Harga Minyak Naik Tipis Meski Produksi AS Mulai Menguat
Jum'at, 15 Desember 2017 - 11:31 WIB
Harga Minyak Naik Tipis Meski Produksi AS Mulai Menguat
A
A
A
SINGAPURA - Pasar minyak naik tipis pada Jumat (15/12/2017) akibatnya pecahnya aliran pipa di Laut Utara dan penurunan produksi OPEC. Sementara itu, produksi minyak Amerika Serikat mulai mengalami kenaikan.
Melansir dari Reuters, harga minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) naik 9 sen menjadi USD57,13 per barel pada pukul 01:19 GMT. Sementara itu, harga minyak Brent International naik 4 sen menjadi USD63,35 per barel.
Pedagang mengatakan reli harga minyak merupakan upaya OPEC dan Rusia yang menahan pasokan guna menopang harga si emas hitam. Pemadaman pipa Forties yang terus berlanjut, dimana membawa minyak Laut Utara ke Inggris, membuat harga minyak dunia kembali menguat. Pasalnya persediaan minyak di seluruh dunia secara bertahap mulai turun.
"Pemangkasan produksi membuat kami yakin bahwa fundamental harga minyak untuk jangka panjang mengarah ke arah yang benar," kata Bernstein Research. Mereka memperkirakan harga Brent rata-rata USD56 per barel pada 2018, dan bisa menjadi USD60 per barel pada 2019 seiring perpanjangan pemangkasan produksi oleh OPEC.
Sementara itu, perusahaan minyak yang dijuluki Big Oil seperti BP, Royal Dutch Shell, ExxonMobil, Chevron dan Total, merongrong upaya OPEC untuk memperketat pasar dengan meningkatkan produksi minyak AS. Dimana produksi sudah melojak 16% sejak medio 2016, yaitu mencapai 9,78 juta barel per hari, sehingga angka ini mendekati Arab Saudi dan Rusia.
Melansir dari Reuters, harga minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) naik 9 sen menjadi USD57,13 per barel pada pukul 01:19 GMT. Sementara itu, harga minyak Brent International naik 4 sen menjadi USD63,35 per barel.
Pedagang mengatakan reli harga minyak merupakan upaya OPEC dan Rusia yang menahan pasokan guna menopang harga si emas hitam. Pemadaman pipa Forties yang terus berlanjut, dimana membawa minyak Laut Utara ke Inggris, membuat harga minyak dunia kembali menguat. Pasalnya persediaan minyak di seluruh dunia secara bertahap mulai turun.
"Pemangkasan produksi membuat kami yakin bahwa fundamental harga minyak untuk jangka panjang mengarah ke arah yang benar," kata Bernstein Research. Mereka memperkirakan harga Brent rata-rata USD56 per barel pada 2018, dan bisa menjadi USD60 per barel pada 2019 seiring perpanjangan pemangkasan produksi oleh OPEC.
Sementara itu, perusahaan minyak yang dijuluki Big Oil seperti BP, Royal Dutch Shell, ExxonMobil, Chevron dan Total, merongrong upaya OPEC untuk memperketat pasar dengan meningkatkan produksi minyak AS. Dimana produksi sudah melojak 16% sejak medio 2016, yaitu mencapai 9,78 juta barel per hari, sehingga angka ini mendekati Arab Saudi dan Rusia.
(ven)
Lihat Juga :