Pencabutan Subsidi Timbulkan Tingkat Konsumsi Masyarakat Loyo

Kamis, 14 Desember 2017 - 16:03 WIB
Pencabutan Subsidi Timbulkan...
Pencabutan Subsidi Timbulkan Tingkat Konsumsi Masyarakat Loyo
A A A
SEMARANG - Pertumbuhan ekonomi di Indonesia saat ini masih cukup tinggi, namun tingkat pendapatan ekonomi masyarakat tidak mengalami peningkatan. Bahkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia justru memunculkan tingkat konsumsi masyarakat yang semakin turun.

Penyebab utamanya antara lain, dicabutnya subsidi hingga dialihkannya prioritas pembangunan untuk infrastruktur.

"Semakin banyak subsidi yang dicabut, mengakibatkan tingkat konsumsi masyarakat yang semakin turun, sehingga masyarakat akan mengeluarkan biaya untuk yang benar-benar dibutuhkan," kata Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), Hardiwinoto dalam Diskusi Prime Topic on Campus yang digelar MNC Trijaya FM Semarang, bertema "Pertumbuhan Ekonomi Untuk Siapa?" di Ruang NRC Kampus Unimus, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (14/12/2017).

Selain itu, lanjut dia, pembangunan infrastruktur juga lebih banyak menyerap tenaga kerja asing daripada tenaga dalam negeri. "Hal tersebut yang juga memicu tingkat konsumsi masyarakat menurun, dan tidak sebanding dengan pertumbuhan ekonomi," imbuhnya.

Ketua Komisi B DPRD Jawa Tengah, M Chamim Irfani menyatakan, prioritas pembangunan infrastruktur menjadi salah satu penyebab tingkat pendapatan ekonomi masyarakat tidak mengalami peningkatan.

"Padahal tujuannya untuk menaikkan aktivitas ekonomi. Namun, infrastruktur justru lebih banyak mengambil alih lahan pertanian. Sedangkan masyarakat di Jawa Tengah misalnya, lebih banyak bekerja sebagai petani, dan mayoritas hanya memiliki lahan di bawah setengah hektare," tutur Chamim.

Menurutnya, jika petani tidak memiliki lahan pertanian lagi atau hasil pertanian dikuasai tengkulak, maka yang terjadi justru angka kemiskinan semakin tinggi. Saat ini ekonomi Indonesia tumbuh 5,06% dan di Jawa Tengah angkaya lebih tinggi, yaitu 5,13%.

"Akan tetapi angka kemiskinan di Jawa Tengah 13,19%, lebih tinggi dari nasional sebesar 10,08%. Penyebabnya adalah terlalu fokus pada pembangunan infrastruktur dan berimbas pada sektor pertanian, karena mayoritas masyarakat kita sebagai petani," jelas dia.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Daya Beli Nelayan Jawa...
Daya Beli Nelayan Jawa Timur pada September Turun 2,08 Persen
Aliansi Kebangsaan Ingatkan...
Aliansi Kebangsaan Ingatkan Daya Beli Nasional Harus Dikelola dengan Baik
Deflasi 4 Bulan Beruntun, Berpotensi...
Deflasi 4 Bulan Beruntun, Berpotensi Timbulkan Lingkaran Setan Perlambatan ekonomi
Daya Beli Turun Saat...
Daya Beli Turun Saat Lebaran 2025, Mal Ramai Tapi Minim yang Belanja
Daya Beli Masyarakat...
Daya Beli Masyarakat Berkurang, Omzet Pedagang Pasar Tradisional Menurun
Daya Beli Masyarakat...
Daya Beli Masyarakat Membaik, Adira Finance Catatkan Kinerja Positif per September 2022
Berita Terkini
Respons Purbaya soal...
Respons Purbaya soal Tren Sell Indonesia: Kita Tak Sedang Menuju Seperti 1998 Lagi
1 jam yang lalu
MNC Sekuritas & KSPM...
MNC Sekuritas & KSPM GI Universitas Pelita Bangsa Gelar Seminar Pasar Modal
2 jam yang lalu
Ukir Sejarah, BPS-PT...
Ukir Sejarah, BPS-PT Pos Indonesia Luncurkan Sampul Peringatan Edisi Khusus Sensus Ekonomi 2026
3 jam yang lalu
K-SIGN KKP di Rote Ndao...
K-SIGN KKP di Rote Ndao NTT, RI Bersiap Swasembada Garam Industri
5 jam yang lalu
Diserbu 3.800 Pengunjung,...
Diserbu 3.800 Pengunjung, PINDEX 2026 Disambut Antusias
5 jam yang lalu
Purbaya Desak Seluruh...
Purbaya Desak Seluruh Transaksi di Pelabuhan Pakai Rupiah: Kalau Ada Dolar, Saya Hajar!
5 jam yang lalu
Infografis
Kemenkes Imbau Masyarakat...
Kemenkes Imbau Masyarakat Waspada, Virus HMPV Merebak di China
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved