Petani Merapi dan Merbabu Minta Pemerintah Tak Impor Tembakau

Kamis, 03 Agustus 2017 - 21:15 WIB
Petani Merapi dan Merbabu...
Petani Merapi dan Merbabu Minta Pemerintah Tak Impor Tembakau
A A A
BOYOLALI - Petani tembakau di lereng Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, Jawa Tengah, meminta pemerintah tidak melakukan impor tembakau. Menjelang panen, mereka khawatir harga tembakau jatuh apabila tembakau dari luar negeri masuk.

Tembakau yang ditanam petani di lereng Merapi dan Merbabu saat ini sangat bagus karena cuaca yang sangat mendukung. Sehingga menjelang panen ini, petani berharap pemerintah menberikan perhatian dengan tidak melakukan impor tembakau. Dengan demikian, harga tembakau lokal semakin baik.

“Yang kami perangi adalah impor tembakau. Pajak dari sektor tembakau memberikan sumbangsih yang besar. Jangan sampai petani tembakau terbunuh perlahan,” kata Sigit Marlanto, pengurus Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Desa Senden, Kecamatan Selo, Boyolali, Jawa Tengah usai Festival Tungguk Tembakau, Kamis (3/8/2017).

Dalam cuaca seperti ini, lanjutnya, petani di lereng Merapi-Merbabu sangat menggantungkan hasil pertanian tembakau. Sebab untuk jenis tanaman lainnya dalam cuaca yang cukup panas, cenderung sulit untuk hidup. Harga tembakau sejak tahun lalu cukup stabil di kisaran Rp45-60 ribu/kg untuk tembakau kering.

Namun dengan cuaca yang mendukung, jumlah produksi mengalami kenaikan. “Kalau tahun lalu rendemennya 10 kg per kuintal, sekarang bisa 15 kg per kuintal,” terangnya. Untuk satu hektare lahan, mampu menghasilkan 4 ton tembakau basah menjadi 6 kuintal tembakau kering.

Para petani rata-rata sudah memiliki kemitraan dengan salah satu produsen rokok terkemuka di Indonesia. Melalui kemitraan itu, petani cukup diuntungkan karena biaya produksi lebih dapat ditekan. Selain itu, juga tidak berhadap dengan tengkulak yang biasanya membeli dengan harga lebih rendah.

Untuk satu desa, jumlah petani tembakau mencapai sekitar 500 orang. Dengan 10 desa di Kecamatan Selo, maka jumlahnya mencapai sekitar 5.000 petani. Satu orang petani rata rata memiliki lahan sekitar semperempat hektare, namun banyak pula yang lebih dari itu.

Keuntungan bersih yang diraih dengan lahan seperempat hektare saat panen sekitar Rp4 juta. Biaya produksi yang dikeluarkan untuk satu batang pohon tembakau berkisar Rp3.000. Dan ketika panen terjual, sekitar Rp6.000 per batang.

Kendala yang dialami petani adalah terjadi tanaman layu karena unsur kandungan tanahnya kurang. “Jika tidak didukung cuaca yang bagus, tanaman lalu mati,” bebernya.

Tembakau yang ditanam rata-rata adalah jenis Cetok karena bisa diselingi tanaman tumpangsari. Namun demikian, ada juga jenis tembakau Kemloko dan Kenongo. Namun untuk Klomoko dan Kenongo tidak bisa diselingi tumpangsari. Semua jenis tembakau laku di pabrikan karena yang menjadi pertimbangan adalah bau dan rasanya.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan, para petani diharapkan bisa berkomunikasi dengan pabrikan mengenai pembelian tembakau hasil panen. Melalui komunikasi yang bagus, diharapkan harga jualnya juga lebih maksimal.

Mengenai tembakau impor, Ganjar menilai perlu dikontrol kapan bisa masuk setelah kebutuhan tembakau dan hasil panen petani lokal bisa diprediksi. “Habiskan dulu hasil panen tembakau lokal baru impor boleh masuk agar harga tetap bagus. Tetapi itu butuh komitmen dari pabrikan,” tandasnya.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Didominasi Perempuan,...
Didominasi Perempuan, Pekerja di Industri Hasil Tembakau Mayoritas Jadi Tulang Punggung Keluarga
Cerita Paino, Kesejahteraan...
Cerita Paino, Kesejahteraan Meningkat hingga Kuliahkan Anak Berkat Bertani Tembakau
Festival Industri Tembakau...
Festival Industri Tembakau Garut 2020 Pacu Pemasaran Produk Hasil Tembakau
Warga Jember Tolak Hari...
Warga Jember Tolak Hari Tanpa Tembakau Sedunia
Produk HPTL Meningkat,...
Produk HPTL Meningkat, Pemerintah Harus Tingkatkan Kajian Ilmiah
Berperan pada Program...
Berperan pada Program Asta Cita, Pemerintah Diminta Lindungi IHT
Berita Terkini
Modi Incar Harta Karun...
Modi Incar Harta Karun Terlarang Australia demi Terangi Negaranya
31 menit yang lalu
Sucofindo Catatkan Laba...
Sucofindo Catatkan Laba Bersih 100,7% dari Target RKAP 2025
1 jam yang lalu
Nasib Belang Gurita...
Nasib Belang Gurita Bisnis Arab di Tengah Perang: Ada yang Boncos hingga Mendadak Kaya
1 jam yang lalu
Masa Transisi ke B50...
Masa Transisi ke B50 Berlangsung hingga September, Penyaluran Dilakukan Bertahap
3 jam yang lalu
Selat Hormuz Dikunci...
Selat Hormuz Dikunci Rapat Iran, Jalur Minyak Terpenting Dunia Kembali Mandek
4 jam yang lalu
Bendungan Sidan dan...
Bendungan Sidan dan Keureuto Diresmikan, Brantas Abipraya Perkuat Ketahanan Air dan Pangan
14 jam yang lalu
Infografis
Sensus Ekonomi 2026:...
Sensus Ekonomi 2026: Data untuk Memperkuat UMKM dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved