Ekonom Sebut Ekonomi RI Semester II Lebih Lambat dari Ekspektasi
Rabu, 09 Agustus 2017 - 11:09 WIB
Ekonom Sebut Ekonomi RI Semester II Lebih Lambat dari Ekspektasi
A
A
A
JAKARTA - Ekonom dari Research Analyst FXTM Lukman Otunuga mengungkapkan bahwa ekonomi Indonesia pada semester II tumbuh dengan laju lebih lambat dari ekspektasi pada kuartal II/2017. Namun, hal ini masih menunjukkan angka yang stabil.
(Baca: Ekonomi Indonesia Semester I/2017 Tumbuh 5,01% )
Dia menjelaskan, untuk konsumsi swasta terpantau tetap lambat, dan harga komoditas yang rendah berdampak negatif pada ekonomi. "BPS melaporkan bahwa PDB Indonesia stabil 5,01% pada April-Juni, namun pasar kecewa karena pertumbuhan tidak berubah dari kuartal pertama," kata dia dalam rilisnya, Jakarta, Rabu (9/8/2017).
Meskipun konsumsi swasta yang berkontribusi lebih dari 50% terhadap PDB Indonesia tumbuh sedikit lebih cepat pada kuartal II dengan laju 4.95%, namun tetap lebih lambat dibanding satu tahun lalu.
"Pertumbuhan ekonomi stagnan pada kuartal kedua sehingga spekulasi sepertinya akan meningkat mengenai kemungkinan Bank Indonesia kembali mengadopsi kecenderungan melakukan pelonggaran untuk mendukung pertumbuhan ekonomi," tuturnya.
Sementara, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia pada Senin, usai BPS melaporkan angaka pertumbuhan, berada di area merah karena data pertumbuhan yang tidak bergairah. Rupiah juga sedikit melemah terhadap USD.
"Selain itu, perhatian investor akan tertuju pada laporan keyakinan konsumen yang dijadwalkan untuk dirilis pada Selasa dan diharapkan dapat memberi gambaran lebih lanjut tentang kondisi ekonomi negara ini. Peningkatan keyakinan konsumen Juli yang melampaui ekspektasi dapat mengangkat IHSG pada hari itu," ujar dia.
(Baca: Ekonomi Indonesia Semester I/2017 Tumbuh 5,01% )
Dia menjelaskan, untuk konsumsi swasta terpantau tetap lambat, dan harga komoditas yang rendah berdampak negatif pada ekonomi. "BPS melaporkan bahwa PDB Indonesia stabil 5,01% pada April-Juni, namun pasar kecewa karena pertumbuhan tidak berubah dari kuartal pertama," kata dia dalam rilisnya, Jakarta, Rabu (9/8/2017).
Meskipun konsumsi swasta yang berkontribusi lebih dari 50% terhadap PDB Indonesia tumbuh sedikit lebih cepat pada kuartal II dengan laju 4.95%, namun tetap lebih lambat dibanding satu tahun lalu.
"Pertumbuhan ekonomi stagnan pada kuartal kedua sehingga spekulasi sepertinya akan meningkat mengenai kemungkinan Bank Indonesia kembali mengadopsi kecenderungan melakukan pelonggaran untuk mendukung pertumbuhan ekonomi," tuturnya.
Sementara, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia pada Senin, usai BPS melaporkan angaka pertumbuhan, berada di area merah karena data pertumbuhan yang tidak bergairah. Rupiah juga sedikit melemah terhadap USD.
"Selain itu, perhatian investor akan tertuju pada laporan keyakinan konsumen yang dijadwalkan untuk dirilis pada Selasa dan diharapkan dapat memberi gambaran lebih lanjut tentang kondisi ekonomi negara ini. Peningkatan keyakinan konsumen Juli yang melampaui ekspektasi dapat mengangkat IHSG pada hari itu," ujar dia.
(izz)
Lihat Juga :