Penjualan Listrik PLN Naik 2,4% di Tengah Kelesuan Industri
Senin, 19 Juni 2017 - 13:10 WIB
Penjualan Listrik PLN Naik 2,4% di Tengah Kelesuan Industri
A
A
A
JAKARTA - PT PLN (Persero) menyebut pertumbuhan penjualan listrik pada semester 1/2017 hanya sebesar 2,4% year on year (yoy). Angka ini melambat dibanding pertumbuhan penjualan listrik pada periode sama tahun lalu yang sebesar 6,36%.
(Baca Juga: PLN Diminta Kurangi Impor dalam Proyek Pembangkit Listrik )
Direktur Perencanaan PLN Nicke Widyawati mengungkapkan, menurunnya angka penjualan listrik PLN disebabkan karena industri yang masih lesu. Padahal, industri menjadi salah satu penyumbang terbesar untuk penjualan listrik perseroan.
"Pertumbuhannya nggak terlalu bagus hanya 2,4%. Industri masih belum tumbuh. Rumah tangga juga. Kita sambungan banyak, tapi konsumsi turun," katanya di Gedung BPPT, Jakarta, Senin (19/6/2017).
Selain itu, penurunan juga dipengaruhi oleh periode Ramadan dan Lebaran dimana banyak industri yang tidak melakukan aktifitasnya. Sehingga, secara total penjualan listriknya pun menurun.
"Ya turun memang Ramadan dan hari raya turun konsumsi listrik industri. Dan itu kan porsinya paling besar. Sehingga secara total penjualan gitu," paparnya.
Sebagai informasi, menurut Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2017 hingga 2026, rata-rata pertumbuhan penjualan listrik selama 10 tahun ke depan adalah 8,3%. Pertumbuhan tertinggi disumbang dari golongan bisnis sebesar 9,5%.
Sementara pertumbuhan terendah akan disumbang dari sektor publik dan rumah tangga sebesar 8,6%. Hingga akhir 2016, penjualan listrik PLN tercatat 216 TWh atau meningkat 6,5% jika dibanding penjualan tahun sebelumnya 202,8 terrawatt hour (TwH).
(Baca Juga: PLN Diminta Kurangi Impor dalam Proyek Pembangkit Listrik )
Direktur Perencanaan PLN Nicke Widyawati mengungkapkan, menurunnya angka penjualan listrik PLN disebabkan karena industri yang masih lesu. Padahal, industri menjadi salah satu penyumbang terbesar untuk penjualan listrik perseroan.
"Pertumbuhannya nggak terlalu bagus hanya 2,4%. Industri masih belum tumbuh. Rumah tangga juga. Kita sambungan banyak, tapi konsumsi turun," katanya di Gedung BPPT, Jakarta, Senin (19/6/2017).
Selain itu, penurunan juga dipengaruhi oleh periode Ramadan dan Lebaran dimana banyak industri yang tidak melakukan aktifitasnya. Sehingga, secara total penjualan listriknya pun menurun.
"Ya turun memang Ramadan dan hari raya turun konsumsi listrik industri. Dan itu kan porsinya paling besar. Sehingga secara total penjualan gitu," paparnya.
Sebagai informasi, menurut Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2017 hingga 2026, rata-rata pertumbuhan penjualan listrik selama 10 tahun ke depan adalah 8,3%. Pertumbuhan tertinggi disumbang dari golongan bisnis sebesar 9,5%.
Sementara pertumbuhan terendah akan disumbang dari sektor publik dan rumah tangga sebesar 8,6%. Hingga akhir 2016, penjualan listrik PLN tercatat 216 TWh atau meningkat 6,5% jika dibanding penjualan tahun sebelumnya 202,8 terrawatt hour (TwH).
(akr)
Lihat Juga :