Harga Minyak Tergelincir Karena Sikap Tiga Negara
Senin, 06 Maret 2017 - 10:48 WIB
Harga Minyak Tergelincir Karena Sikap Tiga Negara
A
A
A
SINGAPURA - Harga minyak tergelincir pada perdagangan Senin (6/3/2017), memusnahkan beberapa keuntungan dari sesi sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh kondisi di Rusia, Libya, dan Amerika Serikat.
Harga harga minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) turun 19 sen atau 0,3% ke level USD53,14 per barel pada pukul 01:09 GMT. Minyak mentah berjangka Brent International turun 13 sen atau 0,2% ke posisi USD55,77 per barel.
Melansir dari Reuters, Senin ini, Rusia dinilai terkesan ogah-ogahan dalam mengikuti kesepakatan OPEC dalam mengurangi produksi minyak. Data Kementerian Energi Rusia menunjukkan angka produksi minyak Negeri Beruang Merah pada Februari tidak berubah dari Januari, yaitu sebesar 11.110.000 barel per hari (bph).
Sebelumnya, pada Jumat akhir pekan, harga si emas hitam sempat menguat karena dolar AS melemah setelah pidato Ketua Federal Reserve Janet Yellen, dimana The Fed berhati-hati dalam menaikkan tarif suku bunga.
Namun hal ini berubah pada Senin, setelah data produksi minyak Rusia. Selain itu, harga minyak juga terganggu oleh kondisi di Libya. Negara maghribi tersebut berniat meningkatkan kembali produksi minyak setelah faksi-faksi bersenjata memasuki dua pelabuhan minyak utama.
Di Amerika Serkat, angka pengeboran AS menggerogoti dukungan untuk menguatnya harga minyak. Baker Hughes melaporkan jumlah rig untuk pengeboran minyak pada pekan lalu semakin bertambah. Jumlah rig meningkat 609, tertinggi sejak Oktober 2015.
Harga harga minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) turun 19 sen atau 0,3% ke level USD53,14 per barel pada pukul 01:09 GMT. Minyak mentah berjangka Brent International turun 13 sen atau 0,2% ke posisi USD55,77 per barel.
Melansir dari Reuters, Senin ini, Rusia dinilai terkesan ogah-ogahan dalam mengikuti kesepakatan OPEC dalam mengurangi produksi minyak. Data Kementerian Energi Rusia menunjukkan angka produksi minyak Negeri Beruang Merah pada Februari tidak berubah dari Januari, yaitu sebesar 11.110.000 barel per hari (bph).
Sebelumnya, pada Jumat akhir pekan, harga si emas hitam sempat menguat karena dolar AS melemah setelah pidato Ketua Federal Reserve Janet Yellen, dimana The Fed berhati-hati dalam menaikkan tarif suku bunga.
Namun hal ini berubah pada Senin, setelah data produksi minyak Rusia. Selain itu, harga minyak juga terganggu oleh kondisi di Libya. Negara maghribi tersebut berniat meningkatkan kembali produksi minyak setelah faksi-faksi bersenjata memasuki dua pelabuhan minyak utama.
Di Amerika Serkat, angka pengeboran AS menggerogoti dukungan untuk menguatnya harga minyak. Baker Hughes melaporkan jumlah rig untuk pengeboran minyak pada pekan lalu semakin bertambah. Jumlah rig meningkat 609, tertinggi sejak Oktober 2015.
(ven)
Lihat Juga :