USD Menguat ke Level Tertinggi, Rupiah Ditutup Tak Berdaya
Jum'at, 07 Juli 2017 - 16:53 WIB
USD Menguat ke Level Tertinggi, Rupiah Ditutup Tak Berdaya
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan akhir pekan ditutup masih terperosok ke zona merah. Pelemahan mata uang Garuda terjadi saat USD mulai bangkit terhadap Yen Jepang dan beberapa mata uang utama lainnya.
Posisi rupiah menurut data Bloomberg, sore ini berada di level Rp13.399/USD atau menyusut dari sebelumnya pada posisi Rp13.392/USD. Tercatat rupiah bergerak pada kisaran harian Rp13.381-Rp13.421/USD.
Data dari kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, rupiah terlihat tertahan pada level Rp13.397/USD. Posisi ini cenderung tertekan dari posisi sebelumnya di level Rp13.364/USD.
Sementara menurut Yahoo Finance, rupiah membaik pada sesi penutupan perdagangan hari ini berakhir di posisi Rp13.400/USD atau tidak lebih baik dari posisi penutupan sebelumnya di level Rp13.387/USD. Rupiah sendiri bergerak pada kisaran level Rp13.373-Rp13.438/USD.
Seperti dilansir Reuters, Jumat (7/7/2017) USD menguat ke level tertinggi tujuh pekan saat melawan Yen Jepang pada perdagangan akhir pekan hari ini, setelah Bank of Japan (BoJ) meningkatkan pembelian obligasi pemerintah. Serta terkait perluasan kebijakan moneter, Bank Sentral Utama lainnya sedang bergerak menuju pengetatan.
USD mendapatkan tambahan lebih dari setengah persen terhadap mata uang Jepang untuk berada pada level 113.835 atau menjadi yang terkuat sejak 16 Mei. BoJ mengatakan akan membeli obligasi dengan jumlah yang tidak terbatas, ketika ingin tingkat bunga domestik lebih tinggi.
Pada perdagangan akhir pekan ini, USD merangkak naik untuk tetap berada dalam jalur keuntungan mingguan, meskipun investor masih bersiap menanti data pasar tenaga kerja. Di sisi lain euro mendatar saat melawan USD pada posisi 1.1420 atau tidak jauh dari posisi 14 bulan tertinggi dari 1.1445 pekan lalu.
Poundsterling tercatat juga tergelincir terhadap USD hari ini, untuk tetap mencetak kerugian mingguan. Dalam awal perdagangan, pounds lebih rendah 0,1% menjadi 1.2954 setelah pekan sebelumnya mencetak kenaikan mingguan terbesar dalam delapan bulan setelah sejumlah pembuat kebijakan berbicara mendukung kenaikan suku bunga.
Posisi rupiah menurut data Bloomberg, sore ini berada di level Rp13.399/USD atau menyusut dari sebelumnya pada posisi Rp13.392/USD. Tercatat rupiah bergerak pada kisaran harian Rp13.381-Rp13.421/USD.
Data dari kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, rupiah terlihat tertahan pada level Rp13.397/USD. Posisi ini cenderung tertekan dari posisi sebelumnya di level Rp13.364/USD.
Sementara menurut Yahoo Finance, rupiah membaik pada sesi penutupan perdagangan hari ini berakhir di posisi Rp13.400/USD atau tidak lebih baik dari posisi penutupan sebelumnya di level Rp13.387/USD. Rupiah sendiri bergerak pada kisaran level Rp13.373-Rp13.438/USD.
Seperti dilansir Reuters, Jumat (7/7/2017) USD menguat ke level tertinggi tujuh pekan saat melawan Yen Jepang pada perdagangan akhir pekan hari ini, setelah Bank of Japan (BoJ) meningkatkan pembelian obligasi pemerintah. Serta terkait perluasan kebijakan moneter, Bank Sentral Utama lainnya sedang bergerak menuju pengetatan.
USD mendapatkan tambahan lebih dari setengah persen terhadap mata uang Jepang untuk berada pada level 113.835 atau menjadi yang terkuat sejak 16 Mei. BoJ mengatakan akan membeli obligasi dengan jumlah yang tidak terbatas, ketika ingin tingkat bunga domestik lebih tinggi.
Pada perdagangan akhir pekan ini, USD merangkak naik untuk tetap berada dalam jalur keuntungan mingguan, meskipun investor masih bersiap menanti data pasar tenaga kerja. Di sisi lain euro mendatar saat melawan USD pada posisi 1.1420 atau tidak jauh dari posisi 14 bulan tertinggi dari 1.1445 pekan lalu.
Poundsterling tercatat juga tergelincir terhadap USD hari ini, untuk tetap mencetak kerugian mingguan. Dalam awal perdagangan, pounds lebih rendah 0,1% menjadi 1.2954 setelah pekan sebelumnya mencetak kenaikan mingguan terbesar dalam delapan bulan setelah sejumlah pembuat kebijakan berbicara mendukung kenaikan suku bunga.
(akr)