Sektor Manufaktur Mencari Kejelasan Hak-hak Pekerja UE

Selasa, 29 Agustus 2017 - 16:19 WIB
Sektor Manufaktur Mencari...
Sektor Manufaktur Mencari Kejelasan Hak-hak Pekerja UE
A A A
LONDON - Sektor manufaktur memperingatkan bakal terjadi kelangkaan perekrutan, apabila tidak bisa lagi mempekerjakan tenaga kerja asal Uni Eropa (UE) setelah Brexit. Asosiasi perdagangan EEF mengatakan pemerintah harus menjelaskan hak-hak pekerja EU, bahkan sebagian dari mereka menerangkan ini hal yang urgen.

Seperti dilansir BBC, Selasa (29/8/2017) diterangkan seperempat dari 243 perusahaan yang telah disurvei berencana lebih condong ke dalam Uni Eropa dan bakal meninggalkan bisnis mereka di Inggris. Seorang juru bicara pemerintah mengutarakan, rencana awal migrasi setelah Brexit dimulai pada musim gugur.

"Sangat jelas akan ada waktu untuk implementasi setelah kami pergi dari Uni Eropa untuk menghindari efek besar ke bisnis. Pada bulan Juni kami menerbitkan penawaran untuk melindungi hak-hak warga negara Uni Eropa di Inggris," terang salah satu juru bicara pemerintah.

Sambung dia juga dikonfirmasi bagi mereka yang tinggal di Inggris akan diminta untuk meninggalkan, saat keluar dari Uni Eropa. Meski begitu mereka memiliki masa tenggang untuk meregulasi statusnya. Kondisi tersebut diyakini bakal menahan pertumbuhan dan terimbas kepada produsen di sektor manufaktur.

Dua pertiga dari perusahaan mempekerjakan tenaga dari Uni Eropa, lantaran kurangnya pelamar dari Inggris dan sepertiga lagi karena tidak bisa mendapatkan keterampilan yang diperlukan di Inggris, berdasarkan hasil dalam survei EEF.

Direktur pekerjaan dan keterampilan EEF Tim Thomas mengatakan, mencegah industri dari mempekerjakan tenaga terampil dari UE bisa menahan pertumbuhan dan merusak industri Inggris hingga dikhawatirkan berimbas ke perekonomian Inggris secara keseluruhan. "Sebagai prioritas, pemerintah harus memperjelas timbal balik hak warga negara Uni Eropa di Inggris dan warga negara British yang saat ini bekerja di anggota Uni Eropa lainnya," tambahnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Menanti Gebrakan Ekonomi...
Menanti Gebrakan Ekonomi PM Inggris Rishi Sunak
Keuangan Inggris Terburuk...
Keuangan Inggris Terburuk Sejak 1945, Menkeu Baru Rachel Reeves Salahkan Pendahulunya
Ekonomi Inggris di Ambang...
Ekonomi Inggris di Ambang Kolaps, Krisis 1976 Bakal Terulang?
Inggris Masih Resesi,...
Inggris Masih Resesi, Ekonominya Minus 9,6 Persen pada Kuartal III
5 Fakta Resesi Ekonomi...
5 Fakta Resesi Ekonomi Inggris dan Apa Saja Dampaknya
Ekonomi Inggris Jatuh...
Ekonomi Inggris Jatuh ke Dalam Resesi pada Akhir 2023
Berita Terkini
Bank Mandiri Taspen...
Bank Mandiri Taspen Komitmen Dukung Ekonomi Nasabah Pensiunan lewat Toko Aice Manado
3 menit yang lalu
Dirut Pertamina Patra...
Dirut Pertamina Patra Niaga Pastikan Layanan SPBU di Palembang Optimal
27 menit yang lalu
Lokasi PFII Belum Final,...
Lokasi PFII Belum Final, Purbaya: Nanti yang Nentuin Menteri Keuangan
35 menit yang lalu
Permintaan Hunian Tetap...
Permintaan Hunian Tetap Tinggi, Alam Sutera Kembangkan Kawasan Residensial Baru
58 menit yang lalu
Tak Hanya di Bali, PFII...
Tak Hanya di Bali, PFII Juga Akan Dibangun di Jakarta
1 jam yang lalu
SPKS Dorong Riset BPDP...
SPKS Dorong Riset BPDP Hasilkan Teknologi Murah untuk Petani Sawit
1 jam yang lalu
Infografis
Usia Pensiun Pekerja...
Usia Pensiun Pekerja di Indonesia Naik Jadi 59 Tahun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved