Berhasil Lakukan Efisiensi, Utang Pertamina Jauh Berkurang
Minggu, 20 November 2016 - 21:58 WIB
Berhasil Lakukan Efisiensi, Utang Pertamina Jauh Berkurang
A
A
A
INDRAMAYU - PT Pertamina terus berusaha tingkatkan kinerja mereka dengan terus meningkatkan peran mereka di bidang penyediaan energi. Mereka berpacu untuk menghilangkan ketergantungam impor bahan bakar dari luar negeri.
Humas PT Pertamina Pusat, Rudy Arifianto mengklaim dalam dua tahun terakhir Pertamina telah berhasil membuat berbagai perubahan. Di tengah merosotnya harga minyak dunia dalam dua tahun terakhir dari USD110 perbarel menjadi titik terendah USD24.
"Di saat perusahaan energi kelas dunia gulung tikar akibat merosotnya harga minyak, Pertamina bisa berkembang," tuturnya saat Gathering Media Marketing Operation Region IV di Indramayu Jawa Barat, Minggu (20/11/2016).
Rudy menjelaskan, Pertamina berhasil melakukan efisiensi biaya hingga 27 %, bahkan mampu menyerap tenaga kerja cukup banyak dan berhasil melakukan ekspansi hingga ke luar negeri. Meski demikian, Rudy mengatakan, sebuah tantangan besar masih ada saat ini, kapasitas produksi yang mereka miliki belum mampu memenuhi kebutuhan bahan bakar di tanah air.
Saat ini pesaing terdekat justru dari negeri tetangga yaitu Singapura karena mereka justru menjadi pemasok kekurangan bahan bakar di Indonesia. Kendati demikian impor bahan bakar Indonesia terus mengalami penurunan termasuk dari Singapura.
Rudy menyebutkan kapasitas produksi Singapura sebesar 1,5 juta barel perhari. Padahal konsumsi bahan bakar mereka hanya 150 barel perhari. Surplus tersebut mereka ekspor ke Indonesia karena produksi PT Pertamina belum bisa memenuhi semua kebutuhan di tanah air. Saat ini kapasitas produksi PT Pertamina baru sekitar 1,035 barel perhari dan produksi efektif hanya 900 barel. Padahal kebutuhan atau konsumsi bahan bakar di tanah air sebesar 1,6 juta barel per hari.
Sebenarnya kapasitas produksi di angka 1,035 juta barel tersebut mereka capai dalam dua tahun terakhir. Akhir 2015 lalu kapasitas produksi Pertamina hanya 525 ribu barel per hari. Dalam 9 bulan terakhir 2016, berhasil menambah produksi sekitar 670 ribu barel perhari. Penambahan kapasitas produksi memang dilakukan di semua kilang.
Menurut Rudy efisiensi ini tak hanya mampu meningkatkan produktivitas dalam memproduksi bahan bakar, karena Pertamina berhasil mengurangi utang secara signifikan. Dua tahun lalu utang Pertamina mencapai USD4,85 miliar dan dengan kinerja yang baik hutang tinggal USD0,3 miliar.
PT Pertamina bahkan terus melakukan ekspansi dengan menanamkan investasi di bidang energi di negara lain. "Saat ini kita tengah menjajaki kemungkinan investasi di Rusia," tuturnya.
Humas PT Pertamina Pusat, Rudy Arifianto mengklaim dalam dua tahun terakhir Pertamina telah berhasil membuat berbagai perubahan. Di tengah merosotnya harga minyak dunia dalam dua tahun terakhir dari USD110 perbarel menjadi titik terendah USD24.
"Di saat perusahaan energi kelas dunia gulung tikar akibat merosotnya harga minyak, Pertamina bisa berkembang," tuturnya saat Gathering Media Marketing Operation Region IV di Indramayu Jawa Barat, Minggu (20/11/2016).
Rudy menjelaskan, Pertamina berhasil melakukan efisiensi biaya hingga 27 %, bahkan mampu menyerap tenaga kerja cukup banyak dan berhasil melakukan ekspansi hingga ke luar negeri. Meski demikian, Rudy mengatakan, sebuah tantangan besar masih ada saat ini, kapasitas produksi yang mereka miliki belum mampu memenuhi kebutuhan bahan bakar di tanah air.
Saat ini pesaing terdekat justru dari negeri tetangga yaitu Singapura karena mereka justru menjadi pemasok kekurangan bahan bakar di Indonesia. Kendati demikian impor bahan bakar Indonesia terus mengalami penurunan termasuk dari Singapura.
Rudy menyebutkan kapasitas produksi Singapura sebesar 1,5 juta barel perhari. Padahal konsumsi bahan bakar mereka hanya 150 barel perhari. Surplus tersebut mereka ekspor ke Indonesia karena produksi PT Pertamina belum bisa memenuhi semua kebutuhan di tanah air. Saat ini kapasitas produksi PT Pertamina baru sekitar 1,035 barel perhari dan produksi efektif hanya 900 barel. Padahal kebutuhan atau konsumsi bahan bakar di tanah air sebesar 1,6 juta barel per hari.
Sebenarnya kapasitas produksi di angka 1,035 juta barel tersebut mereka capai dalam dua tahun terakhir. Akhir 2015 lalu kapasitas produksi Pertamina hanya 525 ribu barel per hari. Dalam 9 bulan terakhir 2016, berhasil menambah produksi sekitar 670 ribu barel perhari. Penambahan kapasitas produksi memang dilakukan di semua kilang.
Menurut Rudy efisiensi ini tak hanya mampu meningkatkan produktivitas dalam memproduksi bahan bakar, karena Pertamina berhasil mengurangi utang secara signifikan. Dua tahun lalu utang Pertamina mencapai USD4,85 miliar dan dengan kinerja yang baik hutang tinggal USD0,3 miliar.
PT Pertamina bahkan terus melakukan ekspansi dengan menanamkan investasi di bidang energi di negara lain. "Saat ini kita tengah menjajaki kemungkinan investasi di Rusia," tuturnya.
(dmd)
Lihat Juga :