Harga Minyak Stabil di USD60/Barel, Level Tertinggi Sejak 2015
Rabu, 03 Januari 2018 - 11:32 WIB
Harga Minyak Stabil di USD60/Barel, Level Tertinggi Sejak 2015
A
A
A
SINGAPURA - Harga minyak pada perdagangan Rabu (3/1/2018) stabil di level sekitar USD60 per barel, tidak jauh dari level tertinggi pertengahan tahun 2015. Hal ini seiring permintaan yang kuat di pasar, di sisi lain, OPEC dan Rusia masih melanjutkan pengekangan produksi demi memperketat pasar.
Melansir Reuters, Rabu (3/1/2018), harga minyak mentah berjangka Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI) naik 3 sen menjadi USD60,40 per barel pada pukul 01:41 GMT, mendekati level pada Juni 2015 sebesar USD60,74 per barel.
Harga minyak mentah Brent International turun 2 sen menjadi USD66,55 per barel, namun hampir mendekati level tertinggi pada Mei 2015 sebesar USD67,29 per barel.
Kendati demikian, ada beberapa indikator bahwa pasar telah mengalami overshot pada hari-hari terakhir tahun 2017 dan akan berlanjut pada tahun ini. Pasalnya AS kembali meningkatkan produksinya dan kondisi di Libya yang stabil, serta demonstrasi di Iran akan membuat harga minyak bisa fluktuatif.
Ole Hansen, kepala strategi komoditas di Saxo Bank Denmark memperingatkan soal "banyak gangguan" yang terjadi meski bersifat sementara, seperti di Laut Utara, gangguan pada jaringan pipa di Libya yang dapat teratasi, serta protes terhadap pemerintah di Iran. Hal ini akan membantu membuat harga minyak menjadi spekulatif.
Dengan pemadaman pipa dan demonstrasi di Iran yang sejauh ini belum menunjukkan tanda-tanda terhadap dampak produksi minyaknya, Hansen mengatakan ada potensi penurunan harga minyak di awal 2018, terutama karena meningkatnya produksi AS. "Jadi penurunan harga soal waktu saja sampai AS mencapai target produksi 10 juta barel per hari," ujarnya.
Produksi minyak Negeri Paman Sam telah meningkat hampir 16% sejak pertengahan 2016, menjadi 9,75 juta barel per hari pada akhir tahun lalu. Selain itu ada juga kekhawatiran soal Rusia, dimana produsen minyak besar ini dan salah satu penggerak utama bersama OPEC, akan tidak melanjutkan pemangkasan produksi.
Pasalnya di tahun 2017, secara keseluruhan, produksi minyak Rusia juga meningkat, dengan rata-rata sebesar 10,98 juta barel per hari. Bandingkan dengan tahun 2016 sebesar 10,96 bph dan tahun 2015 sebanyak 10,72 barel per hari.
Selain kedua negara, Hansen menyatakan harga minyak bisa saja turun terkait ekonomi China pada 2018. Jika terjadi perlambatan akan membuat pertumbuhan permintaan menjadi lebih rendah dari perkiraan. Saat ini, China merupakan importir minyak terbesar di dunia.
Melansir Reuters, Rabu (3/1/2018), harga minyak mentah berjangka Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI) naik 3 sen menjadi USD60,40 per barel pada pukul 01:41 GMT, mendekati level pada Juni 2015 sebesar USD60,74 per barel.
Harga minyak mentah Brent International turun 2 sen menjadi USD66,55 per barel, namun hampir mendekati level tertinggi pada Mei 2015 sebesar USD67,29 per barel.
Kendati demikian, ada beberapa indikator bahwa pasar telah mengalami overshot pada hari-hari terakhir tahun 2017 dan akan berlanjut pada tahun ini. Pasalnya AS kembali meningkatkan produksinya dan kondisi di Libya yang stabil, serta demonstrasi di Iran akan membuat harga minyak bisa fluktuatif.
Ole Hansen, kepala strategi komoditas di Saxo Bank Denmark memperingatkan soal "banyak gangguan" yang terjadi meski bersifat sementara, seperti di Laut Utara, gangguan pada jaringan pipa di Libya yang dapat teratasi, serta protes terhadap pemerintah di Iran. Hal ini akan membantu membuat harga minyak menjadi spekulatif.
Dengan pemadaman pipa dan demonstrasi di Iran yang sejauh ini belum menunjukkan tanda-tanda terhadap dampak produksi minyaknya, Hansen mengatakan ada potensi penurunan harga minyak di awal 2018, terutama karena meningkatnya produksi AS. "Jadi penurunan harga soal waktu saja sampai AS mencapai target produksi 10 juta barel per hari," ujarnya.
Produksi minyak Negeri Paman Sam telah meningkat hampir 16% sejak pertengahan 2016, menjadi 9,75 juta barel per hari pada akhir tahun lalu. Selain itu ada juga kekhawatiran soal Rusia, dimana produsen minyak besar ini dan salah satu penggerak utama bersama OPEC, akan tidak melanjutkan pemangkasan produksi.
Pasalnya di tahun 2017, secara keseluruhan, produksi minyak Rusia juga meningkat, dengan rata-rata sebesar 10,98 juta barel per hari. Bandingkan dengan tahun 2016 sebesar 10,96 bph dan tahun 2015 sebanyak 10,72 barel per hari.
Selain kedua negara, Hansen menyatakan harga minyak bisa saja turun terkait ekonomi China pada 2018. Jika terjadi perlambatan akan membuat pertumbuhan permintaan menjadi lebih rendah dari perkiraan. Saat ini, China merupakan importir minyak terbesar di dunia.
(ven)
Lihat Juga :