Bos BNI: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Terbesar Ketiga di G20

Kamis, 24 November 2016 - 10:53 WIB
Bos BNI: Pertumbuhan...
Bos BNI: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Terbesar Ketiga di G20
A A A
JAKARTA - Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Ahmad Baiquni mengemukakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini relatif lebih baik dibanding negara lain. Bahkan, dia mengklaim pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) di Tanah Air merupakan terbesar ketiga dibanding negara-negara G20.

Dia mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2016 mencapai 5,02%. Dibanding negara-negara G20 lainnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya kalah dibanding China dan India.

"‎Kondisi ini juga relatif lebih baik dibandingkan kondisi 2015 yang tumbuh sebesar 4,79%. Kinerja makro ekonomi seyogyanya patut diapresiasi, karena diantara negara-negara G20, Indonesia tercatat sebagai negara dengan pertumbuhan GDP terbesar ketiga. Hanya persis di bawah China dan India," katanya dalam acara CEO Forum 2016 di Jakarta Convention Center, Kamis (24/11/2016).

Kendati demikian, kata dia, Indonesia jangan dulu membusungkan dada dengan prestasi pertumbuhan ekonomi tersebut. Karena, jika dibanding dua negara di ASEAN yaitu Vietnam dan Filipina, pertumbuhan ekonomi di Indonesia relatif masih tertinggal.

"‎Padahal kedua negara tersebut memiliki struktur ekonomi, kedekatan geografis, dan kemiripan budaya dengan Indonesia. Tentunya ini menjadi tantangan tersendiri, apalagi Presiden telah menetapkan pertumbuhan ekonomi yang optimis sebesar 7% untuk dicapai di 2018-2019," imbuh dia.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa fundamental ekonomi nasional belum mampu memanfaatkan seluruh potensinya dengan maksimal. Salah satunya potensi investasi di Tanah Air yang belum dimanfaatkan secara maksimal.

Baiquni menilai, ‎meningkatkan iklim investasi di Tanah Air merupakan suatu keharusan. Sebab investasi menjadi salah satu pendongkrak pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, menurunkan angka pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan.

"‎Tapi permasalahan sektor riil memang cukup kompleks. Makanya pemerintah dalam RPJMN mengindentifikasi permasalahan sektor riil, mulai dari ekspor yang masih didominasi barang mentah dan ketergantungan impor untuk domestik. Hingga penyebaran ekonomi yang tidak merata karena terkonsentrasi di Jawa dan Sumatra saja," tandasnya.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Proyeksi Pertumbuhan...
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI Kembali Dipangkas
BNI Catat Kenaikan Transaksi...
BNI Catat Kenaikan Transaksi Nasabah Premium di Private Event BNI-Emirates Travel Fair 2025
BNI Investor Daily Summit...
BNI Investor Daily Summit 2024: Optimisme di Tengah Berbagai Tantangan Global
Bank Dunia Pangkas Proyeksi...
Bank Dunia Pangkas Proyeksi Ekonomi Indonesia, Tak Sampai 5,2% di 2026
BI: Pertumbuhan Ekonomi...
BI: Pertumbuhan Ekonomi 2025 Meningkat Jadi 4,8-5,6 Persen
BI Optimistis Ekonomi...
BI Optimistis Ekonomi Indonesia Capai 5,5% di 2024
Berita Terkini
Apes, Uni Eropa Terancam...
Apes, Uni Eropa Terancam Kehilangan Pasokan Gas AS usai Tinggalkan Rusia
7 jam yang lalu
Dampak Pembiayaan PNM...
Dampak Pembiayaan PNM Diakui, Kini Melayani 23 Juta Nasabah Perempuan Prasejahtera
7 jam yang lalu
Investasi Hijau, Pertamina...
Investasi Hijau, Pertamina Port & Logistics Tanam 600 Mangrove di Balikpapan
7 jam yang lalu
Belanja Puas, Dompet...
Belanja Puas, Dompet Aman dengan Promo Spesial Blibli BRIDAY
7 jam yang lalu
Jatuhkan Denda ke 97...
Jatuhkan Denda ke 97 Pindar, Putusan KPPU Dinilai Tidak Sah
7 jam yang lalu
Hadir di CEO Talks Unand,...
Hadir di CEO Talks Unand, Pegadaian Ajak Generasi Muda Melek Investasi Sejak Dini
8 jam yang lalu
Infografis
20 Universitas Terbaik...
20 Universitas Terbaik di Indonesia Versi QS WUR 2027
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved