Astra dan Menkeu Ingin Indonesia Lepas dari Middle Income Trap

Selasa, 04 April 2017 - 12:52 WIB
Astra dan Menkeu Ingin...
Astra dan Menkeu Ingin Indonesia Lepas dari Middle Income Trap
A A A
JAKARTA - Perekonomian Indonesia mulai pulih di 2017, setelah sempat demam dua tahun sebelumnya. Indikator ini terlihat dari semua mesin ekonomi yang mulai berjalan normal. Badan Pusat Statistik bahkan optimistis perekonomian nasional tahun ini bisa mencapai target APBN 2017 sebesar 5,1%. Hal ini dilihat dari realisasi ekonomi 2016 yang menyentuh 5,02%, lebih tinggi dari 2015 sebesar 4,88%.

Tren positif itu juga disampaikan Bank Dunia pada akhir Maret lalu, dimana mereka meramal ekonomi Indonesia akan tumbuh 5,2% di tahun ini. Pertumbuhan ini didorong oleh neraca transaksi berjalan yang turun menjadi 1,8% dari PDB alias terendah dalam lima tahun terakhir. Angka kemiskinan juga berkurang 0,4% menjadi 10,7% per September 2016.

Selain itu, pendapatan per kapita hampir mencapai USD4.000 dengan jumlah penduduk mendekati 250 juta jiwa. Alhasil, ekonomi Indonesia kini memasuki tahap middle income country. Meski demikian, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati tidak ingin Indonesia berpuas diri. Sri Mulyani ingin perekonomian Indonesia melanjutkan pertumbuhannya sehingga masuk ke dalam high income country.

Bagai sebuah comfort zone, posisi middle income country kerap menjerat banyak negara. “Banyak negara-negara setelah masuk middle income country mengalami stagnasi pertumbuhan. Kita harus bisa lolos dari middle income trap seperti Korea Selatan dan Singapura. Oleh sebab itu, pemerintah akan menggunakan seluruh instrumen untuk mengatasi hal ini, sehingga Indonesia dapat menjadi negara dengan ekonomi besar kelima pada 2045,” ujarnya dalam seminar makro ekonomi Kondisi Ekonomi 2017 dan Tantangannya Bagi UMKM yang diadakan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA).

Nah, instrumen untuk mendorong pertumbuhan tersebut, yakni Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang kredibel dan kuat. “Jika 10 tahun lalu, kita berbicara bagaimana mendapatkan dana untuk membiayai belanja negara, tetapi saat ini adalah bagaimana kita membelanjakan APBN dengan berkualitas dan lebih baik,” tuturnya.

Selain tata kelola APBN yang berkualitas dan lebih baik, adalah mengajak Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) untuk aktif dan berperan serta. Karena itu, Sri Mulyani meminta UMKM tidak perlu khawatir tentang perekonomian nasional, melainkan harus optimistis, motivatif, punya ambisi positif serta menerapkan azas prudent.

Peranan aktif UMKM dalam meningkatkan ekonomi Indonesia, salah satunya dilakukan oleh Grup Astra melalui YDBA. CEO Astra International Prijono Sugiarto mengatakan Grup Astra telah mengayomi 10.847 UMKM dan 9.828 UMKM diantaranya dibina oleh YDBA, sekaligus melatih 701 pemuda putus sekolah menjadi mekanik. YDBA secara tidak langsung juga telah menciptakan 63.205 lapangan pekerjaan melalui UMKM yang difasilitasinya.

“Dalam pembinaan UMKM, kami memberikan ‘kail’, tidak sekadar memberi ‘ikannya’ agar pembinaan ini berdampak signifikan dan berkelanjutan bagi UMKM,” ujar Prijono dalam keterangan resmi, Selasa (4/4/2017).

Hasil dari program ini, yakni empat industri kecil menengah (IKM) logam level home industry di Waru, Sidoarjo, Jawa Timur, berhasil masuk dalam supply chain PT Astra Honda Motor. Kemudian, 30 UMKM kerajinan anggota YDBA diterima mengikuti pameran secara reguler di IKEA Alam Sutera, serta hasil petani tradisional di Tapin, Kalimantan Selatan masuk ke supermarket moderen.

Tidak hanya pembinaan, Ketua Pengurus YDBA, Henry C. Widjaja menjelaskan YDBA juga melakukan budaya inovasi atau improvement UMKM, yaitu dengan mengadakan Konvensi Quality Control Circle (QCC) UMKM Mitra YDBA.

Tujuannya mendorong UMKM melakukan perbaikan berkelanjutan, memberikan tempat bagi para UMKM membagikan pengalamannya ke UMKM yang lain (semangat berbagi), serta memberikan recognition kepada UMKM Mitra YDBA yang telah melakukan perbaikan berkelanjutan yang terbaik.

Alhasil, IKM yang semula industri kecil yang tidak diimbangi penerapanan standar mutu, material yang tidak standar, minimnya metode penghitungan biaya, kini kondisinya berubah dan menjadi IKM unggul di daerah tersebut. Kehadiran YDBA ini selaras dengan keinginan membangun Indonesia menjadi negara high income country, dengan meningkatkan industri kecil menjadi menengah dan kemudian besar.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Sri Mulyani: IMF Sebut...
Sri Mulyani: IMF Sebut Ekonomi Indonesia Aman dari Jurang Resesi
Akhirnya Punya Bank...
Akhirnya Punya Bank Syariah Indonesia, Sri Mulyani: Jangan Cederai Kepercayaan
Selamatkan Ekonomi RI,...
Selamatkan Ekonomi RI, Sri Mulyani Diganjar Penghargaan Internasional
IMF Pangkas Proyeksi,...
IMF Pangkas Proyeksi, Sri Mulyani Sebut Target Ekonomi Tumbuh 5,2% Masih Realistis
Menkeu Revisi Proyeksi...
Menkeu Revisi Proyeksi Ekonomi Indonesia 2020 Tumbuh Negatif 2,2-1,7 Persen
Chatib Basri Apresiasi...
Chatib Basri Apresiasi Kejelasan Tim Prabowo dan Sri Mulyani Soal Komitmen Defisit Fiskal di Bawah 3%
Berita Terkini
Perluas Produk Unggulan...
Perluas Produk Unggulan Maluku, 11,6 Ton Frozen Tuna Loin Diekspor ke Thailand
44 menit yang lalu
Rupiah Sentuh Rp17.963,...
Rupiah Sentuh Rp17.963, Hari Ini Berakhir Sedikit Menguat Lawan Dolar AS
1 jam yang lalu
Purbaya Minta DJPb Monitor...
Purbaya Minta DJPb Monitor 3 Program Prioritas Termasuk MBG
1 jam yang lalu
IHSG Ditutup Meroket...
IHSG Ditutup Meroket 2,28% Sentuh Level 5.875, Ada 520 Saham Menghijau
2 jam yang lalu
Kantongi Restu OJK,...
Kantongi Restu OJK, Dua Pemegang Saham Utama CASH Siap Kawal Rights Issue Rp237,2 Miliar
2 jam yang lalu
Purbaya Tepis Kabar...
Purbaya Tepis Kabar Disebut Incar Influencer dan Toko Online: Tegaskan Pajak Demi Keadilan
3 jam yang lalu
Infografis
Perburuan Sepatu Emas...
Perburuan Sepatu Emas Piala Dunia 2026: Messi Dihantui Haaland dan Mbappe!
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved