Potensi Penguatan Rupiah Diperkirakan Masih Tertahan
Selasa, 11 April 2017 - 09:06 WIB
Potensi Penguatan Rupiah Diperkirakan Masih Tertahan
A
A
A
JAKARTA - Menguatnya harga komoditas dan imbas rilis beberapa kondisi makroekonomi internal Indonesia mampu mempertahankan laju penguatan rupiah. Kondisi tersebut, diharapkan dapat kembali terjadi pada pergerakan rupiah berikutnya meski juga mewaspadai beberapa sentimen-sentimen seperti tersebut di atas.
(Baca Juga: Rupiah Ditutup Melesat di Tengah Kejatuhan Euro )
Diperkirakan, mata uang Garuda akan bergerak dengan kisaran di level support Rp13.331/USD dan resisten Rp13.216/USD. "Itu yang dapat menghadang potensi kenaikan lanjutan dari rupiah," ujar Analis Senior Binaartha Sekuritas Reza Priyambada di Jakarta, Selasa (11/4/2017).
Sementara, harapan akan bertahannya laju penguatan rupiah tampaknya kembali terjadi meski pergerakan rupiah sempat mampir bergerak ke zona merah. Dari sentimen yang ada, terlihat tidak adanya sentimen positif dimana rilis penjualan ritel nasional YoY turun dari 6,3% menjadi 3,7%.
Perkiraan LPS terkait dengan kenaikan NPL akan menghambat pertumbuhan ekonomi, pergerakan EUR kembali melemah setelah terimbas kekhawatiran pemilu di Perancis. Sebelumnya di awal pekan, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) kemarin melesat naik hingga menyentuh kisaran level Rp13.250/USD saat euro menyusut 0,1% pada level 1.0585 melawan USD,
"Adanya rilis penelitian pertumbuhan ekonomi global masih akan melambat dalam beberapa bulan ke depan seiring belum adanya upaya pemulihan yang signifikan di China, Eropa, AS seiring konsolidasinya pemerintahan di masing-masing tempat. Akan tetapi, masih menguatnya harga komoditas mampu dimanfaatkan rupiah untuk menguat," pungkasnya.
(Baca Juga: Rupiah Ditutup Melesat di Tengah Kejatuhan Euro )
Diperkirakan, mata uang Garuda akan bergerak dengan kisaran di level support Rp13.331/USD dan resisten Rp13.216/USD. "Itu yang dapat menghadang potensi kenaikan lanjutan dari rupiah," ujar Analis Senior Binaartha Sekuritas Reza Priyambada di Jakarta, Selasa (11/4/2017).
Sementara, harapan akan bertahannya laju penguatan rupiah tampaknya kembali terjadi meski pergerakan rupiah sempat mampir bergerak ke zona merah. Dari sentimen yang ada, terlihat tidak adanya sentimen positif dimana rilis penjualan ritel nasional YoY turun dari 6,3% menjadi 3,7%.
Perkiraan LPS terkait dengan kenaikan NPL akan menghambat pertumbuhan ekonomi, pergerakan EUR kembali melemah setelah terimbas kekhawatiran pemilu di Perancis. Sebelumnya di awal pekan, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) kemarin melesat naik hingga menyentuh kisaran level Rp13.250/USD saat euro menyusut 0,1% pada level 1.0585 melawan USD,
"Adanya rilis penelitian pertumbuhan ekonomi global masih akan melambat dalam beberapa bulan ke depan seiring belum adanya upaya pemulihan yang signifikan di China, Eropa, AS seiring konsolidasinya pemerintahan di masing-masing tempat. Akan tetapi, masih menguatnya harga komoditas mampu dimanfaatkan rupiah untuk menguat," pungkasnya.
(akr)