangunan PLTS di Lahan Pascatambang PTBA
11 jam yang lalu
Infografis
4 Pemicu PM Inggris...
4 Pemicu PM Inggris Mundur, dari Pemberontakan Internal hingga Terlalu Banyak Janji
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved