Menko Darmin: Kenaikan Fed Rate Tak Terlalu Berpengaruh ke RI
Senin, 06 Maret 2017 - 20:08 WIB
Menko Darmin: Kenaikan Fed Rate Tak Terlalu Berpengaruh ke RI
A
A
A
JAKARTA - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Darmin Nasution memastikan, meski suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) alias Fed rate naik bulan ini bukan berarti menjadi kesempatan untuk mata uang dollar Amerika Serikat (USD) menjaga tren penguatan. Terlebih lagi ungkapnya, market sudah memperkirakan akan kenaikan ini, sehingga tidak akan terjadi gejolak ekonomi dunia yang signifikan.
Seperti diketahui, sebelumnya Federal Open Market Comitte (FOMC) meeting memutuskan kenaikan suku bunga fed pada Desember 2016 sebesar 0,25% setelah sekian lama ditahan di angka 0%. "Pasti akan ada dampaknya, tapi tidak besar. Selama ini semua perekonomian sudah mengantisipasi bahwa ini akan terjadi, tapi sudah dipricein dampaknya juga ya ada, misalnya seminggu, lalu tenang lagi," ucap Darmin, Senin (6/3/2016).
(Baca Juga: Suku Bunga AS Naik Tinggi, Rupiah Bakal Terseret ke Rp13.800/USD )
"Buktinya coba lihat dollar, itu tidak terus menguat selama ini, dia menguat lalu melemah lagi. Rupiah kita di Rp13.345-Rp13.350/USD. Jadi, jangan dianggap ini akan ada perubahan besar," sambungnya.
Lebih lanjut dia juga memastikan bahwa kondisi fundamental Indonesia saat ini cukup baik meskipun sudah ada kabar bahwa suku bunga bank sentral AS akan naik. Terlebih lagi, kurs rupiah menurutnya tidak akan mengalami pelemahan yang signifikan.
"Fundamental kita relatif baik, artinya pertumbuhannya oke, perdagangan internasionalnya, neraca pembayarannya oke. Itu juga sebabnya kurs kita tidak melemah terus malah melemah, tapi kemudian ada naiknya," ungkapnya.
Dia menambahkan untuk jangka pendek, kenaikan suku bunga tersebut tidak terlalu berpengaruh dampaknya terhadap perekonomian Indonesia. Sedangkan untuk efek jangka panjangnya, Darmin belum mau memprediksikan lebih jauh. "Jangka panjang ya? Jangan dibicarakan sekarang, tidak ada yang tahu," tutupnya.
Seperti diketahui, sebelumnya Federal Open Market Comitte (FOMC) meeting memutuskan kenaikan suku bunga fed pada Desember 2016 sebesar 0,25% setelah sekian lama ditahan di angka 0%. "Pasti akan ada dampaknya, tapi tidak besar. Selama ini semua perekonomian sudah mengantisipasi bahwa ini akan terjadi, tapi sudah dipricein dampaknya juga ya ada, misalnya seminggu, lalu tenang lagi," ucap Darmin, Senin (6/3/2016).
(Baca Juga: Suku Bunga AS Naik Tinggi, Rupiah Bakal Terseret ke Rp13.800/USD )
"Buktinya coba lihat dollar, itu tidak terus menguat selama ini, dia menguat lalu melemah lagi. Rupiah kita di Rp13.345-Rp13.350/USD. Jadi, jangan dianggap ini akan ada perubahan besar," sambungnya.
Lebih lanjut dia juga memastikan bahwa kondisi fundamental Indonesia saat ini cukup baik meskipun sudah ada kabar bahwa suku bunga bank sentral AS akan naik. Terlebih lagi, kurs rupiah menurutnya tidak akan mengalami pelemahan yang signifikan.
"Fundamental kita relatif baik, artinya pertumbuhannya oke, perdagangan internasionalnya, neraca pembayarannya oke. Itu juga sebabnya kurs kita tidak melemah terus malah melemah, tapi kemudian ada naiknya," ungkapnya.
Dia menambahkan untuk jangka pendek, kenaikan suku bunga tersebut tidak terlalu berpengaruh dampaknya terhadap perekonomian Indonesia. Sedangkan untuk efek jangka panjangnya, Darmin belum mau memprediksikan lebih jauh. "Jangka panjang ya? Jangan dibicarakan sekarang, tidak ada yang tahu," tutupnya.
(akr)
Lihat Juga :