Data E-Commerce Rampung Februari 2018

Sabtu, 16 Desember 2017 - 12:56 WIB
Data E-Commerce Rampung...
Data E-Commerce Rampung Februari 2018
A A A
JAKARTA - Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian bersama Badan Pusat Statistik (BPS) melakukan sosialisasi pengumpulan data e-commerce. Data ini nantinya dapat dijadikan acuan bersama.

Kegiatan ini didukung Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Perdagangan, serta Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA). Pelaksanaan pengumpulan data e-commerce akan dilakukan Januari 2018. Pemilihan waktu ini didasari agar nilai transaksi Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) 2017 dapat terdata.

Data yang ada akan dikumpulkan, diolah, dan dianalisis langsung oleh BPS, sementara publikasi data tersebut ditargetkan akan dilakukan pada Februari 2018. Plt Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Bambang Adi Winarso mengatakan, pemerintah memerlukan basis data akurat agar kebijakan dan dukungan yang diberikan tepat sasaran. Meski tidak dimungkiri, sampai saat ini belum tersedia data e-commerce yang dapat dijadikan acuan bersama.

"Data e-commerce ini sangat penting, tapi selama ini tidak jelas siapa yang me-record dan apa yang di-record," ujarnya saat membuka Sosialisasi Pengumpulan Data e-commerce di Jakarta, Jumat (15/12/2017).

Bambang melanjutkan, data e-commerce yang akurat dapat memberikan manfaat kepada banyak kalangan termasuk pemerintah dalam membuat kebijakan. "E-commerce ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pelaku usaha lokal dan bukan hanya menjadikan Indonesia sebagai pasar, sehingga pemetaan mengenai kondisi dan potensi UMKM online juga diperlukan," jelasnya.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, data yang bakal direkam BPS mencakup transaksi, merchant/seller, unique buyer, investment, metode pembayaran, tenaga kerja, dan teknologi. Adapun data yang direkam berasal dari seluruh anggota idEA 320 dan nonanggota berdasarkan sembilan model bisnis, yaitu marketplace, classified horizontal, classified vertical, travel, transportasi, specialty store, daily deals, logistik, dan payment.

"Data-data yang nanti diserahkan ke BPS akan dijamin kerahasiaannya. Selain itu, BPS juga tidak akan mengeluarkan data individu dari konsumen data," ujarnya.

Suhariyanto menjelaskan, pengumpulan data e-commerce sudah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1997 tentang Statistik. Adapun data yang akan dipublikasikan akan berupa data agregat. "Kalau datanya sudah selesai, kita akan undang pelaku e-commerce. Data ini akan bermanfaat bagi mereka untuk melihat tren yang diminati konsumen sehingga mereka bisa memperbaiki strategi ke depannya," jelasnya.

Dia menuturkan, data yang diambil nantinya berdasarkan rentang waktu per triwulan untuk tahun 2015 dan 2016, serta per bulan untuk 2017. "Ini baru tahap pertama dalam rangka menyusun peta jalan e-commerce, tapi setidaknya kita mulai melangkah," ungkapnya.

Ketua Bidang Ekonomi dan Bisnis idEA Ignatius Untung mengatakan, data e-commerce tidak bisa dianggap enteng mengingat kontribusinya terus meningkat terhadap ekonomi nasional. "Kalau pemerintah tidak punya data, kemudian e-commerce tumbuh atau jatuhnya tidak terprediksi, itu akan membahayakan ekonomi nasional," ujarnya.

Dia mengungkapkan, kesulitan terbesar dalam pengumpulan data e-commerce selama ini disebabkan sebagian besar perusahaan e-commerce bukan perusahaan publik. "Mereka perusahaan yang belum terbuka, masih privat. Jadi belum punya kewajiban menerbitkan data. Kemudian, data itu amat sakral untuk mencari next funding," ungkapnya.
(amm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BPS Catat Inflasi November...
BPS Catat Inflasi November Sebesar 0,38 persen
Kepala BPS RI Siapkan...
Kepala BPS RI Siapkan Sensus Pertanian dan Canangkan Desa Cantik di Pangkep
Jumlah Orang Indonesia...
Jumlah Orang Indonesia Bepergian ke Luar Negeri Naik 55 Persen
Tumbuh 53 Persen, Oktober...
Tumbuh 53 Persen, Oktober 2021 Ekspor RI Capai Rp312 Triliun
BPS: Impor Indonesia...
BPS: Impor Indonesia Naik 1,64% di Juli 2022
Angka Kemiskinan dan...
Angka Kemiskinan dan Pengangguran di Natuna Naik, Ini Penyebabnya
Berita Terkini
Prabowo Targetkan Pangkas...
Prabowo Targetkan Pangkas 1.000 BUMN Jadi Tinggal Tersisa 250
1 jam yang lalu
Pahami Prosedur Pemisahan...
Pahami Prosedur Pemisahan dah Pecah Sertifikat Tanah, Berikut Syaratnya
1 jam yang lalu
Potongan Aplikator 8%...
Potongan Aplikator 8% Hanya untuk Ojol Bukan Taksi Online, Begini Kata Menhub
2 jam yang lalu
Rencana Batasan Tar-Nikotin...
Rencana Batasan Tar-Nikotin dan Penyeragaman Kemasan Dinilai Ancam Industri Kretek Nasional
2 jam yang lalu
Bandara Husein Sastranegara...
Bandara Husein Sastranegara Dibuka Lagi, Bagaimana Nasib Kertajati?
4 jam yang lalu
Ekspor Batu Bara Dibuka...
Ekspor Batu Bara Dibuka Lagi, Pasokan 141 Juta Metrik Ton Diamankan demi Cegah Pemadaman Listrik
5 jam yang lalu
Infografis
Sensus Ekonomi 2026:...
Sensus Ekonomi 2026: Data untuk Memperkuat UMKM dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved