Akhir Tahun, Harga Minyak Mendekati USD70/Barel
Sabtu, 30 Desember 2017 - 14:37 WIB
Akhir Tahun, Harga Minyak Mendekati USD70/Barel
A
A
A
HOUSTON - Harga minyak Amerika Serikat naik di atas USD60 per barel pada perdagangan terakhir tahun 2017, Sabtu (30/12/2017). Ini merupakan tingkat tertinggi sejak medio 2015. Penyebabnya penurunan produksi Amerika yang tidak terduga dan penurunan persediaan minyak mentah komersial.
Harga minyak mentah Brent International juga naik, akibat pemangkasan pasokan oleh produsen utama OPEC dan Rusia, serta permintaan kuat dari China. Melansir dari CNBC, impor minyak China saat ini sekitar 8,5 juta barel per hari, menjadikan mereka importir minyak terbesar di dunia. Dan diperkirakan akan semakin menguat di 2018.
Menjelang tutup tahun 2017, harga si emas hitam mulai menunjukkan tanda-tanda penguatan seiring menyusutnya kelebihan pasokan minyak di pasar global sejak 2014. Sepanjang tahun ini, Brent naik lebih dari 17% dan harga minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) naik 12,5%.
Pada perdagangan Sabtu ini, harga WTI naik 58 sen atau 1% menjadi USD60,42 per barel, harga penutupan terbaik sejak Juni 2015. Harga Brent naik 76 sen atau 1,2% menjadi USD66,92 per barel pada pukul 14:25 ET. Brent menembus USD67 per barel awal pekan ini, harga terbaik sejak Mei 2015.
Kenaikan harga WTI ditopang data dari Administrasi Informasi Energi AS pada hari Kamis yang menunjukkan penurunan produksi minyak domestik menjadi 9,75 juta barel per hari, dimana pekan sebelumnya adalah 9,79 juta barel. "Tren (kenaikan harga minyak) kemungkinan akan berlanjut hingga 2018 dan persediaan minyak di dunia akan terus menurun," ujar Andrew Lipow, presiden Lipow Oil Associates di Houston, Texas, AS.
Lipow memperkirakan harga minyak mentah AS akan merayap hingga sekitar USD63 per barel pada tahun depan, sementara Brent akan bertahan sekitar USD67 per barel karena ekspor minyak AS naik ke tingkat rekor. Pemangkasan produksi oleh OPEC dan Rusia, telah membuat AS mengambil pasar ekspor dengan menggenjot produksi naik 16% sejak pertengahan 2016.
Jumlah rig minyak yang beroperasi di lapangan minyak AS, menurut perusahaan jasa ladang minyak Baker Hughes, tetap tidak berubah selama dua pekan berturut-turut yaitu 747 rig minyak. Analis memperkirakan produksi minyak AS akan mencapai 10 juta barel per hari dalam beberapa pekan ke depan dan terus meningkat, untuk mengimbangi usaha OPEC yang membatasi produksi.
Harga minyak mentah Brent International juga naik, akibat pemangkasan pasokan oleh produsen utama OPEC dan Rusia, serta permintaan kuat dari China. Melansir dari CNBC, impor minyak China saat ini sekitar 8,5 juta barel per hari, menjadikan mereka importir minyak terbesar di dunia. Dan diperkirakan akan semakin menguat di 2018.
Menjelang tutup tahun 2017, harga si emas hitam mulai menunjukkan tanda-tanda penguatan seiring menyusutnya kelebihan pasokan minyak di pasar global sejak 2014. Sepanjang tahun ini, Brent naik lebih dari 17% dan harga minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) naik 12,5%.
Pada perdagangan Sabtu ini, harga WTI naik 58 sen atau 1% menjadi USD60,42 per barel, harga penutupan terbaik sejak Juni 2015. Harga Brent naik 76 sen atau 1,2% menjadi USD66,92 per barel pada pukul 14:25 ET. Brent menembus USD67 per barel awal pekan ini, harga terbaik sejak Mei 2015.
Kenaikan harga WTI ditopang data dari Administrasi Informasi Energi AS pada hari Kamis yang menunjukkan penurunan produksi minyak domestik menjadi 9,75 juta barel per hari, dimana pekan sebelumnya adalah 9,79 juta barel. "Tren (kenaikan harga minyak) kemungkinan akan berlanjut hingga 2018 dan persediaan minyak di dunia akan terus menurun," ujar Andrew Lipow, presiden Lipow Oil Associates di Houston, Texas, AS.
Lipow memperkirakan harga minyak mentah AS akan merayap hingga sekitar USD63 per barel pada tahun depan, sementara Brent akan bertahan sekitar USD67 per barel karena ekspor minyak AS naik ke tingkat rekor. Pemangkasan produksi oleh OPEC dan Rusia, telah membuat AS mengambil pasar ekspor dengan menggenjot produksi naik 16% sejak pertengahan 2016.
Jumlah rig minyak yang beroperasi di lapangan minyak AS, menurut perusahaan jasa ladang minyak Baker Hughes, tetap tidak berubah selama dua pekan berturut-turut yaitu 747 rig minyak. Analis memperkirakan produksi minyak AS akan mencapai 10 juta barel per hari dalam beberapa pekan ke depan dan terus meningkat, untuk mengimbangi usaha OPEC yang membatasi produksi.
(ven)
Lihat Juga :