Sri Mulyani Akui Tantangan Inflasi 2017 Lebih Berat
Kamis, 26 Januari 2017 - 16:38 WIB
Sri Mulyani Akui Tantangan Inflasi 2017 Lebih Berat
A
A
A
JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengakui bahwa menjaga inflasi tahun ini untuk tetap terkendali cukup berat. Hal ini karena tahun ini terjadi beberapa perubahan alokasi subsidi, yang berpotensi membuat inflasi semakin tinggi.
Dia mengatakan, perubahan alokasi subsidi listrik maupun kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) tahun ini akan membuat kontribusi komponen harga yang diatur pemerintah (administred price) terhadap inflasi jauh lebih tinggi. Hal ini menjadi tantangan tersendiri untuk pemerintah agar membuat inflasi tetap terjaga.
"Ini salah satu tantangan yang tidak mudah, karena kebijakan fiskal 2017 yang sudah diapprove dewan bersama pemerintah memberikan signal ada beberapa policy dalam kebijakan APBN perubahan alokasi subsidi dan cara pembayaran subsidi yang berimplikasi beberapa barang dan komoditas," kata dia dalam acara CIMB Niaga Economic Forum 2017, Jakarta, Kamis (26/1/2017).
Menurutnya, kondisi ini jauh berbeda dengan tahun lalu. Sebab, tahun lalu kontribusi administred price cukup minim sehingga membuat inflasi tetap terjaga di level 3,02%.
"Inflasi 3,02%, karena salah satu faktornya administered prices memberikan kontribusi terhadap inflasi yang sangat rendah. Orang kemudian akan secara logis tanya apakah 2017 pemerintah Indonesia akan mampu menjadi administered relatif terus stabil," tutur dia.
Karena itu, mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menilai, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) perlu mengubah strategi supaya inflasi tetap stabil. Pemerintah dan BI perlu menjaga keseimbangan dari sisi harga pangan bergejolak (volatile food) dan inflasi inti.
"Ini tantangan 2017, mengubah komposisi inflasi dari administered price relatif tidak kontribusi, kalau berubah, harus diimbangi faktor inflasi lain volatile food, core inflation," tandasnya.
Dia mengatakan, perubahan alokasi subsidi listrik maupun kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) tahun ini akan membuat kontribusi komponen harga yang diatur pemerintah (administred price) terhadap inflasi jauh lebih tinggi. Hal ini menjadi tantangan tersendiri untuk pemerintah agar membuat inflasi tetap terjaga.
"Ini salah satu tantangan yang tidak mudah, karena kebijakan fiskal 2017 yang sudah diapprove dewan bersama pemerintah memberikan signal ada beberapa policy dalam kebijakan APBN perubahan alokasi subsidi dan cara pembayaran subsidi yang berimplikasi beberapa barang dan komoditas," kata dia dalam acara CIMB Niaga Economic Forum 2017, Jakarta, Kamis (26/1/2017).
Menurutnya, kondisi ini jauh berbeda dengan tahun lalu. Sebab, tahun lalu kontribusi administred price cukup minim sehingga membuat inflasi tetap terjaga di level 3,02%.
"Inflasi 3,02%, karena salah satu faktornya administered prices memberikan kontribusi terhadap inflasi yang sangat rendah. Orang kemudian akan secara logis tanya apakah 2017 pemerintah Indonesia akan mampu menjadi administered relatif terus stabil," tutur dia.
Karena itu, mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menilai, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) perlu mengubah strategi supaya inflasi tetap stabil. Pemerintah dan BI perlu menjaga keseimbangan dari sisi harga pangan bergejolak (volatile food) dan inflasi inti.
"Ini tantangan 2017, mengubah komposisi inflasi dari administered price relatif tidak kontribusi, kalau berubah, harus diimbangi faktor inflasi lain volatile food, core inflation," tandasnya.
(izz)
Lihat Juga :