BI Sebut Analis Jadi Penyebab Rupiah Anjlok
Jum'at, 11 November 2016 - 15:46 WIB
BI Sebut Analis Jadi Penyebab Rupiah Anjlok
A
A
A
JAKARTA - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara mengatakan, analisa yang berlebihan terkait rencana kebijakan Amerika Serikat (AS) setelah Pemilihan Presiden (Pilpres) jadi penyebab kemerosotan rupiah. Karena hal tersebut, dia menyarankan agar para analis tidak menganalisa secara berlebihan sehingga tidak menjadi sentimen negatif.
"Saat Trump menang, biasalah namanya market bikin analisis mengenai dunia, serta dampaknya ke negara emerging market (EM). Karena kalau AS memang kemudian jadi proteksionisme, maka kemudian ekspor dari EM ke AS jadi terhambat. Analisis-analisis itu menurut kami sih sedikit banyak menjadi penyebab," kata dia di Gedung BI, Jakarta, Jumat (11/10/2016).
(Baca Juga: Sri Mulyani Bilang Rupiah Tergerus Tak Perlu Khawatir)
Namun demikian dia menambahkan, analisis-analisis tersebut sebetulnya tidak berkaitan dengan Indonesia, tapi berdampak untuk negara yang sangat berkaitan dengan ekonomi AS. Misalnya, pada tanggal 8-9 November currency negara Mexico melemah 10% dalam satu hari, walaupun kemudian membaik 7%.
"Nah analis-analis seperti itu masih berkembang sampai kemarin malam, namanya juga pasar ya. Tapi saya harap, jika ada pemberitaan sebaiknya memang diberitakan dari sisi fundamental rupiah," ujar dia
Sebab lanjut dia, pelemahan rupiah pada hari ini sebetulnya sedikit banyak dipengaruhi oleh negara-negara yang memiliki kaitan langsung dengan AS. Misalnya Brasil, semalam BI masih melihat currency negara tersebut tertekan karena analisis tentang AS. Rupiah sendiri di pasar luar negeri yang diperdagangkan non deliverable forward (NDF) market, di pasar Jakarta juga turun.
"Pasar NDF melemah tanpa melihat fundamental Indonesia, pokoknya meliht currency yang lain melemah maka Indonesia, para trader lihat melemah juga. Sehingga pagi tadi rupiah dibuka Rp13.400 karena semalam mengikuti apa yang terjadi di Meksiko, Brazil dan lainnya," pungkasnya.
"Saat Trump menang, biasalah namanya market bikin analisis mengenai dunia, serta dampaknya ke negara emerging market (EM). Karena kalau AS memang kemudian jadi proteksionisme, maka kemudian ekspor dari EM ke AS jadi terhambat. Analisis-analisis itu menurut kami sih sedikit banyak menjadi penyebab," kata dia di Gedung BI, Jakarta, Jumat (11/10/2016).
(Baca Juga: Sri Mulyani Bilang Rupiah Tergerus Tak Perlu Khawatir)
Namun demikian dia menambahkan, analisis-analisis tersebut sebetulnya tidak berkaitan dengan Indonesia, tapi berdampak untuk negara yang sangat berkaitan dengan ekonomi AS. Misalnya, pada tanggal 8-9 November currency negara Mexico melemah 10% dalam satu hari, walaupun kemudian membaik 7%.
"Nah analis-analis seperti itu masih berkembang sampai kemarin malam, namanya juga pasar ya. Tapi saya harap, jika ada pemberitaan sebaiknya memang diberitakan dari sisi fundamental rupiah," ujar dia
Sebab lanjut dia, pelemahan rupiah pada hari ini sebetulnya sedikit banyak dipengaruhi oleh negara-negara yang memiliki kaitan langsung dengan AS. Misalnya Brasil, semalam BI masih melihat currency negara tersebut tertekan karena analisis tentang AS. Rupiah sendiri di pasar luar negeri yang diperdagangkan non deliverable forward (NDF) market, di pasar Jakarta juga turun.
"Pasar NDF melemah tanpa melihat fundamental Indonesia, pokoknya meliht currency yang lain melemah maka Indonesia, para trader lihat melemah juga. Sehingga pagi tadi rupiah dibuka Rp13.400 karena semalam mengikuti apa yang terjadi di Meksiko, Brazil dan lainnya," pungkasnya.
(akr)
Lihat Juga :