Indef: Indonesia Menjadi Negara Tujuan Investasi 10 Besar Dunia
Selasa, 14 Maret 2017 - 23:02 WIB
Indef: Indonesia Menjadi Negara Tujuan Investasi 10 Besar Dunia
A
A
A
JAKARTA - Direktur Eksekutif Institute For Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati menuturkan, tanpa kerja sama dan promosi apapun, sebenarnya Indonesia telah menjadi negara tujuan investasi yang masuk dalam 10 besar dunia, bahkan sempat menduduki nomor 3 dunia. Karenanya, persepsi yang baik di luar negeri terhadap ekonomi Indonesia ini, harus dikapitalisasi menjadi tindakan nyata berupa peningkatan investasi dan volume perdagangan.
Khusus untuk peningkatan perdagangan, Enny mengatakan, sejauh ini sekitar 70% ekspor Indonesia masih mengandalkan komoditas. Melihat fakta tersebut, artinya selama ini hanya negara-negara tertentu dengan industri maju seperti Amerika, China dan Jepang yang paling banyak menyerap barang ekspor Indonesia sebagai bahan baku industri mereka.
“Tapi kalau ekspor kita itu bisa kita geser ke sektor produk, tentu negara-negara yang berada di luar negara industri seperti Afrika Selatan, Timur Tengah, dan juga beberapa negara di Amerika Latin serta Eropa, bisa kita masukkan produk kita,” kata Enny dalam keterangan tertulis yang diterima Sindonews, Jakarta, Selasa (14/3/2017).
Menyinggung potensi investasi dari Timur Tengah, dia menerangkan, dana dari kawasan tersebut masih lebih banyak mengalir ke investasi portofolio. Dengan momentum banyaknya kerja sama dan kesepakatan baru, Indonesia bisa meyakinkan investor-investor di negara tersebut untuk berinvestasi di industri hilir komoditas asli Indonesia.
"Misalnya berbagai macam industri yang berbasis kelapa sawit dan komoditas pertanian untuk memenuhi kebutuhan pasar Timur Tengah,” serunya.
Di tempat terpisah, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan (Kemdag) Arlinda di kesempatan berbeda mengatakan, kondisi perekonomian dunia saat ini mendorong negara-negara di dunia ingin melindungi industri di dalam negerinya masing-masing. Hal tersebut menurutnya mengakibatkan Non-Tariff Barrier (NTB) sepertinya kembali digunakan sebagai mekanisme bertahan masing masing negara.
"Akibat negara-negara maju menggunakan mekanisme standardisasi, NTB semacam ini berpotensi menghambat ekspor Indonesia ke negara-negara potensial tujuan ekspor,” serunya.
Melihat pembukaan pasar baru ekspor sebagai suatu keniscayaan, pemerintah pun mau tak mau gencar menggaet potensi dagang dengan negara non-tradisonal. Untuk negara tradisional, penguatan dagang dan pengembangan variasi produk menjadi solusi.
Sebelumnya, Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita telah melakukan, penandatanganan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) sektor perdagangan dengan Arab Saudi untuk komoditas bernilai tambah. Diakuinya, dalam beberapa tahun ini telah terjadi kemerosotan minat dagang Arab Saudi dengan Indonesia.
Bahkan berdasarkan data neraca perdagangan terlihat kekosongan beberapa sektor yang menurutnya masih berpotensi untuk digenjot.
“Kita menyadari, masih banyak komoditi lain yang masih bisa kita kembangkan untuk meningkatkan hubungan kerja sama perdagangan antara dua negara yang mempunyai hubungan historis begitu panjang," ujar Enggar.
Khusus untuk peningkatan perdagangan, Enny mengatakan, sejauh ini sekitar 70% ekspor Indonesia masih mengandalkan komoditas. Melihat fakta tersebut, artinya selama ini hanya negara-negara tertentu dengan industri maju seperti Amerika, China dan Jepang yang paling banyak menyerap barang ekspor Indonesia sebagai bahan baku industri mereka.
“Tapi kalau ekspor kita itu bisa kita geser ke sektor produk, tentu negara-negara yang berada di luar negara industri seperti Afrika Selatan, Timur Tengah, dan juga beberapa negara di Amerika Latin serta Eropa, bisa kita masukkan produk kita,” kata Enny dalam keterangan tertulis yang diterima Sindonews, Jakarta, Selasa (14/3/2017).
Menyinggung potensi investasi dari Timur Tengah, dia menerangkan, dana dari kawasan tersebut masih lebih banyak mengalir ke investasi portofolio. Dengan momentum banyaknya kerja sama dan kesepakatan baru, Indonesia bisa meyakinkan investor-investor di negara tersebut untuk berinvestasi di industri hilir komoditas asli Indonesia.
"Misalnya berbagai macam industri yang berbasis kelapa sawit dan komoditas pertanian untuk memenuhi kebutuhan pasar Timur Tengah,” serunya.
Di tempat terpisah, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan (Kemdag) Arlinda di kesempatan berbeda mengatakan, kondisi perekonomian dunia saat ini mendorong negara-negara di dunia ingin melindungi industri di dalam negerinya masing-masing. Hal tersebut menurutnya mengakibatkan Non-Tariff Barrier (NTB) sepertinya kembali digunakan sebagai mekanisme bertahan masing masing negara.
"Akibat negara-negara maju menggunakan mekanisme standardisasi, NTB semacam ini berpotensi menghambat ekspor Indonesia ke negara-negara potensial tujuan ekspor,” serunya.
Melihat pembukaan pasar baru ekspor sebagai suatu keniscayaan, pemerintah pun mau tak mau gencar menggaet potensi dagang dengan negara non-tradisonal. Untuk negara tradisional, penguatan dagang dan pengembangan variasi produk menjadi solusi.
Sebelumnya, Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita telah melakukan, penandatanganan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) sektor perdagangan dengan Arab Saudi untuk komoditas bernilai tambah. Diakuinya, dalam beberapa tahun ini telah terjadi kemerosotan minat dagang Arab Saudi dengan Indonesia.
Bahkan berdasarkan data neraca perdagangan terlihat kekosongan beberapa sektor yang menurutnya masih berpotensi untuk digenjot.
“Kita menyadari, masih banyak komoditi lain yang masih bisa kita kembangkan untuk meningkatkan hubungan kerja sama perdagangan antara dua negara yang mempunyai hubungan historis begitu panjang," ujar Enggar.
(akr)
Lihat Juga :