Harga Minyak Dunia Jatuh di Tengah Pemulihan Produksi Libya
Selasa, 04 April 2017 - 07:43 WIB
Harga Minyak Dunia Jatuh di Tengah Pemulihan Produksi Libya
A
A
A
NEW YORK - Harga minyak mentah dunia pada akhir perdagangan kemarin waktu setempat mengalami pelemahan, saat produksi minyak Libya melakukan rebound. Hal ini mengiringi data optimistis ekonomi Asia yang menunjukkan penguatan permintaan energi.
Tercatat patokan harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juni, telah kehilangan 41 sen atau setara dengan 0,8% untuk menetap di level USD53,12 per barel. Namun posisi ini jika dibandingkan akhir pekan, masih menjadi yang tertinggi hampir dalam empat pekan.
Sementara harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) juga menyusut sebesar 36 sen atau 0,7% untuk tertahan di posisi USD50,24 per barel. Pelemahan tersebut merupakan imbas kembalinya produksi ladang minyak SZ Libya selepas mengalami gangguan selama sepekan.
Ladang minyak tersebut tercatat memproduksi sekitar 120.000 barel per hari (bpd) pada awal pekan dan sekitar 220.000 bpd sebelum shutdown di 27 Maret, lalu. "Perhatian utama selama akhir pekan adalah me-restart SZ," ujar Direktur Manajer PetroMatrix Olivier Jakob.
Ketidakpastian tentang output Libya ditambahkan volatilitas harga minyak, diyakini dapat terus berayun ke dua arah. Selain itu tekanan kepada harga minyak juga datang dari penambahan rig AS yang terus menunjukkan penguatan dalam satu kuartal sejak pertengahan 2011, silam seperti disampaikan perusahaan jasa energi Baker Hughes.
Meski begitu data dari Asia menunjukkan adanya peningkatan permintaan energi untuk berada dalam tren positif. Data manufaktur memperlihatkan pabrik di banyak negara Asia mencetak pertumbuhan yang solid pada bulan Maret.
"Ekonomi global tetap di jalur untuk melanjutkan pertumbuhan pada 2017, dukungan berasal dari sisi permintaan pasar minyak bumi," kata spesialis energi berjangka Citi Futures Tim Evans.
Tercatat patokan harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juni, telah kehilangan 41 sen atau setara dengan 0,8% untuk menetap di level USD53,12 per barel. Namun posisi ini jika dibandingkan akhir pekan, masih menjadi yang tertinggi hampir dalam empat pekan.
Sementara harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) juga menyusut sebesar 36 sen atau 0,7% untuk tertahan di posisi USD50,24 per barel. Pelemahan tersebut merupakan imbas kembalinya produksi ladang minyak SZ Libya selepas mengalami gangguan selama sepekan.
Ladang minyak tersebut tercatat memproduksi sekitar 120.000 barel per hari (bpd) pada awal pekan dan sekitar 220.000 bpd sebelum shutdown di 27 Maret, lalu. "Perhatian utama selama akhir pekan adalah me-restart SZ," ujar Direktur Manajer PetroMatrix Olivier Jakob.
Ketidakpastian tentang output Libya ditambahkan volatilitas harga minyak, diyakini dapat terus berayun ke dua arah. Selain itu tekanan kepada harga minyak juga datang dari penambahan rig AS yang terus menunjukkan penguatan dalam satu kuartal sejak pertengahan 2011, silam seperti disampaikan perusahaan jasa energi Baker Hughes.
Meski begitu data dari Asia menunjukkan adanya peningkatan permintaan energi untuk berada dalam tren positif. Data manufaktur memperlihatkan pabrik di banyak negara Asia mencetak pertumbuhan yang solid pada bulan Maret.
"Ekonomi global tetap di jalur untuk melanjutkan pertumbuhan pada 2017, dukungan berasal dari sisi permintaan pasar minyak bumi," kata spesialis energi berjangka Citi Futures Tim Evans.
(akr)
Lihat Juga :