Pengamat Ramal Ekonomi RI Tahun Ini Paling Banter Tumbuh 5%
Kamis, 07 Desember 2017 - 21:01 WIB
Pengamat Ramal Ekonomi RI Tahun Ini Paling Banter Tumbuh 5%
A
A
A
JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Indonesia, sepanjang 2017 diprediksi hanya mampu tumbuh 5% atau paling rendah berada di level 4,9%. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan prediksi Bank Indonesia (BI) di angka 5,1%.
"Banyak yang bilang saya pesimis. Padahal saya optimistis mengenai pertumbuhan ekonomi yang diangka 5%. Kenapa tidak di atas 5%? Di sini saya melihat dari faktor-faktor yang sifatnya struktural. Boleh kita berharap, tetapi sadarilah ada faktor-faktor yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Kalau saya mengedepankan stabilitas," kata Ekonom senior Indef Faisal Basri usai paparan Indonesia Economic and Financial Sector Outlook (IEFSO) 2018 di Jakarta, Kamis (7/12/2017).
Sementara pada 2018 yang merupakan tahun politik juga menurutnya tidak terlalu berpengaruh terhadap kinerja pertumbuhan ekonomi. Justru, tahun depan akan sedikit lebih baik dibanding 2017 dengan mempertimbangkan dukungan belanja pemerintah dan juga private consumption yang biasanya cenderung meningkat mendekati periode pemilu.
"Di Indonesia, setiap tahun adalah tahun politik, sudah di-priced-in dan demokrasi kita lebih dewasa. Jadi tidak berpengaruh terhadap prediksi-prediksi saya," jelasnya.
Dia memperkirakan, pada 2018 pertumbuhan ekonomi hanya akan tumbuh sekitar 5,1% atau lebih baik dibanding prediksi 2017 yang hanya 5%. Tahun ini merupakan tahun pembelajaran berharga bagi pemerintahan Jokowi-JK, sehingga nantinya, Presiden Jokowi sadar bahwa pembangunan infrastruktur tidak bisa ugal-ugalan.
Dia juga mencontohkan, seperti pembangunan LRT yang menelan biaya banyak namun dananya belum jelas. Terlebih, disuruh bangun terlebih dahulu tanpa adanya kontrak namun di tengah jalan mengubah sistem, sehingga dananya menggelembung bertambah mencapai Rp6 triliun.
"Kalau sudah begini jadi repot semua, mengelola negara tidak bisa seperti ini," cetus Faisal.
Sebenarnya, lanjut dia, saat ini merupakan waktu yang tepat bagi Indonesia melakukan penguatan seperti konsolidasi perusahaan-perusahaan sehingga menjadi kuat. Dengan demikian, pada 2019 dunia usaha Indonesia menjadi cerah, tidak pucat, dan bisa bersaing di forum internasional.
"Jadi pesan saya, jangan defensif. Kita harus yakin kita punya daya saing karena Indonesia memiliki SDM dan SDA yang memadai," imbuhnya.
Ekonom sekaligus Ketua Program Studi Manajemen dan Manajer Program Kerja sama HSBC-PSF di Fakultas Bisnis Sampoerna University Wahyoe Soedarmono menuturkan, pada 2018 masih akan menjadi tahun yang dibayangi ketidakpastian ekonomi global meski pertumbuhan ekonomi diprediksi meningkat.
Hal itu akan mendorong peningkatan defisit neraca transaksi berjalan, sehingga menyebabkan instabilitas makroekonomi, mengingat struktur modal asing yang masuk ke Indonesia masih didominasi investasi portofolio jangka pendek daripada investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI).
Selain itu, dari sisi domestik pertumbuhan utang luar negeri dari pemerintah juga menunjukkan tren peningkatan. Pertumbuhan utang luar negeri pemerintah mencapai posisi tertinggi, yaitu 46% selama 2015-2017. Disusul utang luar negeri sektor swasta selain institusi keuangan (36%) di periode yang sama.
Wahyoe menuturkan, peningkatan utang luar negeri ini mempunyai dua implikasi penting. Di satu sisi, ruang fiskal akan meningkat, sehingga mendorong belanja pemerintah untuk infrastruktur dan sektor produktif lainnya sehingga mendorong investasi swasta dan pertumbuhan ekonomi.
Namun di sisi lain, peningkatan utang luar negeri pemerintah dapat meningkatkan suku bunga, sehingga menghambat investasi sektor swasta (efek 'crowding-out').
Head of Global Markets PT Bank HSBC Indonesia Ali Setiawan menambahkan, meski bisa dilihat dari intermediasi kredit yang belum maksimal menunjukkan siklus pemulihan yang masih lambat. Namun, fundamental ekonomi telah membaik, terutama di bidang ekspor dan ekspektasi peningkatan belanja pemerintah untuk social welfare.
"Untuk itu diperlukan beberapa dukungan kebijakan lebih lanjut untuk mewujudkan potensi pertumbuhan Indonesia," kata Ali.
Dia juga memproyeksi, pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai sebesar 5,17%-5,24% pada 2017 dan 5,3%-5,4% pada 2018. Sementara itu, inflasi di kisaran 3,0%-4,0% dan suku bunga riil di level 10%.
"Banyak yang bilang saya pesimis. Padahal saya optimistis mengenai pertumbuhan ekonomi yang diangka 5%. Kenapa tidak di atas 5%? Di sini saya melihat dari faktor-faktor yang sifatnya struktural. Boleh kita berharap, tetapi sadarilah ada faktor-faktor yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Kalau saya mengedepankan stabilitas," kata Ekonom senior Indef Faisal Basri usai paparan Indonesia Economic and Financial Sector Outlook (IEFSO) 2018 di Jakarta, Kamis (7/12/2017).
Sementara pada 2018 yang merupakan tahun politik juga menurutnya tidak terlalu berpengaruh terhadap kinerja pertumbuhan ekonomi. Justru, tahun depan akan sedikit lebih baik dibanding 2017 dengan mempertimbangkan dukungan belanja pemerintah dan juga private consumption yang biasanya cenderung meningkat mendekati periode pemilu.
"Di Indonesia, setiap tahun adalah tahun politik, sudah di-priced-in dan demokrasi kita lebih dewasa. Jadi tidak berpengaruh terhadap prediksi-prediksi saya," jelasnya.
Dia memperkirakan, pada 2018 pertumbuhan ekonomi hanya akan tumbuh sekitar 5,1% atau lebih baik dibanding prediksi 2017 yang hanya 5%. Tahun ini merupakan tahun pembelajaran berharga bagi pemerintahan Jokowi-JK, sehingga nantinya, Presiden Jokowi sadar bahwa pembangunan infrastruktur tidak bisa ugal-ugalan.
Dia juga mencontohkan, seperti pembangunan LRT yang menelan biaya banyak namun dananya belum jelas. Terlebih, disuruh bangun terlebih dahulu tanpa adanya kontrak namun di tengah jalan mengubah sistem, sehingga dananya menggelembung bertambah mencapai Rp6 triliun.
"Kalau sudah begini jadi repot semua, mengelola negara tidak bisa seperti ini," cetus Faisal.
Sebenarnya, lanjut dia, saat ini merupakan waktu yang tepat bagi Indonesia melakukan penguatan seperti konsolidasi perusahaan-perusahaan sehingga menjadi kuat. Dengan demikian, pada 2019 dunia usaha Indonesia menjadi cerah, tidak pucat, dan bisa bersaing di forum internasional.
"Jadi pesan saya, jangan defensif. Kita harus yakin kita punya daya saing karena Indonesia memiliki SDM dan SDA yang memadai," imbuhnya.
Ekonom sekaligus Ketua Program Studi Manajemen dan Manajer Program Kerja sama HSBC-PSF di Fakultas Bisnis Sampoerna University Wahyoe Soedarmono menuturkan, pada 2018 masih akan menjadi tahun yang dibayangi ketidakpastian ekonomi global meski pertumbuhan ekonomi diprediksi meningkat.
Hal itu akan mendorong peningkatan defisit neraca transaksi berjalan, sehingga menyebabkan instabilitas makroekonomi, mengingat struktur modal asing yang masuk ke Indonesia masih didominasi investasi portofolio jangka pendek daripada investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI).
Selain itu, dari sisi domestik pertumbuhan utang luar negeri dari pemerintah juga menunjukkan tren peningkatan. Pertumbuhan utang luar negeri pemerintah mencapai posisi tertinggi, yaitu 46% selama 2015-2017. Disusul utang luar negeri sektor swasta selain institusi keuangan (36%) di periode yang sama.
Wahyoe menuturkan, peningkatan utang luar negeri ini mempunyai dua implikasi penting. Di satu sisi, ruang fiskal akan meningkat, sehingga mendorong belanja pemerintah untuk infrastruktur dan sektor produktif lainnya sehingga mendorong investasi swasta dan pertumbuhan ekonomi.
Namun di sisi lain, peningkatan utang luar negeri pemerintah dapat meningkatkan suku bunga, sehingga menghambat investasi sektor swasta (efek 'crowding-out').
Head of Global Markets PT Bank HSBC Indonesia Ali Setiawan menambahkan, meski bisa dilihat dari intermediasi kredit yang belum maksimal menunjukkan siklus pemulihan yang masih lambat. Namun, fundamental ekonomi telah membaik, terutama di bidang ekspor dan ekspektasi peningkatan belanja pemerintah untuk social welfare.
"Untuk itu diperlukan beberapa dukungan kebijakan lebih lanjut untuk mewujudkan potensi pertumbuhan Indonesia," kata Ali.
Dia juga memproyeksi, pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai sebesar 5,17%-5,24% pada 2017 dan 5,3%-5,4% pada 2018. Sementara itu, inflasi di kisaran 3,0%-4,0% dan suku bunga riil di level 10%.
(izz)
Lihat Juga :