Harga Minyak WTI Tembus Level Tertinggi sejak 2015

Jum'at, 29 Desember 2017 - 09:51 WIB
Harga Minyak WTI Tembus...
Harga Minyak WTI Tembus Level Tertinggi sejak 2015
A A A
SINGAPURA - Harga minyak Amerika Serikat (AS) mencapai tingkat tertinggi sejak pertengahan 2015 pada perdagangan terakhir tahun ini. Hal ini tak lepas dari jatuhnya produksi Amerika yang tak terduga, serta penurunan persediaan minyak mentah komersial dan memicu pembelian.

Seperti dikutip dari Reuters, Jumat (29/12/2017), di pasar internasional, harga minyak mentah brent berjangka juga naik, didukung oleh terputusnya pasokan oleh produsen utama OPEC dan Rusia.

Harga minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) berada di level USD60,16 per barel pada pukul 02.10 GMT, naik 33 sen atau 0,5% dari penutupan terakhir mereka. Kenaikan tersebut membuat WTI mencapai level tertingginya sejak Juni 2015 pada hari perdagangan terakhir 2017.

Harga minyak Brent sebagai patokan harga minyak internasional juga naik, naik 33 sen atau 0,5% ke level USD66,49 per barel. Brent menembus level USD67 pada awal pekan ini untuk pertama kalinya sejak Mei 2015.

Kenaikan harga didorong oleh penurunan produksi minyak AS yang mengejutkan, yang pekan lalu turun menjadi 9,754 juta barel per hari (bpd), turun dari 9.789 juta bpd pekan sebelumnya, menurut data dari Administrasi Informasi Energi (EIA) yang dirilis kemarin.

Produksi AS masih naik hampir 16% sejak pertengahan 2016, namun sebagian besar analis memperkirakan produksi akan menembus 10 juta bph pada akhir tahun ini, tingkat yang hanya diungguli oleh eksportir utama Arab Saudi dan produsen utama Rusia.

Harga WTI selanjutnya didorong oleh penurunan tingkat penyimpanan minyak mentah AS yang turun sebesar 4,6 juta barel hingga 22 Desember menjadi 431,9 juta barel, menurut AMDAL.

Persediaan sekarang turun hampir 20% dari puncak tertinggi pada Maret lalu, dan jauh di bawah tahun ini, tahun lalu atau pada 2015.

Di pasar internasional, harga brent telah didukung oleh pengurangan produksi selama setahun yang dipimpin oleh Organisasi Pengekspor Minyak (OPEC) yang didominasi Timur Tengah dan Rusia. Pemotongan dimulai Januari lalu dan dijadwalkan hingga 2018.

Pemadaman pipa di Libya dan Laut Utara juga telah mendukung harga minyak, meskipun kedua gangguan ini diperkirakan akan diselesaikan pada awal Januari.

Konsultasi JBC Energy mengatakan bahwa pemadaman pipa Libya telah tidak berdampak besar pada ekspor. Menuju 2018, para pelaku pasar mengatakan kondisi pasar relatif ketat karena pertumbuhan permintaan yang sehat dan pengurangan pasokan OPEC dan Rusia.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Stok Seret Bikin Harga...
Stok Seret Bikin Harga Minyak Mentah Dunia Terkerek Naik
Amerika Buka Pembatasan,...
Amerika Buka Pembatasan, Harga Minyak Akan Terus Naik
Harga Minyak Ambrol...
Harga Minyak Ambrol 9% dalam Sepekan, Minggu Depan Gimana?
Harga Minyak Mentah...
Harga Minyak Mentah Dunia Melayang Dekati Posisi USD70 Per Barel
OPEC Bakal Jaga Harga...
OPEC Bakal Jaga Harga Minyak Mentah Dunia di Posisi USD70 per Barel
Tumbuh 173%, Komoditas...
Tumbuh 173%, Komoditas Minyak Mentah Jadi Primadona di 2021
Berita Terkini
Harga Emas Hari Ini...
Harga Emas Hari Ini Berbalik Merayap Naik Rp3 Ribu per Gram, Intip Rincian Lengkapnya
1 jam yang lalu
DJP Gandeng Babinsa...
DJP Gandeng Babinsa dan Bhabinkamtibmas Awasi Pajak: Hanya Pendamping, Tak Perlu Khawatir
1 jam yang lalu
60 Negara Jadi Sasaran...
60 Negara Jadi Sasaran Tarif Baru Trump, Termasuk Sekutu Dekat AS!
2 jam yang lalu
Diplomasi Sawit Perlu...
Diplomasi Sawit Perlu Diperkuat untuk Jaga Daya Saing Ekspor
11 jam yang lalu
Perang AS-Iran Kian...
Perang AS-Iran Kian Sengit, ASEAN Wanti-wanti Krisis Pangan dan Energi
12 jam yang lalu
Garudafood Resmikan...
Garudafood Resmikan Rumah Maggot di Depok, Kelola 100 Ton Sampah Organik Jadi Nilai Ekonomi
12 jam yang lalu
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved