Indef: Pemerintah Belum Mampu Bereskan Ketimpangan di Indonesia

Kamis, 20 Oktober 2016 - 22:36 WIB
Indef: Pemerintah Belum...
Indef: Pemerintah Belum Mampu Bereskan Ketimpangan di Indonesia
A A A
JAKARTA - Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara‎ menilai sejauh ini, pemerintah belum mampu membereskan ketimpangan yang terjadi di Indonesia. Hal ini terlihat dari catatan Indef, dimana beberapa pulau yang ekonominya bergantung kepada komoditas, kini pertumbuhannya malah minus.

Hal ini disebabkan pembangunan infrastruktur dan pembenahan lainnya untuk menggerakan ekonomi, masih berkonsep Jawa sentris. Sehingga, wilayah-wilayah lain seolah hanya bermimpi saja untuk daerahnya dibangun.

Beberapa daerah yang bergantung pada komoditas mentah seperti Kalimantan Timur, kini pertumbuhan PDRB (Product Domestic Regional Bruto) minus 1,28%, Aceh minus 0,7%, Riau hanya tumbuh 0,22%. Sementara hilirisasi industri belum maksimal di daerah. "Indef melihat adanya ketimpangan antar wilayah yang angkanya masih melebar. Pemerintah tidak berusaha membereskan ini," kata Bhima di Jakarta, Kamis (20/10/2016).

Di Jawa, justru dari tahun 1971, pada waktu itu pemerintahnya punya mimpi agar ketimpangan antar wilayah dicoba dikurangi. Namun data terakhir yaitu 2014, 2015, dan triwulan II 2016, pembangunan masih Jawa sentris.

"Angkanya masih 60% dari total pembangunan sumbangsih terhadap PDB. Kenapa Jawa kontribusinya masih besar, ya karena 54,5% masih di Jawa," imbuh dia.

Di Sumatera, pembangunan 20,8%, Maluku 0,8%. Dan ini membuat kesenjangan semakin melebar. The Art of Lie Statistics mengungkapkan, faktanya PDRB per kapita antar wilayah Indonesia masih ada ketimpangan luar biasa.

Lantas jika dihubungan dengan pendapatan, kata Bhima, BPS yang masih berbicara gini ratio dinilai dari pengeluaran, hal ini menurut Indef patut dicermati.

"Kalau boleh jujur kenapa kesenjangan menurun? Kalau dilihat dari pengeluaran, orang-orang kaya menahan konsumsi, namun tidak terjadi perbaikan pendapatan di ekonomi lemah. Dilihat dari segi pendapatan kan angkanya makin tinggi, 40%. Sementara pendapatan terendah tidak mengalami kenaikan. Jadi apakah betul kemiskinan menurun?" tanya dia.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Digital Indonesia
BI Proyeksikan Ekonomi...
BI Proyeksikan Ekonomi RI Tumbuh 4,7 Persen hingga 5,5 Persen di 2025
Indonesia Butuh Rp47.587,3...
Indonesia Butuh Rp47.587,3 Triliun untuk Pertumbuhan Ekonomi 8%
IMF: Pertumbuhan Ekonomi...
IMF: Pertumbuhan Ekonomi dan PDB RI Tembus Rp22,729 Triliun
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Berita Terkini
AS Gempur Iran 12 Malam...
AS Gempur Iran 12 Malam Beruntun & Houthi Tembak Tanker Saudi, Harga Minyak Dunia Tembus USD96/Barel
4 menit yang lalu
Purbaya Bebaskan Bea...
Purbaya Bebaskan Bea Masuk Impor LPG dan Komponen Pesawat Udara
29 menit yang lalu
Indonesia Punya 40%...
Indonesia Punya 40% Cadangan Nikel Dunia, Anehnya Tak Bisa Pimpin Rantai Pasok Baterai Global
1 jam yang lalu
1.500 Pekerja Tekstil...
1.500 Pekerja Tekstil Terancam Kena PHK, Said Iqbal Ungkap Lokasinya
1 jam yang lalu
Relevansi Jadi Kunci...
Relevansi Jadi Kunci Utama Membangun Kekuatan Merek di Era Digital
10 jam yang lalu
Eropa Mulai Terbelah,...
Eropa Mulai Terbelah, Enam Negara Tolak Sanksi Baru terhadap Rusia
10 jam yang lalu
Infografis
Bagher Ghalibaf, Negosiator...
Bagher Ghalibaf, Negosiator Iran dan Tangan Kanan Mojtaba yang Mampu Tundukkan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved